Perang Dagang Kanada-AS, Siapa yang Unggul?

- Kanada memberlakukan tarif balasan atas produk AS senilai sekitar 27,6 miliar dolar Kanada sebagai respons terhadap kebijakan tarif Presiden Donald Trump.
- Konflik dagang ini menekan industri Kanada yang terhubung dengan rantai pasok Amerika Utara, terutama sektor otomotif.
- Kanada menghadapi ketergantungan ekspor pada AS, tetapi AS juga bergantung pada minyak dan pupuk kalium dari Kanada.
Jakarta, IDN Times - Perang dagang antara Kanada dan Amerika Serikat (AS) kembali memanas, setelah Ottawa resmi memberlakukan tarif balasan terhadap produk-produk AS senilai sekitar 27,6 miliar dolar Kanada atau Rp486,6 triliun. Kebijakan tersebut menjadi respons atas tarif terbaru yang diberlakukan Presiden AS Donald Trump terhadap barang-barang Kanada.
Tarif balasan Kanada mulai berlaku pada Selasa (8/9/2026) pukul 00.01 waktu setempat atau sekitar 11.01 WIB. Ottawa menyatakan tarif tersebut diberlakukan secara “dolar per dolar” dan “tarif per tarif” dengan kebijakan AS.
Produk yang terkena tarif Kanada antara lain baja, aluminium, keju, peralatan rumah tangga, pakaian, kosmetik, peralatan pertanian, bubur kertas dan kertas, serta produk elektronik. Besaran tarif bervariasi antara 15 persen, 25 persen, hingga 50 persen.
Langkah tersebut menandai eskalasi terbaru dalam hubungan dagang dua negara yang selama puluhan tahun dikenal memiliki hubungan ekonomi sangat erat. Di tengah tekanan Trump, Perdana Menteri Kanada Mark Carney memilih menghadapi Washington, sementara publik Kanada justru semakin mendukung pemerintahnya.
Lantas, mengapa Kanada berani melawan AS yang memiliki ekonomi jauh lebih besar? Seberapa besar dampak perang dagang ini bagi kedua negara? Dan apakah Kanada benar-benar bisa “menang” dalam perang dagang melawan Trump? Ini yang perlu kamu tahu!
1. Mengapa Kanada membalas tarif Trump?

ilustrasi bendera Kanada (pexels.com/Jared VanderMeer) Kebijakan tarif terbaru Kanada diberlakukan setelah pembicaraan dagang dengan AS mengalami kebuntuan pada 21 Agustus 2026. Setelah negosiasi tersebut gagal, pemerintahan Trump meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Kanada melalui serangkaian tarif, ancaman, dan pernyataan keras.
Pemerintah Kanada menetapkan tarif balasan terhadap sekitar 20 miliar dolar AS produk Amerika, atau sekitar 6 persen dari total ekspor AS ke Kanada, yang mencapai 333,6 miliar dolar AS pada tahun sebelumnya.
Ottawa menegaskan tarif tersebut hanya berlaku untuk produk yang berasal dari AS. Barang-barang yang sudah berada dalam perjalanan atau transit ketika tarif mulai berlaku tidak dikenakan kebijakan baru tersebut.
Kanada sebelumnya juga menggunakan langkah di luar tarif untuk memberikan tekanan ekonomi. Delapan dari 10 provinsi Kanada masih membatasi atau melarang penjualan minuman beralkohol dari AS. Dampaknya sudah terlihat pada perdagangan. Data Distilled Spirits Council menunjukkan ekspor minuman beralkohol AS ke Kanada turun lebih dari 70 persen secara tahunan, setelah pembatasan tersebut diberlakukan.
Pemerintah Kanada menilai kebijakan Trump berpotensi mengancam industri strategis negaranya. Carney memperingatkan tuntutan Washington dapat membuat industri-industri penting Kanada perlahan kehilangan basis produksi di dalam negeri dan pada akhirnya hilang.
Dikutip dari NPR, Selasa (8/9/2026), ancaman tersebut terutama serius bagi industri otomotif. Trump sebelumnya mengancam akan mengenakan tarif 50 persen terhadap kendaraan dan suku cadang otomotif Kanada, jika Ottawa tidak mengikuti keinginan Washington.
2. Trump terus tingkatkan tekanan ke Kanada

