5 Tanda Cowok Terjebak Blind Loyalty, Terlihat Setia Tapi Merugikan

Blind loyalty terlihat saat seseorang terus membenarkan kesalahan pasangan dan menghindari teguran demi mencegah konflik atau takut kehilangan hubungan.
Tandanya juga mencakup selalu mengikuti keputusan pasangan, mengabaikan kebutuhan pribadi, serta mengeluarkan uang di luar kemampuan untuk memenuhi keinginannya.
Seseorang bisa menyalahkan diri sendiri saat terjadi masalah dan menganggap ucapan menyakitkan sebagai hal biasa, hingga terus memendam rasa demi menjaga hubungan.
Setia kepada pasangan berarti tetap menjaga komitmen dan hubungan, tetapi bukan berarti kamu harus selalu membenarkan semua sikapnya. Bedanya blind loyalty dengan normal loyalty ada pada cara kamu menyikapi pasangan ketika dia melakukan sesuatu yang salah.
Kalau kamu masih bisa mengingatkan, menolak, atau bilang “enggak” ketika memang gak setuju, itu masih termasuk kesetiaan yang wajar. Sebaliknya, jika kamu terus membela dan mengalah hanya karena takut kehilangan pasangan, bisa jadi kamu sudah terjebak blind loyalty. Coba cek lima tandanya berikut ini.
1. Tetap membenarkan pasangan meski kamu tahu dia salah

ilustrasi bersikap tidak tegas (magnific.com/magnific) Kamu tahu persis pasanganmu baru saja bikin ulah atau melanggar janji yang kalian buat. Alih-alih menegur atau mengajaknya bicara, kamu malah mencari alasan untuk memaklumi kesalahannya. Kalimat seperti, “Mungkin dia lagi banyak pikiran,” sering kali jadi tameng, padahal kamu tahu betul kejadian ini bukan yang pertama kalinya.
Sesekali memberi pasangan kesempatan untuk memperbaiki kesalahan tentu bukan masalah. Kalau kamu terus menutup mata hanya karena takut memicu konflik, kamu justru ikut membiarkan kebiasaan buruknya berulang. Setia bukan berarti harus selalu membenarkan apa pun yang dia lakukan, apalagi ketika kamu sendiri tahu dia memang perlu ditegur.
2. Selalu mengikuti keputusannya meski sebenarnya gak setuju

ilustrasi membujuk pasangan yang merajuk (magnific.com/magnific) Pas weekend, kamu sebenarnya pengin me time atau nongkrong bareng teman-teman. Tiba-tiba, pasanganmu minta rencana itu dibatalkan karena ada urusan yang harus dia selesaikan dan minta kamu temani. Meski sebenarnya gak setuju, kamu akhirnya bilang, “Iya, gak apa-apa,” hanya karena gak enak menolak.
Kalau terus-terusan begini, lama-lama kamu jadi terbiasa mengabaikan apa yang sebenarnya kamu mau. Mengalah sesekali sih wajar, tapi kalau ujung-ujungnya kamu cuma bisa manut karena takut dia ngambek, itu bukan kompromi lagi namanya. Hubungan tetap butuh ruang buat kamu menyampaikan keinginan, bukan cuma mengikuti keputusan pasangan.
3. Rela keluar uang di luar kemampuan demi memenuhi keinginannya

ilustrasi cowok khawatir tentang uang (pexels.com/Patricia Bozan) Belum juga pertengahan bulan, dompetmu sudah tipis duluan karena terlalu sering mengikuti keinginan pasangan. Diajak nongkrong di tempat mahal yang sebenarnya berat di kantong tetap kamu iyakan, bahkan kamu sampai rela menalangi urusannya padahal keuanganmu sendiri lagi tiris. Ujung-ujungnya kamu cuma bisa pasrah karena gak enak buat menolak atau takut dicap pelit.
Menyenangkan pasangan itu boleh-boleh saja, asalkan gak sampai menyiksa diri sendiri. Kalau dia beneran sayang dan peduli sama kamu, dia gak bakal tega menuntut ini-itu sampai bikin keuanganmu berantakan. Jadi, stop merasa bersalah kalau sesekali harus bilang “enggak” ketika gaya hidup atau permintaannya sudah di luar kemampuanmu.
4. Menyalahkan diri sendiri tiap kali ada masalah

ilustrasi merenung (magnific.com/magnific) Pasanganmu tiba-tiba jadi cuek dan mendadak silent treatment tanpa alasan yang jelas. Bukannya mencari tahu ada masalah apa, kamu malah langsung panik dan buru-buru nge-chat, “Aku ada salah ya? Maaf ya.” Padahal, kamu sendiri bingung salahmu di mana. Bagimu, yang penting dia gak ngambek lagi, urusan siapa yang sebenarnya salah bisa dipikirin belakangan.
Kalau setiap ada masalah kamu yang selalu minta maaf duluan, lama-lama pasanganmu akan terbiasa dan merasa gak perlu mengevaluasi kesalahannya sendiri. Dia tahu kamu akan selalu mengalah, walau bukan salahmu. Masalah dalam hubungan gak akan selesai kalau kamu terus mengambil kesalahan yang sebenarnya bukan milikmu.
5. Menganggap ucapan pasangan yang menyakitkan sebagai hal biasa

ilustrasi memaklumi pasangan (pexels.com/Polina Zimmerman) Mendengar pasanganmu tiba-tiba nyeletuk sesuatu yang bikin nyesek di hati, kamu malah buru-buru membatin, “Ya udah, dia emang orangnya blak-blakan.” Bukannya menegur atau bilang kalau ucapannya bikin kamu gak nyaman, kamu justru memilih maklum. Bagimu, menelan ucapan kasarnya terasa lebih mudah daripada harus ribut soal sesuatu yang menurutmu sepele.
Memahami karakter pasangan memang penting, tapi bukan berarti semua perkataannya harus kamu terima begitu saja. Jika kamu selalu sibuk mencari pembenaran atas ucapan yang menyakitkan, dia juga gak akan tahu kalau sikapnya sudah kelewatan. Lama-lama, kamu malah terbiasa memendam rasa sakit sendiri cuma demi menjaga hubungan tetap terlihat adem ayem.
Blind loyalty muncul ketika kamu terus membela pasangan bukan karena dia benar, tetapi karena kamu takut kehilangan dia. Kesetiaan tetap punya batas, jadi jangan sampai rasa takut kehilangan justru membuatmu terus mengabaikan apa yang sebenarnya kamu rasakan dan yakini.






















