Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Gunung Api dengan Erupsi Paling Dahsyat di Indonesia
ilustrasi erupsi gunung api (pexels.com/Diego Giron)
  • Erupsi Tambora pada 1815 menewaskan sekitar 10 ribu orang secara langsung, serta puluhan ribu lainnya akibat kelaparan dan penyakit; dampaknya turut memengaruhi iklim global.
  • Letusan Krakatau pada 1883 memicu tsunami setinggi sekitar 30–37 meter di Selat Sunda, menghancurkan lebih dari 250 desa pesisir dan menewaskan hingga 40 ribu orang.
  • Erupsi Kelud, Agung, dan Galunggung menimbulkan korban serta kerusakan besar; Kelud memicu pembentukan pemantauan vulkanik, Agung berlangsung hampir setahun, sementara Galunggung meletus hingga 1983.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
11 April 1815

Gunung Tambora meletus dahsyat, mengubur wilayah Kerajaan Tambora, Pekat, dan Sanggar. Letusan memicu korban jiwa besar, kelaparan, penyakit, serta dampak pada iklim global.

1883

Letusan Krakatau diikuti tsunami besar di Selat Sunda setinggi sekitar 30–37 meter. Gelombang menghancurkan lebih dari 250 desa di pesisir Jawa dan Sumatra serta menewaskan hingga sekitar 40 ribu orang.

1919

Erupsi Gunung Kelud menewaskan sekitar 5.000 orang. Material vulkanik yang bercampur air danau kawah menghasilkan lahar letusan ke wilayah sekitar gunung.

1920

Lembaga khusus pemantauan gunung api di Indonesia dibentuk, salah satunya akibat tingginya korban erupsi Gunung Kelud.

18 Februari 1963 hingga 27 Januari 1964

Erupsi Gunung Agung menghasilkan abu, awan panas, aliran lava, dan lahar. Rangkaian erupsi menewaskan 1.148 orang serta melukai 296 orang.

5 April 1982 hingga 19 Mei 1983

Gunung Galunggung mengalami erupsi yang menghancurkan sekitar 80 persen kubah lava Gunung Jati.

April 1982

Aktivitas Gunung Galunggung menghasilkan aliran lahar panas dan dingin, awan panas, serta semprotan terarah.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Lima erupsi gunung api besar di Indonesia—Tambora, Krakatau, Kelud, Agung, dan Galunggung—tercatat menimbulkan korban jiwa, tsunami, kerusakan permukiman, lahar, awan panas, serta dampak atmosfer.
  • Who?
    Warga di Sumbawa, Lombok, pesisir Jawa dan Sumatra, serta sekitar Tambora, Krakatau, Kelud, Agung, dan Galunggung menjadi korban terdampak; Badan Geologi dan BMKG mencatat peristiwa tersebut.
  • Where?
    Erupsi terjadi di Tambora, Sumbawa; Krakatau dan Selat Sunda; Kelud; Agung, Bali; serta Galunggung. Dampaknya mencakup Lombok, pesisir Jawa dan Sumatra, dan kawasan sekitar gunung.
  • When?
    Tambora meletus 11 April 1815; Krakatau pada 1883; Kelud pada 1919; Agung dari 18 Februari 1963 hingga 27 Januari 1964; Galunggung dari 5 April 1982 hingga 19 Mei 1983.
  • Why?
    Korban dan kerusakan terjadi akibat material erupsi, abu, awan panas, lava, lahar, serta tsunami. Tambora juga memicu gagal panen, kelaparan, dan penyakit akibat perubahan kondisi atmosfer.
  • How?
    Tambora menyemburkan material hingga sekitar 150 kilometer; Krakatau memicu tsunami 30–37 meter. Kelud menghasilkan lahar dari campuran material dan air kawah, sedangkan Galunggung mengalirkan awan panas hingga sekitar 6 kilometer.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Gunung Tambora, Krakatau, Kelud, Agung, dan Galunggung pernah meletus sangat besar di Indonesia. Tambora membuat banyak orang meninggal karena letusan, sakit, dan kelaparan. Krakatau membuat ombak tsunami besar. Kelud, Agung, dan Galunggung juga membawa abu, lahar, dan awan panas. Sekarang semua kejadian itu dicatat oleh petugas gunung api.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Catatan erupsi besar di Indonesia menunjukkan pentingnya pengetahuan kebencanaan yang terus dibangun dari pengalaman historis. Peristiwa Kelud 1919, misalnya, menjadi salah satu alasan pembentukan lembaga khusus pemantauan gunung api pada 1920, sementara data Badan Geologi dan BMKG kini mendokumentasikan karakter serta dampak berbagai erupsi secara terperinci.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Indonesia memiliki sejarah panjang mengenai letusan gunung api, yang dampaknya tidak hanya menghancurkan permukiman warga, tetapi juga memicu tsunami hingga memengaruhi kondisi iklimnya.

