Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Bukan Sekadar Kopi, Roemah Koffie Punya Cerita di Setiap Cangkirnya

Bukan Sekadar Kopi, Roemah Koffie Punya Cerita di Setiap Cangkirnya
Felix TJ, CEO Roemah Koffie, dalam momen TalkShow di IDEAFEST 2026. 4 September 2026. (IDN Times/M. Tarmizi Murdianto)
  • Roemah Koffie mengusung filosofi “Bean to Heart” dan “Rehumanize Coffee”, menempatkan kopi sebagai pengalaman yang menghubungkan petani, pengolahan, barista, budaya, dan penikmat.
  • Brand ini memaknai specialty coffee melampaui grade serta teknik seduh, melalui konsep “Rasa dan Kisah” yang menyoroti pengetahuan, karakter daerah, dan manusia di balik kopi.
  • Roemah Koffie mengangkat budaya Indonesia lewat nama produk, kanal kreatif, dan teknologi sebagai alat penyebaran cerita; termasuk pembelajaran pengolahan kopi digital oleh petani muda Garut.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Bagi sebagian orang, kopi mungkin sesederhana minuman yang menemani pagi atau menjadi teman bekerja hingga sore. Namun, semakin jauh mengenal dunia kopi, semakin terlihat bahwa ada perjalanan panjang sebelum biji kopi akhirnya hadir di dalam cangkir. Ada petani, proses pengolahan, roaster, barista, hingga budaya dari daerah asal yang ikut membentuk karakter di dalamnya.

Pandangan tersebut menjadi menarik ketika melihat bagaimana Roemah Koffie membawa kopi Indonesia. Alih-alih hanya berbicara soal rasa atau kualitas biji, brand ini mencoba mengajak penikmat kopi melihat cerita yang berada di baliknya. Melalui filosofi Bean to Heart” dan gagasan “Rehumanize Coffee”, kopi ditempatkan bukan sekadar sebagai produk, tetapi sebagai pengalaman yang mempertemukan rasa, manusia, dan budaya.

  1. 1. Yang dicari bukan cuma rasa, tapi cerita di baliknya

    Felix TJ, CEO Roemah Koffie, dalam momen TalkShow di IDEAFEST 2026
    Felix TJ, CEO Roemah Koffie, dalam momen TalkShow di IDEAFEST 2026. 4 September 2026. (IDN Times/M. Tarmizi Murdianto)

    Hal pertama yang terasa dari pendekatan Roemah Koffie adalah bagaimana mereka memandang sebuah cangkir kopi sebagai hasil dari perjalanan yang cukup panjang. Dalam satu sajian, ada petani yang menanam, pemetik yang memilih buah matang, prosesor yang mengolah, roaster yang menentukan karakter rasa, hingga barista yang menyajikannya.

    Pandangan ini terasa dekat dengan kebiasaan masyarakat Indonesia yang memang punya hubungan kuat dengan kopi. Felix TJ, CEO Roemah Koffie, dalam momen TalkShow di IDEAFEST 2026, Jumat (4/9/2026), mengatakan bahwa budaya minum kopi sangat erat dengan kehidupan sehari-hari, bahkan ada anggapan bahwa di balik secangkir kopi selalu ada sebuah cerita.

    Karena itu, pengalaman menikmati kopi terasa sedikit berbeda ketika kita mengetahui dari mana kopi tersebut berasal dan siapa saja yang terlibat di dalam perjalanannya. Roemah Koffie pun membawa pendekatan tersebut melalui filosofi “Bean to Heart”, yang melihat setiap tahap perjalanan kopi sebagai bagian penting dari pengalaman akhir.

  2. 2. Specialty coffee gak melulu soal grade dan teknik seduh

    Felix TJ, CEO Roemah Koffie, dalam momen TalkShow di IDEAFEST 2026
    Felix TJ, CEO Roemah Koffie, dalam momen TalkShow di IDEAFEST 2026. 4 September 2026. (IDN Times/M. Tarmizi Murdianto)

    Kalau mendengar istilah specialty coffee, sebagian orang mungkin langsung membayangkan grade tertentu, metode seduh yang spesifik, atau karakter rasa yang kompleks. Namun, bagi Felix, definisinya bisa jauh lebih luas.

    Menurutnya, specialty coffee juga berkaitan dengan manusia dan budaya yang memperlakukan kopi berdasarkan filosofi serta pengetahuan yang berkembang di masing-masing daerah. Jadi, kualitas kopi bukan hanya berhenti pada apa yang terasa di lidah, tetapi juga bagaimana pengetahuan tersebut diwariskan dan diterapkan dalam prosesnya.

    Perspektif seperti ini membuat pengalaman menikmati kopi terasa lebih personal. Kita tidak hanya mencoba minuman dengan profil rasa tertentu, tetapi juga bisa mengenal karakter daerah dan orang-orang yang berada di baliknya.

    Pendekatan tersebut kemudian diterjemahkan Roemah Koffie melalui konsep “Rasa dan Kisah”. Rasa memberikan pengalaman yang tidak bisa begitu saja dipalsukan, sementara kisah memberikan konteks mengenai manusia, daerah asal, dan nilai yang melahirkan sebuah produk.

