Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Hukum Suami Mendiamkan Istri Selama Seminggu, Ini Dalilnya!
ilustrasi bertengkar (pexels.com/RDNE Stock project)
  • Islam melarang Muslim mendiamkan pihak lain karena persoalan pribadi lebih dari tiga hari; suami yang mengabaikan istri selama seminggu tanpa alasan syar'i dinilai tidak dianjurkan.
  • Hadis mendorong pihak yang berselisih untuk memulai salam dan perdamaian. Konflik rumah tangga yang dipelihara juga disebut dapat menangguhkan ampunan hingga kedua pihak berdamai.
  • Mengambil jarak untuk menenangkan emosi dibedakan dari silent treatment yang menyakiti. Pasangan dianjurkan menjelaskan kondisi, membuka komunikasi, saling memaafkan, atau melibatkan pihak tepercaya bila diperlukan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Perselisihan dalam rumah tangga merupakan hal yang bisa terjadi ketika suami dan istri memiliki perbedaan pendapat, kesalahpahaman, atau persoalan lain yang belum terselesaikan. Dalam kondisi tertentu, pertengkaran bahkan dapat membuat salah satu pihak memilih diam dan menghindari komunikasi untuk sementara waktu. Namun, sikap tersebut menjadi persoalan ketika berlangsung berhari-hari hingga hubungan suami istri benar-benar terputus.

Karena itu, hukum suami mendiamkan istri selama seminggu perlu dipahami dengan melihat dalil, alasan, serta tujuan dari tindakan tersebut. Islam mengajarkan agar perselisihan tidak dibiarkan berlarut-larut dan setiap Muslim berusaha memperbaiki hubungan dengan sesamanya. Lantas, bagaimana dalil dan pandangan Islam mengenai suami yang mendiamkan istri selama seminggu? Simak penjelasannya dalam lima poin berikut.

1. Islam membatasi sikap saling mendiamkan dalam perselisihan

ilustrasi bertengkar (freepik.com/Drazen Zigic)

Islam memberikan perhatian besar terhadap hubungan antarsesama Muslim, termasuk ketika terjadi perselisihan. Rasulullah SAW melarang seorang Muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari karena persoalan pribadi. Dalam hadis riwayat Abu Dawud, Rasulullah SAW bersabda:

لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثٍ، فَمَنْ هَجَرَ فَوْقَ ثَلَاثٍ فَمَاتَ دَخَلَ النَّارَ

Artinya: “Tidak halal bagi seorang Muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari. Barang siapa mendiamkan lebih dari tiga hari lalu meninggal dunia, maka ia masuk neraka.” (HR. Abu Dawud)

Hadis tersebut menjadi salah satu dalil bahwa permusuhan karena persoalan pribadi tidak semestinya dipertahankan dalam waktu lama. Jika dikaitkan dengan kehidupan rumah tangga, suami dan istri memiliki ikatan yang sangat dekat sehingga komunikasi seharusnya dijaga, bukan sengaja diputus selama berhari-hari. Oleh karena itu, hukum suami mendiamkan istri selama seminggu karena pertengkaran pribadi tanpa alasan yang dibenarkan syariat termasuk sikap yang tidak dianjurkan.

2. Ada anjuran untuk menjadi pihak yang lebih dahulu berdamai

ilustrasi berbicara (pexels.com/August de Richelieu)

Islam tidak hanya melarang memperpanjang perselisihan, tetapi juga memberikan motivasi agar salah satu pihak berani membuka jalan menuju perdamaian. Dalam hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda:

لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثِ لَيَالٍ، يَلْتَقِيَانِ فَيُعْرِضُ هَذَا وَيُعْرِضُ هَذَا، وَخَيْرُهُمَا الَّذِي يَبْدَأُ بِالسَّلَامِ

Artinya: “Tidak halal bagi seorang Muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga malam. Keduanya bertemu, lalu yang satu berpaling dan yang lain juga berpaling. Yang terbaik di antara keduanya adalah yang memulai mengucapkan salam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Pesan hadis ini menunjukkan bahwa pihak yang lebih dahulu mengajak berdamai justru mendapatkan kedudukan yang lebih baik. Dalam rumah tangga, prinsip tersebut dapat diterapkan dengan cara mengesampingkan ego dan memilih waktu yang tepat untuk kembali berbicara dengan pasangan. Suami tidak perlu menunggu istri meminta maaf terlebih dahulu, begitu pula istri dapat mengambil langkah jika memang dirinya mampu membuka percakapan dengan lebih tenang.

