Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

7 Fakta Unik Gunung Krakatau yang Pernah Mengguncang Dunia

7 Fakta Unik Gunung Krakatau yang Pernah Mengguncang Dunia
Penampakan Gunung Anak Krakatau erupsi (Dok. esdm.go.id)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Gunung Krakatau merupakan salah satu gunung api paling terkenal di Indonesia. Namanya dikenal luas setelah erupsi dahsyat pada 1883 yang menyebabkan kehancuran besar di kawasan Selat Sunda.

Krakatau berada di antara Pulau Jawa dan Sumatra. Secara geologi, gunung ini merupakan kompleks vulkanik dengan sejarah panjang, termasuk beberapa kali pembentukan dan keruntuhan kaldera.

Menurut Smithsonian Institution melalui Global Volcanism Program (GVP), Krakatau juga masih merupakan gunung api aktif. Aktivitas vulkaniknya terus dipantau, termasuk melalui laporan PVMBG yang dihimpun GVP.

Lantas, apa saja fakta unik di balik Gunung Krakatau? Berikut 7 di antaranya!

  1. 1. Letusan 1883 berkekuatan VEI 6

    Gunung Anak Krakatau erupsi
    Peta Gunung Anak Krakatau (magma.esdm.go.id)

    Erupsi Krakatau pada 1883 tercatat memiliki Volcanic Explosivity Index (VEI) 6. Letusan ini menyebabkan keruntuhan kaldera dan menghancurkan sebagian besar bangunan vulkanik Krakatau sebelum erupsi tersebut.

    Peristiwa tersebut menjadi salah satu erupsi vulkanik paling terkenal dalam sejarah modern karena dampaknya yang sangat luas.

  2. 2. Lebih dari 36 ribu orang meninggal

    Erupsi Gunung Krakatau pada tahun 1883
    gambar erupsi Gunung Krakatau pada tahun 1883 (commons.m.wikimedia.org/Anonymous)

    Dahsyatnya erupsi Krakatau tidak hanya disebabkan oleh letusan eksplosif. Smithsonian mencatat lebih dari 36 ribu orang meninggal dalam bencana tersebut dengan sebagian besar korban disebabkan tsunami yang menerjang pesisir Jawa dan Sumatra. Artinya, tsunami menjadi salah satu dampak paling mematikan dari bencana Krakatau 1883.

    Salah satu fakta menarik dari erupsi Krakatau adalah kemampuan material vulkaniknya bergerak sangat jauh.

    Menurut Global Volcanism Program, gelombang piroklastik dari erupsi 1883 melintasi Selat Sunda hingga mencapai pesisir Sumatra. Jarak yang ditempuh mencapai sekitar 40 kilometer.

    Fenomena tersebut menunjukkan betapa besar energi yang dilepaskan saat erupsi Krakatau.

  3. 3. Krakatau berada di atas kaldera raksasa

    Sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau mengarah ke barat Selat Sunda, Minggu (6/9/2026). (Dok. BMKG)
    Sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau mengarah ke barat Selat Sunda, Minggu (6/9/2026). (Dok. BMKG)

    Krakatau saat ini berada di kawasan kaldera yang terbentuk dari aktivitas vulkanik masa lalu.

    GVP mencatat sebuah keruntuhan bangunan gunung api lebih tua yang diperkirakan terjadi sekitar tahun 416 atau 535 Masehi, membentuk kaldera dengan diameter sekitar 7 kilometer.

    Dengan demikian, sejarah geologi Krakatau sebenarnya jauh lebih tua dibanding letusan 1883.

  4. 4. Krakatau sebelum 1883 bukan hanya satu kerucut

    IMG_20260906_085758.jpg
    Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau sampai Bekasi. (IDN Times/Imam Faishal)

    Sebelum letusan besar 1883, kawasan Krakatau terdiri atas beberapa kerucut gunung api, yakni Rakata, Danan, dan Perbuwatan.

    Ketiganya kemudian membentuk satu pulau vulkanik besar yang dikenal sebagai Krakatau sebelum akhirnya sebagian besar bangunan tersebut hancur dalam erupsi 1883.

  5. 5. Anak Krakatau lahir dari kaldera bekas letusan

    IMG_20260704_125829.jpg
    Tangkap layar erupsi gunung berapi disebut Gunung Anak Krakatau, Lampung. (IDN Times/Istimewa).

    Setelah kehancuran Krakatau pada 1883, aktivitas vulkanik kembali membangun gunung baru.

    GVP mencatat aktivitas yang kemudian membentuk Anak Krakatau mulai muncul pada akhir 1927. Kerucut gunung api tersebut tumbuh di dalam kaldera yang terbentuk akibat erupsi 1883.

    Nama Anak Krakatau sendiri menggambarkan posisinya sebagai gunung api baru yang lahir dari kawasan Krakatau.

  6. 6. Anak Krakatau terus bertambah akibat erupsi

    Gunung Anak Krakatau
    Gunung Anak Krakatau (Adhari Arief, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)

    Anak Krakatau bukan gunung yang langsung terbentuk dalam ukuran besar. Bentuknya berkembang secara bertahap melalui berbagai aktivitas erupsi.

    Smithsonian mencatat lebih dari 40 episode erupsi kecil setelah kemunculannya yang menghasilkan abu, lontaran material pijar, bom vulkanik, hingga aliran lava. Aktivitas tersebut membangun pulau vulkanik yang terus mengalami perubahan.

  7. 7. Nama "Krakatoa" dan "Krakatau" pernah membingungkan

    Tour Anak Gunung Krakatau salah satu rangkaian acara Festival Krakatau 2022, Sabtu (27/8/2022). (IDN Times/Rohman Mustaurida).
    Tour Anak Gunung Krakatau salah satu rangkaian acara Festival Krakatau 2022, Sabtu (27/8/2022). (IDN Times/Rohman Mustaurida).

    Nama gunung api ini juga memiliki sejarah yang unik. GVP menjelaskan, "Krakatoa" merupakan bentuk penulisan yang banyak digunakan dalam literatur berbahasa Inggris, sementara "Krakatau" merupakan ejaan yang diterima dan digunakan di Indonesia.

    Smithsonian bahkan mencatat adanya perubahan ejaan dalam proses penerbitan laporan ilmiah mengenai letusan 1883.

    Kawasan Krakatau secara administratif dan ekologis juga memiliki keterkaitan dengan kawasan konservasi penting.

    Global Volcanism Program mencatat gunung api Krakatau berada di dalam kawasan Taman Nasional Ujung Kulon, yang merupakan situs Warisan Dunia UNESCO.

    Posisi tersebut membuat Krakatau tidak hanya penting dari sisi kebencanaan dan geologi, tetapi juga dari sisi lingkungan.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More