  3. 3. Dari lagu daerah sampai ke dalam kemasan kopi

    Felix TJ, CEO Roemah Koffie, dalam momen TalkShow di IDEAFEST 2026
    Felix TJ, CEO Roemah Koffie, dalam momen TalkShow di IDEAFEST 2026. 4 September 2026. (IDN Times/M. Tarmizi Murdianto)

    Salah satu bagian yang menarik dari pendekatan Roemah Koffie adalah cara mereka membawa budaya Indonesia ke dalam identitas produk. Bukan dengan membuat cerita baru, tetapi mengambil kekayaan yang sebenarnya sudah dimiliki Indonesia.

    Beberapa produknya menggunakan nama lagu daerah, seperti Rambadia dari Sumatera Utara, Anak Daro yang berkaitan dengan pernikahan dan awal kehidupan baru, serta Cublak Suweng yang membawa kisah mengenai perjalanan menemukan makna dan ketenangan dari dalam diri.

    Contoh lainnya adalah Cublak Suweng, premium roastery blend yang diperkenalkan pada Juli 2026. Kopi ini memadukan kopi Gayo dari Aceh dan Temanggung dari Jawa Tengah, kemudian nama, asal kopi, profil rasa, hingga cerita budayanya dirancang menjadi satu pengalaman yang utuh.

    Buat penikmat kopi yang senang mengeksplorasi sesuatu lebih dari sekadar rasa, pendekatan seperti ini bisa membuat pengalaman minum kopi menjadi lebih menyenangkan. Setiap nama seakan mengundang rasa penasaran untuk mencari tahu cerita apa yang berada di baliknya.

  4. 4. Teknologi dipakai untuk membantu cerita, bukan menggantikannya

    Felix TJ, CEO Roemah Koffie, dalam momen TalkShow di IDEAFEST 2026
    Felix TJ, CEO Roemah Koffie, dalam momen TalkShow di IDEAFEST 2026. 4 September 2026. (IDN Times/M. Tarmizi Murdianto)

    Di tengah perkembangan industri kopi dan teknologi yang semakin cepat, Roemah Koffie juga tidak menutup diri dari perubahan. Justru, teknologi dilihat sebagai sesuatu yang bisa membantu industri berkembang, selama manusia tetap menjadi pusatnya.

    Felix mengatakan bahwa sebagai brand, beradaptasi dengan dunia dan teknologi merupakan sesuatu yang tidak bisa dihindari. Bahkan, handphone dan berbagai perangkat digital sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Namun, baginya, teknologi tetaplah alat.

    Technology is just a tool,” ujar Felix. Menurutnya, teknologi seharusnya digunakan untuk mencapai sesuatu tanpa melampaui kehebatan manusianya.

    Pandangan tersebut menarik karena teknologi sebenarnya bisa membantu cerita kopi menjangkau audiens yang lebih luas. Lewat internet dan media sosial, konsumen kini bisa mencari tahu asal sebuah produk, mengenal brand, bahkan melihat orang-orang yang berada di balik proses produksinya.

    Salah satu kisah yang memperlihatkan hal tersebut datang dari Robby, anggota termuda keluarga petani kopi di Garut. Meski tidak menyelesaikan pendidikan SMP, ia memanfaatkan telepon genggam untuk mempelajari metode pengolahan kopi, termasuk fermentasi anaerobik. Pengetahuan tersebut kemudian ia praktikkan pada sebagian hasil panen keluarganya hingga menghasilkan kopi dengan karakter dan nilai yang lebih tinggi.

    Dari sini, teknologi justru terlihat bukan sebagai sesuatu yang menghilangkan tradisi, melainkan sebagai jembatan agar pengetahuan bisa berkembang dan diteruskan ke generasi berikutnya.

  5. 5. Kopi yang ingin membawa Indonesia lebih jauh

    Felix TJ, CEO Roemah Koffie, dalam momen TalkShow di IDEAFEST 2026
    Felix TJ, CEO Roemah Koffie, dalam momen TalkShow di IDEAFEST 2026. 4 September 2026. (IDN Times/M. Tarmizi Murdianto)

    Pada akhirnya, hal yang membuat pendekatan Roemah Koffie menarik bukan hanya soal bagaimana kopi diproduksi, tetapi bagaimana kopi digunakan sebagai medium untuk bercerita tentang Indonesia. Melalui berbagai medium, seperti video, podcast, komunitas, desain, musik, hingga kanal digital, Roemah Koffie ingin membuat warisan budaya tetap hidup dan relevan bagi generasi berikutnya.

    Pendekatan serupa juga dibawa ke panggung internasional melalui instalasi visual dan suara, cerita komunitas penghasil kopi, live roasting, lokakarya, serta Roemah Koffie Academy. Dengan filosofi “Bean to Heart”, pengalaman menikmati kopi akhirnya tidak berhenti ketika minuman sampai di meja. Ada petani, keterampilan, daerah asal, tradisi, dan cerita yang ikut hadir di dalamnya.

    Buat kamu yang menikmati kopi bukan hanya karena efek kafeinnya, tetapi juga senang mengetahui cerita di balik setiap cangkir, pendekatan Roemah Koffie ini bisa menjadi pengalaman yang menarik untuk dieksplorasi. Sebab, seperti gagasan yang dibawa Felix, masa depan kopi Indonesia bukan hanya tentang seberapa banyak kopi yang bisa diproduksi, tetapi juga bagaimana manusia, pengetahuan, dan budaya di baliknya tetap ikut tumbuh.

Share Article
Editorial Team

Related Articles