Sejumlah erupsi bahkan tercatat sebagai bencana vulkanik terbesar dalam sejarah, karena dampaknya yang mampu mengubah kondisi geografis, serta menyebabkan ribuan orang tewas dan kelaparan.

Berikut daftar lima gunung api dengan erupsi terdahsyat berdasarkan data Badan Geologi dan Katalog Tsunami BMKG.

1. Gunung Tambora tewaskan puluhan ribu orang

Gunung Tambora (Dok. TNGT)

Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat Gunung Tambora meletus dahsyat pada 11 April 1815. Saat itu, ketinggian Tambora disebut mencapai sekitar 4.300 meter di atas permukaan laut.

Letusan tersebut mengeluarkan material hingga sekitar 150 kilometer dan mengubur wilayah Kerajaan Tambora, Pekat, serta Sanggar. Dampak erupsinya mencapai sekitar 43 kilometer, sehingga abu vulkanik menghalangi cahaya matahari.

Erupsi ini juga berdampak pada kegagalan panen akibat perubahan kondisi atmosfer yang memicu kelaparan dan penyakit.

Berdasarkan data Badan Geologi, sekitar 10 ribu orang meninggal dunia akibat langsung letusan. Sementara, sekitar 38 ribu orang di Sumbawa dan 44 ribu orang di Lombok meninggal akibat penyakit dan kelaparan yang ditimbulkan bencana tersebut.

Erupsi Tambora juga berdampak terhadap iklim global, di mana kondisi tersebut berkontribusi pada fenomena yang dikenal sebagai “The Year Without a Summer” di Eropa.

2. Gunung Krakatau yang memicu tsunami puluhan meter

Anak Gunung Krakatau (ANTARA FOTO/Atet Dwi Pramadia)

Krakatau pernah mengalami letusan yang kemudian diikuti tsunami besar di Selat Sunda pada 1883. Berdasarkan Katalog Tsunami Indonesia yang diterbitkan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), tercatat tinggi maksimum tsunami di kawasan Selat Sunda kala itu mencapai sekitar 30–37 meter.

Gelombang tersebut menghancurkan lebih dari 250 desa di pesisir Jawa dan Sumatra, serta korban jiwa yang diperkirakan mencapai hingga 40 ribu orang. BMKG juga mencatat tsunami akibat erupsi tersebut mampu menyapu permukiman di sekitar Selat Sunda dan menyebabkan kerusakan besar.

3. Gunung Kelud yang menewaskan sekitar 5.000 orang

Potret Gunung Kelud, Jawa Timur (jadesta.kemenparekraf.go.id)

Badan Geologi mencatat erupsi Gunung Kelud pada 1919 menewaskan sekitar 5.000 orang. Jumlah korban tersebut menjadi salah satu alasan dibentuknya lembaga khusus pemantauan gunung api di Indonesia pada 1920.

Terdapat danau kawah di sekitaran Gunung Kelud yang pada saat terjadi erupsi, material vulkanik dapat bercampur dengan air dan menghasilkan lahar letusan yang mengalir ke wilayah di sekitar gunung.

Kajian Badan Geologi juga mencatat Gunung Kelud telah mengalami puluhan letusan sejak catatan sejarahnya dan dikenal sebagai gunung yang mudah meledak.

4. Peristiwa Gunung Agung tewaskan 1.148 orang

Pemandangan Gunung Agung yang menampilkan hutan hujan dan sawah terasering. (commons.wikimedia.org/madras91)

Erupsi Gunung Agung berlangsung sejak 18 Februari 1963 hingga 27 Januari 1964. Berdasarkan catatan Badan Geologi, letusan tersebut menghasilkan jatuhan abu, awan panas, aliran lava, dan lahar.

Berdasarkan datanya, tercatat 1.148 orang meninggal dunia dan 296 lainnya mengalami luka-luka, akibat rangkaian erupsi tersebut. Erupsi Gunung Agung juga menjadi salah satu kejadian vulkanik yang berlangsung dalam waktu panjang. Erupsinya tidak hanya berupa ledakan awal, tapi berlanjut selama hampir satu tahun dengan berbagai produk erupsi.

5. Gunung Galunggung dengan erupsi hingga berbulan-bulan

Polisi meninjau lokasi longsor tanah tebing di Gunung Galunggung, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Minggu (12/3/2023). (ANTARA/HO-Polsek Sukaratu)

Badan Geologi juga mencatat Gunung Galunggung terakhir meletus pada 5 April 1982 hingga 19 Mei 1983. Fase erupsi tersebut bahkan menghancurkan sekitar 80 persen kubah lava Gunung Jati.

Laporan Badan Geologi mencatat aktivitas Galunggung pada April 1982 menghasilkan aliran lahar panas dan dingin, aliran awan panas, serta semprotan terarah. Aliran awan panas tercatat mengikuti alur sungai hingga sekitar 6 kilometer, sementara directed blast mencapai sekitar 3 kilometer dari kawah.

Kajian BMKG juga mencatat erupsi ini sebagai salah satu letusan besar Indonesia pada abad ke-20.

Curated For You

Editorial Team

Related Article