Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Fakta Gunung Anak Krakatau yang Pernah Picu Tsunami Banten
Gunung Anak Krakatau (Doc. ANTARA FOTO)
  • Gunung Anak Krakatau erupsi lagi pada 4–5 September 2026, dengan Badan Geologi mencatat total 121 erupsi sepanjang 2026.
  • Gunung api muda di Selat Sunda ini mulai beraktivitas sejak 1927, muncul di atas laut pada 2013, dan terus membangun tubuhnya melalui erupsi eksplosif serta aliran lava.
  • Erupsi dan longsoran bawah laut pada 22 Desember 2018 memicu tsunami Selat Sunda, menewaskan 437 orang serta merusak pesisir Banten dan Lampung.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Gunung Anak Krakatau meletus lagi pada 4 sampai 5 September 2026. Tahun ini gunung itu sudah meletus 121 kali. Dulu, pada 22 Desember 2018, letusan dan tanah longsor di bawah laut membuat tsunami di Selat Sunda. Banyak tempat di Banten dan Lampung rusak. Sekarang gunung itu masih aktif dan menyemburkan bahan panas.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Gunung Anak Krakatau kembali erupsi pada Jumat, 4 September 2026 hingga Sabtu (5/9/2026) pagi. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM)melalui Badan Geologi mencatat, erupsi Gunung Anak Krakatau sudah mencapai 121 selama 2026.

Erupsi besar Gunung Anak Krakatau yang menyebabkan tsunami di Banten terjadi pada Sabtu malam, 22 Desember 2018. Tiga kabupaten menjadi wilayah yang paling parah terdampak tsunami, antara lain Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Lampung Selatan, dan Kabupaten Serang.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan, peristiwa tsunami di Selat Sunda dipicu akibat letusan atau longsoran Gunung Anak Krakatau di dalam laut. Berikut fakta-fakta aktivitas atau peristiwa terkait Gunung Anak Krakatau.

1. Gunung Anak Krakatau mulai muncul ke permukaan laut pada 2013

Anak Gunung Krakatau (ANTARA FOTO/Atet Dwi Pramadia)

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian ESDM, menyebutkan Gunung Anak Krakatau adalah gunung api strato tipe A, atau gunung api yang terbentuk karena letusan Ekstrusi (Erupsi) Ekslposif dan Ekstrusi (Erupsi) Efusif secara terus-menerus dan saling bergantian. 

Gunung Anak Krakatau yang terletak di Selat Sunda ini, merupakan gunung api muda yang muncul dalam kaldera atau fitur vulkanik yang terbentuk dari jatuhnya tanah setelah letusan vulkanik, pasca-erupsi paroksismal pada 1883 dari kompleks vulkanik Krakatau.

Aktivitas erupsi setelah pembentukan dimulai sejak 1927. Pada saat itu, tubuh gunung api masih di bawah permukaan laut. Namun, pada 2013, tubuh Gunung Anak Krakatau mulai muncul ke permukaan laut. Sejak saat itu hingga kini, Gunung Anak Krakatau berada dalam fasa konstruksi, yang artinya membangun tubuhnya hingga besar.

2. Gunung Anak Krakatau mulai meletus Juni 2016

Gunung Anak Krakatau (ANTARA FOTO/Rani)

Gunung Anak Krakatau memiliki elevasi tertinggi yaitu 338 meter dari permukaan laut. Pengukuran tersebut dilakukan pada September 2018. Karakter letusannya adalah erupsi magmatik, yang berupa erupsi eksplosif lemah (strombolian) dan erupsi epusif berupa aliran lava.

Gunung Anak Krakatau meletus pada 20 Juni 2016. Setahun kemudian, Gunung Anak Krakatau meletus, tepatnya pada 19 Februari 2016 berupa letusan strombolian. Gunung ini kembali meletus pada 29 Juni 2018. Sejak itu sampai saat ini, letusan Gunung Anak Krakatau berupa letusan strombolian.