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sedang menari di acara kampanye pemilihan Presiden AS pada 23 Agustus 2024 di Glendale, Arizona. (flickr.com/Gage Skidmore via commons.wikimedia.org/Gage Skidmore) Trump tidak hanya menggunakan tarif sebagai alat tekanan pada Kanada. Presiden AS itu juga mengeluarkan sejumlah ancaman terhadap perusahaan Kanada dan berulang kali menyerang posisi pemerintah Carney.
Pada Senin, 7 September 2026, Trump mengancam melarang penjualan pesawat Bombardier di pasar AS, jika perusahaan tersebut tidak memproduksi pesawat di Amerika Serikat.
“Tidak ada lagi penjualan Bombardier di Amerika Serikat! Produk mereka tidak cukup bagus! Jika mereka menginginkan pasar kami, mereka harus memproduksi di sini dan berhenti memperlakukan Amerika seperti celengan,” tulis Trump melalui Truth Social.
Presiden AS sebelumnya juga memperingatkan perekonomian Kanada dapat runtuh jika Carney terus memperlakukannya sebagai musuh. Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer bahkan mengancam Washington dapat melarang sejumlah produk Kanada masuk ke pasar AS.
Tekanan Trump juga meluas ke isu simbolik. Trump sebelumnya mendorong perubahan nama Teluk Meksiko menjadi Teluk Amerika, dan Danau Ontario menjadi Danau Amerika. Pada Senin, ia juga mengunggah peta Amerika Utara yang seluruh wilayahnya ditutupi motif bendera AS.
Trump berulang kali melontarkan gagasan agar Kanada menjadi negara bagian ke-51 AS. Pernyataan tersebut justru memperkuat sentimen nasionalisme di Kanada, dan meningkatkan dukungan terhadap Carney. “Carney dan Kanada telah menjadi simbol perlawanan terhadapnya,” kata sejarawan Kanada Robert Bothwell.
Menurut Bothwell, Trump kemungkinan ingin menjadikan Kanada sebagai contoh agar negara lain takut melawan tekanan AS. Namun, kebijakan tersebut sejauh ini justru menghasilkan efek sebaliknya di Kanada.
Perdana Menteri Carney juga tidak menutup pintu untuk kembali berunding dengan Washington. Namun, ia menegaskan negosiasi hanya dapat berjalan jika AS berhenti menggunakan tekanan, dan kembali melakukan pembicaraan secara serius.
3. Bisakah Kanada benar-benar menang?

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sedang menghadiri KTT G7 di Kanada pada 2018. (flickr.com/The White House via commons.wikimedia.org/The White House) Secara ekonomi, Kanada jelas berada dalam posisi yang lebih lemah. Perekonomian AS sekitar 13 kali lebih besar dari pada Kanada. Lebih dari 70 persen ekspor Kanada juga dikirim ke AS, sehingga ketergantungan terhadap pasar Amerika sangat besar.
Karena itu, secara matematis Kanada menghadapi tantangan berat jika perang dagang berlangsung dalam waktu lama. Dampak tarif terhadap perusahaan Kanada dapat menjadi signifikan, terutama bagi industri yang sangat terintegrasi dengan rantai pasok Amerika Utara.
Namun, Kanada juga memiliki sejumlah kartu yang dapat digunakan untuk menghadapi Washington. Salah satunya adalah ketergantungan AS terhadap komoditas Kanada.
Kilang-kilang minyak AS bergantung pada sekitar 4 juta barel minyak per hari dari Kanada. Petani AS juga sangat bergantung pada pasokan pupuk kalium atau potash dari Kanada.
Ketergantungan tersebut membuat perang dagang tidak sepenuhnya menjadi pertarungan satu arah. Gangguan terhadap pasokan Kanada juga dapat meningkatkan biaya bagi perusahaan dan konsumen AS.
Meski demikian, pemerintah Kanada sejauh ini tidak menggunakan seluruh kekuatan tersebut. Para pemimpin Kanada menolak mengenakan pajak atau pembatasan terhadap sejumlah ekspor penting, yang dapat memberikan tekanan lebih besar kepada ekonomi AS.
Kanada juga memasuki babak baru perang dagang ini dengan kondisi ekonomi yang relatif lebih baik. Perekonomian Kanada tumbuh pada tingkat tahunan 3,2 persen pada kuartal kedua, lebih dari dua kali lipat pertumbuhan AS yang berada di angka 1,5 persen.
Bagi Carney, persoalan ini bukan hanya mengenai tarif. Perang dagang juga berkaitan dengan kemampuan Kanada mempertahankan basis industri dan menentukan kebijakan ekonominya sendiri tanpa tekanan berlebihan dari Washington.
Carney sebelumnya memperingatkan bahwa tuntutan AS dapat membuat industri Kanada secara bertahap dihentikan di Kanada dan dihapuskan. Ancaman tersebut terutama berlaku bagi industri otomotif yang selama ini bergantung pada rantai pasok lintas perbatasan.
Dalam proses produksi kendaraan, komponen dan kendaraan jadi dapat melintasi perbatasan Kanada-AS berkali-kali. Tarif 50 persen terhadap kendaraan dan suku cadang berpotensi meningkatkan biaya produksi, sekaligus harga kendaraan di seluruh Amerika Utara.
Karena itu, keberhasilan Kanada tidak bisa hanya diukur dari apakah Ottawa mampu membuat AS mencabut tarif. Ukurannya juga mencakup, apakah Kanada mampu mempertahankan industrinya, mengurangi ketergantungan terhadap satu pasar, dan tetap menjaga pertumbuhan ekonomi.
4. Kanada mulai cari kekuatan di luar AS

