Men Hack: Tips Jaga Stamina biar Tetap Bisa Gym Saat Puasa

- Pilih waktu latihan yang strategis, seperti satu jam sebelum atau 1–2 jam setelah berbuka
- Turunkan intensitas latihan sekitar 20–30 persen dari biasanya dan jaga konsistensi
- Prioritaskan hidrasi dan elektrolit untuk mencegah dehidrasi dan atur asupan protein serta karbohidrat
Puasa sering dijadikan alasan untuk skip gym. Badan terasa lebih lemas, energi turun, dan takut malah drop saat latihan. Padahal, dengan strategi yang tepat, kamu tetap bisa latihan dan menjaga progres.
Kuncinya bukan memaksakan intensitas, tapi mengatur timing dan manajemen energi. Gym saat puasa itu soal taktik, bukan soal ego. Kalau dilakukan dengan benar, stamina tetap terjaga dan massa otot tidak hilang.
Table of Content
1. Pilih waktu latihan yang strategis

Waktu terbaik biasanya satu jam sebelum berbuka atau 1–2 jam setelah berbuka. Kalau latihan sebelum berbuka, kamu bisa langsung rehidrasi dan isi energi setelah selesai. Ini cocok untuk latihan ringan sampai sedang.
Jika memilih setelah berbuka, pastikan beri jeda agar makanan tercerna dulu. Hindari langsung angkat beban berat dalam kondisi perut penuh. Timing yang tepat bisa mencegah pusing dan kram saat latihan.
2. Turunkan intensitas, jaga konsistensi

Puasa bukan waktu untuk memecahkan personal record. Fokuslah pada maintenance, bukan progres agresif. Kurangi beban sekitar 20–30 persen dari biasanya dan perhatikan respon tubuh.
Latihan dengan repetisi terkontrol dan tempo stabil lebih aman. Jangan terlalu banyak set sampai kelelahan ekstrem. Konsistensi ringan lebih baik daripada memaksakan diri lalu tumbang beberapa hari.
3. Prioritaskan hidrasi dan elektrolit

Masalah terbesar saat puasa adalah dehidrasi. Setelah berbuka, minum air secara bertahap, bukan langsung dalam jumlah besar. Tambahkan sumber elektrolit alami agar tubuh cepat pulih.
Saat sahur, pastikan cairan cukup dan hindari minuman terlalu manis. Dehidrasi ringan saja bisa membuat performa turun drastis. Jadi stamina di gym sangat ditentukan oleh manajemen cairan.
4. Atur asupan protein dan karbohidrat

Agar otot tetap terjaga, pastikan protein tercukupi saat sahur dan berbuka. Sumber seperti telur, ayam, ikan, atau tempe bisa membantu recovery. Jangan hanya fokus pada gorengan atau makanan tinggi gula.
Karbohidrat kompleks juga penting sebagai sumber energi bertahap. Pilih nasi, oatmeal, atau kentang dibanding makanan instan tinggi gula. Nutrisi yang tepat membuat tubuh tetap bertenaga meski jam makan terbatas.
5. Dengarkan tubuh, bukan ego

Jika merasa pusing, lemas berlebihan, atau hampir pingsan, segera hentikan latihan. Puasa bukan ajang pembuktian mental. Tubuh memberi sinyal yang harus dihargai.
Tujuan utama adalah menjaga kebugaran selama bulan puasa. Setelah pola makan kembali normal, intensitas bisa ditingkatkan lagi. Smart training selalu lebih efektif daripada nekat training.
Gym saat puasa bukan hal mustahil. Dengan pengaturan waktu, intensitas, dan nutrisi yang tepat, stamina tetap bisa terjaga. Bahkan, banyak orang justru merasa lebih disiplin selama Ramadan.
Ingat, yang kamu kejar adalah konsistensi jangka panjang. Tidak perlu ekstrem, cukup stabil dan terkontrol. Karena tubuh yang dijaga dengan cerdas akan memberi hasil lebih baik daripada latihan yang dipaksakan.


