3. Radius bahaya Gunung Anak Krakatau diperluas mulai Juli 2018

Ilustrasi petugas Badan Geologi (ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman)

Letusan pada 2018 terjadi karena diawali dengan munculnya gempa tremor, dan peningkatan jumlah gempa embusan dan low frekuensi pada 18-19 Juni 2018.

Gempat tremor adalah gempa yang bisa mengindikasikan adanya aktivitas vulkanik di gunung api. Jika gempa tremor terjadi, maka bisa diprediksi dalam beberapa jam selanjutnya gunung api akan segera meletus. Sementara, gempa embusan adalah salah satu tipe gempa yang sumbernya ada di dekat permukaan.

Sejak itu, jumlah gempa embusan yang terjadi pada Gunung Anak Krakatau terus meningkat, dan akhirnya pada 29 Juni 2018, Gunung Anak Krakatau meletus. Lontaran material letusan sebagian besar jatuh di sekitar tubuh Gunung Anak Krakatau atau kurang dari 1 km dari kawah.

Dan sejak 23 Juli 2018, teramati lontaran material pijar yang jatuh di sekitar pantai, sehingga radius bahaya Gunung Anak Krakatau diperluas dari 1 km menjadi 2 km dari kawah.

4. Picu tsunami di Banten pada 22 Desember 2018

Gunung Anak Krakatau (Doc. Susi Air)

Aktivitas Gunung Anak Krakatau yang cukup besar terjadi pada Sabtu malam, 22 Desember 2018. Secara visual, teramati letusan dengan tinggi asap berkisar 300-1500 meter di atas puncak kawah. Sementara, terekam juga gempa tremor dengan amplitudo overscale berkisar 58 mm.

Berdasarkan Peta Kawasan Rawan Bencana (KRB), potensi bencana erupsi Gunung Anak Krakatau, menunjukkan hampir seluruh tubuh Gunung Anak Krakatau yang berdiameter kurang lebih 2 km, merupakan kawasan rawan bencana.

Erupsi kali ini menimbulkan longsoran Gunung Anak Krakatau di bawah laut, hingga mengakibatkan tsunami yang melanda wilayah Provinsi Banten.

Berdasarkan data final dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), tsunami Selat Sunda pada 22 Desember 2018 mengakibatkan 437 orang meninggal dunia, dan menimbulkan kerusakan infrastruktur yang masif di wilayah pesisir Banten dan Lampung.

5. Gunung Anak Krakatau bertambah tinggi 1 meter setiap tahun

IDN Times/Ilyas Listianto Mujib

Selama 2019–2023, Badan Geologi mencatat Gunung Anak Krakatau memasuki fase konstruksi pemulihan tubuh gunung secara bertahap, dengan berbagai serangkaian erupsi berskala rendah hingga Desember 2023.

Saat pembentukan Gunung Anak Krakatau 10 tahun pertama, setiap tahun bertambah tinggi 15 meter. Akan tetapi sejak 1953 sampai sekarang jeda letusannya bervariasi antara 1-2 tahun atau lebih dengan rata-rata jeda letusan selama lima tahun, serta bertambah tinggi 1 meter per tahun, kecuali pada kurun 1993-1996 yang mencapai 15 meter per tahun.

Aktifitas Gunung Anak Krakatau pada 2007 ditandai dengan keluarnya asap putih kelabu setinggi 200 meter pada 23 Oktober 2007 sekitar pukul 16 WIB. Hasil pengamatan PVMBG, akhirnya menaikkan status Gunung Anak Krakatau dari Waspada menjadi Siaga.

Hingga saat ini, Gunung Anak Krakatau menyemburkan material vulkanik selang 3 sampai 6 menit sampai sejauh 750 meter mencapai tepian pantai Gunung Anak Krakatau. Lubang kawah pun terlihat semakin melebar, yang saat ini mencapai 350 meter pada 2007. Akan tetapi menurut Newhall et al. (1983), selang terjadinya dua letusan besar adalah berkisar 1.500 tahun.

Curated For You

Editorial Team

Related Article