Perdana Menter Kanada Mark Carney (World Economic Forum, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons) Perang dagang Trump telah mendorong perubahan dalam cara Kanada melihat hubungannya dengan AS. Hubungan kedua negara sebelumnya sangat terintegrasi, bukan hanya dalam perdagangan, tetapi juga pertahanan, keamanan, budaya, dan mobilitas penduduk.
Sebelum hubungan memburuk, sekitar 400 ribu orang melintasi perbatasan Kanada-AS setiap hari. Kedua negara juga memiliki jaringan rantai pasok yang sangat erat, setelah bertahun-tahun membangun kerja sama ekonomi Amerika Utara.
Namun, kebijakan Trump telah mengubah persepsi tersebut. Warga Kanada mulai mengurangi perjalanan ke AS, dan melakukan boikot terhadap sejumlah produk Amerika.
Profesor ilmu politik University of Toronto, Nelson Wiseman, mengatakan terpilihnya kembali Trump semakin memperdalam ketidakpercayaan masyarakat Kanada terhadap AS. Menurutnya, persoalan tersebut bahkan tidak lagi sebatas ketidakpercayaan terhadap pemerintah AS, tetapi juga terhadap penilaian masyarakat Kanada mengenai Amerika secara lebih luas.
“Hubungan Kanada-AS, bahkan tanpa konfrontasi, tidak akan pernah seperti sebelum Trump,” ujarnya.
Carney sendiri mulai tampil sebagai salah satu suara internasional yang mendorong negara-negara lain untuk menghadapi tekanan ekonomi dari AS. Dalam Forum Ekonomi Dunia di Davos pada Januari, ia memperingatkan kekuatan besar menggunakan integrasi ekonomi sebagai alat untuk menekan negara yang lebih kecil.
Pidato tersebut ikut mengukuhkan posisi Carney sebagai salah satu pemimpin yang paling vokal dalam menghadapi kebijakan ekonomi Trump. Pekan depan, ia dijadwalkan berbicara di Parlemen Eropa, yang akan memberinya panggung internasional lainnya.
Bagi Kanada, keberhasilan menghadapi Trump juga dapat memberikan contoh bagi negara-negara lain. Jika Ottawa mampu mempertahankan kepentingannya tanpa mengalami kerusakan ekonomi besar, strategi tersebut dapat menjadi model bagi negara lain yang menghadapi tekanan serupa dari Washington.
“Jika pendekatan Kanada yang tegas berhasil, hal itu dapat digunakan sebagai cetak biru untuk menghadapi kebijakan perdagangan pemerintahan Trump,” kata Daniel Béland, ilmuwan politik dari McGill University.
Namun, perang dagang masih jauh dari selesai. Trump telah menunjukkan kesediaan untuk meningkatkan tekanan, sementara Kanada juga tidak menunjukkan tanda-tanda akan menyerah begitu saja.
Menteri Industri Kanada Mélanie Joly bahkan menyatakan keyakinannya negaranya akan mampu melewati konflik tersebut.
“Saya yakin kami akan mampu menunjukkan kepada dunia bahwa Kanada akan memenangkan perang dagang ini,” kata Joly.
Dengan demikian, pertarungan Kanada dan AS bukan hanya persoalan tarif senilai puluhan miliar dolar. Konflik tersebut menjadi ujian bagi kemampuan negara yang ekonominya lebih kecil untuk mempertahankan industri, kedaulatan ekonomi, dan ruang kebijakan ketika berhadapan dengan negara adidaya yang menjadi mitra dagang terbesarnya.











.jpg)