3. Perselisihan yang dibiarkan dapat menunda ampunan Allah

ilustrasi bertengkar (pexels.com/Timur Weber)

Perselisihan yang terus dipelihara juga memiliki dimensi spiritual karena Islam mengingatkan umatnya mengenai dampak permusuhan terhadap hubungan seorang hamba dengan Allah SWT. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa terdapat waktu ketika amal manusia diperlihatkan, tetapi orang yang sedang bermusuhan dapat ditangguhkan pengampunannya sampai mereka berdamai. Dalam hadis riwayat Muslim disebutkan:

تُفْتَحُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ، فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا، إِلَّا رَجُلًا كَانَتْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ، فَيُقَالُ: أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا

Artinya: “Pintu-pintu surga dibuka pada hari Senin dan Kamis. Maka setiap hamba yang tidak menyekutukan Allah akan diampuni, kecuali orang yang antara dirinya dan saudaranya terdapat permusuhan. Dikatakan, ‘Tangguhkan kedua orang ini sampai mereka berdamai.’” (HR. Muslim)

Hadis tersebut menunjukkan bahwa menyimpan permusuhan bukan perkara yang sebaiknya dianggap remeh. Dalam kehidupan suami istri, pertengkaran yang dibiarkan selama seminggu dapat memperbesar jarak emosional dan membuat masalah semakin sulit dibicarakan. Karena itu, pasangan sebaiknya berusaha menyelesaikan konflik dengan cara yang bijaksana agar persoalan rumah tangga tidak terus berkembang menjadi permusuhan.

4. Mendiamkan pasangan perlu dibedakan dari mengambil waktu untuk menenangkan diri

ilustrasi bertengkar (pexels.com/stefamerpik)

Larangan mendiamkan seseorang lebih dari tiga hari tidak berarti setiap bentuk menjaga jarak dalam konflik memiliki hukum yang sama. Para ulama menjelaskan adanya pengecualian dalam kondisi tertentu, terutama ketika sikap tersebut memiliki tujuan yang dibenarkan syariat dan bukan sekadar didorong oleh dendam atau kepentingan pribadi. Karena itu, alasan, niat, dan situasi yang melatarbelakangi tindakan perlu diperhatikan sebelum memberikan penilaian.

Dalam rumah tangga, seseorang terkadang membutuhkan waktu untuk menenangkan emosi agar pembicaraan tidak berubah menjadi pertengkaran yang lebih buruk. Hal tersebut berbeda dengan sengaja mengabaikan pasangan selama seminggu, tidak menjawab komunikasi, atau menjadikan diam sebagai alat untuk menyakiti dan menghukum secara emosional. Jika memang membutuhkan waktu untuk meredakan emosi, pasangan sebaiknya tetap memberikan penjelasan dan kemudian kembali membuka komunikasi setelah kondisi lebih tenang.

5. Saling memaafkan menjadi jalan untuk mengembalikan keharmonisan

ilustrasi minta maaf ke pasangan (magnific.com/yanalya)

Islam sangat menganjurkan sikap saling memaafkan ketika terjadi kesalahan di antara manusia. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 10:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat: 10)

Ayat tersebut memang berbicara mengenai persaudaraan kaum mukmin, tetapi prinsip mendamaikan pihak yang berselisih sangat relevan dalam kehidupan keluarga. Suami dan istri dapat menerapkannya dengan mengakui kesalahan, meminta maaf, mendengarkan pasangan, serta mencari solusi tanpa mempermalukan satu sama lain. Jika persoalan sudah sulit diselesaikan berdua, melibatkan pihak ketiga yang dipercaya dan memahami persoalan rumah tangga dapat menjadi salah satu jalan keluar.

Dengan demikian, hukum suami mendiamkan istri selama seminggu karena persoalan pribadi tanpa alasan syar'i tidak sejalan dengan anjuran Islam untuk mengakhiri perselisihan. Dalil tentang larangan hajr lebih dari tiga hari menjadi pengingat agar pasangan tidak mempertahankan permusuhan hanya karena ego atau amarah. Ketika konflik terjadi, komunikasi, saling memaafkan, dan upaya berdamai sebaiknya dikedepankan demi menjaga rumah tangga tetap harmonis.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article