Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Terobosan Alfred Young Sugiri di Eropa Tuai Apresiasi Maestro Musik
Suasana penampilan Alfred Young Sugiri di Wina (Dok. AYS)
  • Pianis Bandung Alfred Young Sugiri mendapat apresiasi tiga tokoh musik Indonesia setelah memukau penonton di Wina dan Hungaria, serta menerima undangan konser Eropa tahun depan.
  • Alfred tampil sebagai solis membawakan Mozart Piano Concerto No. 23 bersama Hungarian State Symphony Orchestra di ORF Radiokulturhaus Wina, meraih standing ovation sekitar 2.000 penonton.
  • Franki Raden, Addie MS, dan Ananda Sukarlan menilai prestasi Alfred lahir dari proses panjang, keberanian, serta musikalitas berkarakter yang menghidupkan karya klasik.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Keberhasilan luar biasa pianis muda berbakat, Alfred Young Sugiri, yang memukau publik saat pentas di panggung musik klasik legendaris Wina (Austria) dan Hungaria beberapa waktu lalu, hingga berbuah undangan konser Eropa tahun depan, memicu gelombang apresiasi tinggi dari para pakar dan tokoh utama musik Indonesia. 

Tiga figur penting dunia musik tanah air, Dr. Franki Raden selaku pakar etnomusikologi dan kritikus budaya legendaris, maestro konduktor Addie MS, serta pianis dan komponis internasional Ananda Sukarlan, secara kompak menilai capaian Alfred sebagai terobosan monumental (breakthrough) yang membanggakan. Sukses besar pianis muda asal Bandung itu menjadi angin segar bagi masa depan musik klasik Indonesia di kancah global.

Dukungan kolektif dari para pakar lintas generasi ini menegaskan bahwa keberhasilan Alfred berdiri sejajar di kiblat musik klasik dunia bukanlah momen seremonial belaka. Penampilannya di Eropa itu adalah pilar penting dalam melanjutkan tradisi keharuman nama Indonesia di panggung seni pertunjukan internasional.

1. Momen krusial yang patut dicatat dalam sejarah peradaban seni tanah air

Suasana penampilan Alfred Young Sugiri di Wina (Dok. AYS)

Pakar musik, etnomusikologi, sekaligus peraih Lifetime Achievement Award FFI 2025, Dr. Franki Raden, menegaskan bahwa pencapaian Alfred merupakan momen krusial yang patut dicatat dalam sejarah peradaban seni tanah air. Menurutnya, kegigihan dan pemahaman Alfred terhadap tantangan panggung dunia menjadikan dirinya sebagai role model yang sangat ideal bagi generasi muda.

"Bagi saya penampilan Alfred itu sebuah breakthrough, sebuah promosi yang luar biasa. Alfred bisa jadi role model. Kegigihannya luar biasa, tidak kalah dengan seorang bintang film yang harus menurunkan berat badan, jaga pola makan untuk tampil maksimal. Ia sangat mengerti tantangannya,” ujar kolumnis seni budaya kawakan itu.

Menurut Franki Raden, keberhasilan Alfred menjadi solis saat memainkan karya Mozart di Wina, kota kelahirannya Mozart, itu sama seperti musisi jazz bermain jazz di New Orleans atau Broadway.

“Butuh nyali besar dan mental yang kuat. Tampil di Wina, dengan membawa karya Mozart, jelas Alfred tidak sedang main-main," ungkap Franki Raden dalam keterangan resminya.

Lebih jauh, Franki melihat Alfred sebagai penerus tradisi pianis kelas dunia asal Indonesia setelah era legendaris Iravati M. Sudiarso dan Rudy Laban pada era 1970-an. Sama halnya seperti kemunculan Joey Alexander yang memecah kekosongan panjang di genre jazz, kehadiran Alfred adalah fenomena aset nasional yang langka.

2. Bukti proses panjang dan sentuhan humanis

Alfred Young Sugiri tengah berdiskusi bersama konduktor Everett McCorvey sebelum penampilannya di di gedung pertunjukan legendaris ORF Radiokulturhaus (Dok. AYS)

Berangkat dari semangat terobosan tersebut, maestro dan konduktor pendiri Twilite Orchestra, Addie MS, menyambung bahwa kesuksesan yang diraih Alfred di Eropa merupakan bukti otentik dari kedisiplinan dan kerja keras tanpa henti.

"Alfred dan musisi-musisi Indonesia lainnya yang berhasil di panggung dunia bisa dipastikan telah melalui proses panjang, tantangan, dan kerja keras. Tidak ada jalan pintas di panggung dunia," ujar Addie MS.

Menanggapi tantangan era modern, Addie menekankan bahwa di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (AI) yang mampu menciptakan musik secara instan, estetika pertunjukan langsung (live concert) seorang solis seperti Alfred tidak akan pernah bisa digantikan oleh mesin. Penonton hadir tidak hanya untuk mendengarkan nada, tetapi juga untuk merasai ekspresi, gesture, serta komunikasi emosional sang musisi secara langsung.

3. Karakter musikalitas kuat 

Suasana penampilan Alfred Young Sugiri di Wina (Dok. AYS)

Sementara itu, pianis dan komponis legendaris Indonesia yang tercatat dalam The 2000 Outstanding Musicians of the 20th Century, Ananda Sukarlan, memberikan pandangan dari sudut pandang integritas artistik. Ananda mengagumi keberanian Alfred yang tidak hanya menguasai musik klasik konvensional seperti Beethoven, tetapi juga sangat terbuka terhadap genre jazz hingga musik klasik kontemporer.

"Alfred membuat musik itu hidup, bukan seperti musisi klasik yang sekadar 'baca partitur dan dipencet nadanya'. Kalau cuma begitu, mesin sekarang sudah sangat akurat. Semua komponis membutuhkan musisi yang berintegritas dan memiliki nilai artistik tinggi yang mampu menginterpretasikan musik dengan gayanya sendiri. Saya selalu mengagumi cara Alfred memainkan karya saya dengan karakternya yang kuat," tutur pencipta seri Rapsodia Nusantara tersebut.

Karenanya, Ananda Sukarlan menegaskan bahwa penampilan Alfred di Eropa sangat layak diapresiasi. Penampilan pianis Bandung ini di Eropa memberikan semangat baru, sekaligus motivasi besar bagi seluruh musisi muda di Tanah Air.

“Dan saya sangat menunggu konser Alfred di Jakarta serta kota-kota lainnya di Indonesia, juga karya-karya besar dan indah yang dihasilkannya," kata Ananda.

Sebelumnya, pianis virtuoso Indonesia, Alfred Young Sugiri, berhasil memukau publik musik klasik dengan sambutan gemuruh tepuk tangan ribuan penonton yang memecah kemegahan gedung pertunjukan legendaris ORF Radiokulturhaus (Großer Sendesaal), Wina, Austria, Kamis (1/10/2026). 

Tampil sebagai solis utama membawakan karya monumental Mozart Piano Concerto in A Major No. 23, K. 488 selama 30 menit non-stop, aksi Alfred yang didampingi Hungarian State Symphony Orchestra of Szolnok di bawah konduktor Everett McCorvey dan violinis Maria Solozobova tersebut disambut standing ovation dari sekitar 2.000 penonton.

Curated For You

Editorial Team

Related Article