Felix TJ, CEO Roemah Koffie, dalam momen TalkShow di IDEAFEST 2026. 4 September 2026. (IDN Times/M. Tarmizi Murdianto)
Di tengah perkembangan industri kopi dan teknologi yang semakin cepat, Roemah Koffie juga tidak menutup diri dari perubahan. Justru, teknologi dilihat sebagai sesuatu yang bisa membantu industri berkembang, selama manusia tetap menjadi pusatnya.
Felix mengatakan bahwa sebagai brand, beradaptasi dengan dunia dan teknologi merupakan sesuatu yang tidak bisa dihindari. Bahkan, handphone dan berbagai perangkat digital sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Namun, baginya, teknologi tetaplah alat.
“Technology is just a tool,” ujar Felix. Menurutnya, teknologi seharusnya digunakan untuk mencapai sesuatu tanpa melampaui kehebatan manusianya.
Pandangan tersebut menarik karena teknologi sebenarnya bisa membantu cerita kopi menjangkau audiens yang lebih luas. Lewat internet dan media sosial, konsumen kini bisa mencari tahu asal sebuah produk, mengenal brand, bahkan melihat orang-orang yang berada di balik proses produksinya.
Salah satu kisah yang memperlihatkan hal tersebut datang dari Robby, anggota termuda keluarga petani kopi di Garut. Meski tidak menyelesaikan pendidikan SMP, ia memanfaatkan telepon genggam untuk mempelajari metode pengolahan kopi, termasuk fermentasi anaerobik. Pengetahuan tersebut kemudian ia praktikkan pada sebagian hasil panen keluarganya hingga menghasilkan kopi dengan karakter dan nilai yang lebih tinggi.
Dari sini, teknologi justru terlihat bukan sebagai sesuatu yang menghilangkan tradisi, melainkan sebagai jembatan agar pengetahuan bisa berkembang dan diteruskan ke generasi berikutnya.