Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Anggota DPR PDIP Tolak Ide Menteri PPPA: Relokasi Gerbong Bukan Solusi
Anggota komisi VIII DPR RI, Selly Andriany Gantina di kompleks parlemen Senayan, Jakarta Pusat. (Dokumentasi DPR RI)
  • Selly Andriany Gantina menolak usulan relokasi gerbong wanita, menilai akar masalah ada pada sistem keselamatan perkeretaapian yang harus menjamin keamanan seluruh penumpang tanpa diskriminasi.
  • AHY menegaskan evaluasi menyeluruh terhadap posisi gerbong khusus perempuan diperlukan, namun keselamatan harus setara bagi semua penumpang tanpa membedakan jenis kelamin.
  • Menteri PPPA Arifah Choiri Fauzi mengusulkan agar gerbong khusus perempuan dipindahkan ke bagian tengah rangkaian KRL demi mengurangi risiko kecelakaan seperti insiden di Bekasi Timur.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
28 April 2026

Menteri PPPA Arifah Choiri Fauzi mengusulkan agar gerbong khusus perempuan di KRL dipindahkan ke bagian tengah rangkaian setelah menjenguk korban kecelakaan di RSUD Kota Bekasi. Pada hari yang sama, Menko Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono menegaskan perlunya evaluasi penempatan gerbong perempuan dan menekankan bahwa keselamatan tidak boleh dibedakan berdasarkan jenis kelamin.

29 April 2026

Anggota Komisi VIII DPR RI dari Fraksi PDIP, Selly Andriany Gantina, menolak usulan relokasi gerbong perempuan dan menilai akar persoalan terletak pada sistem keselamatan perkeretaapian. Ia mendorong reformasi menyeluruh terhadap standar keamanan transportasi publik tanpa segregasi kontraproduktif.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Anggota DPR RI dari Fraksi PDIP menolak usulan Menteri PPPA untuk merelokasi posisi gerbong khusus perempuan di KRL setelah terjadinya kecelakaan di Stasiun Bekasi Timur.
  • Who?
    Selly Andriany Gantina, anggota Komisi VIII DPR RI dari PDIP; Arifah Choiri Fauzi, Menteri PPPA; serta Agus Harimurti Yudhoyono, Menko Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan.
  • Where?
    Pernyataan disampaikan di Jakarta dan RSUD Kota Bekasi, menyusul insiden tabrakan kereta di Stasiun Bekasi Timur, Jawa Barat.
  • When?
    Pernyataan berlangsung pada Selasa dan Rabu, 28–29 April 2026, setelah kecelakaan yang melibatkan KRL dan KA Argo Bromo Anggrek.
  • Why?
    Selly menilai relokasi gerbong bukan solusi utama karena akar masalah ada pada sistem keselamatan perkeretaapian yang harus menjamin keamanan seluruh penumpang tanpa diskriminasi.
  • How?
    Selly mendorong evaluasi total terhadap sistem keselamatan transportasi publik, termasuk persinyalan, mitigasi tabrakan, prosedur darurat, serta peningkatan standar keamanan berbasis gender tanpa segregasi kontraproduktif.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Ada kecelakaan kereta di Bekasi Timur yang bikin banyak orang sedih. Menteri Arifah bilang gerbong perempuan sebaiknya dipindah ke tengah biar lebih aman. Tapi Bu Selly dari DPR tidak setuju, katanya yang penting itu sistem keselamatan kereta diperbaiki dulu. Pak AHY juga bilang semua orang harus dilindungi, bukan cuma perempuan saja. Sekarang mereka mau cek lagi supaya semua gerbong jadi aman.Ada kecelakaan kereta di Bekasi Timur dan banyak orang jadi takut. Menteri Arifah bilang gerbong perempuan sebaiknya dipindah ke tengah supaya lebih aman. Tapi Bu Selly dari DPR tidak setuju, katanya yang penting sistem keretanya harus aman untuk semua orang. Pak AHY juga bilang laki-laki dan perempuan harus sama-sama selamat. Sekarang mereka mau perbaiki aturan supaya tidak ada korban lagi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Perdebatan antara Menteri PPPA, anggota DPR, dan Menko Bidang Infrastruktur menunjukkan adanya perhatian serius terhadap keselamatan dan kesetaraan penumpang. Setiap pihak berupaya mencari pendekatan terbaik agar perlindungan perempuan tidak menimbulkan kerentanan baru, sekaligus mendorong evaluasi menyeluruh terhadap sistem transportasi publik yang lebih aman bagi semua pengguna.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Anggota Komisi VIII DPR RI, Selly Andriany Gantina, menanggapi usulan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Choiri Fauzi, tentang relokasi gerbong perempuan di KRL menyusul tragedi tabrakan maut di Stasiun Bekasi Timur. Dia menilai, usulan tersebut bukan solusi final.

Menurut Selly, akar persoalan dalam tragedi itu bukan terletak pada penempatan gerbong perempuan yang berada di bagian ujung, melainkan pada sistem keselamatan perkeretaapian yang harus menjamin semua pemumpang.

Selain itu, kata dia, pendekatan kebijakan tidak boleh meletakkan keselamatan perempuan seolah bisa diperoleh dengan memindahkan kerentanan kepada kelompok lain.

"Jangan sampai muncul kesan perlindungan perempuan justru dibangun dengan logika pengorbanan pihak lain. Keselamatan publik tidak boleh berbasis siapa yang ditempatkan sebagai tameng risiko," kata Selly kepada jurnalis, Rabu (29/4/2026).

1. Evaluasi keselamatan perkeretapian bukan formasi gerbong

Anggota Komisi VIII DPR RI, Selly Andriany Gantina. (Istimewa)

Anggota Fraksi PDIP itu mendorong adanya perbaikan dalam tiga hal pokok. Pertama, menekankan pentingnya evaluasi secara total terhadap sistem keselamatan transportasi, bukan hanya fokus terhadap komposisi gerbong.

Menurut dia, KAI dan pemerintah harus fokus pada sejumlah hal, antara lain keselamatan sistem persinyalan, mitigasi tabrakan, prosedur darurat, ketahanan rangkaian kereta, dan desain perlindungan penumpang saat kecelakaan. Jika sistemnya aman, maka posisi gerbong tidak menjadi isu utama.

Kedua, perlindungan perempuan harus hadir tanpa segregasi kontraproduktif. Gerbong perempuan dibentuk untuk memberi rasa aman dari pelecehan dan kekerasan di ruang publik. Hal itu, kata dia, merupakan afirmasi yang penting.

"Namun demikian, afirmasi tersebut jangan diterjemahkan untuk memindahkan posisi fisik gerbong, melainkan memperkuat standar keamanan menyeluruh. Misalnya, panic system, petugas respons cepat, desain evakuasi, dan protokol keselamatan berbasis gender," ujar dia.

Ketiga, tragedi ini dinilai harus menjadi momentum reformasi keselamatan transportasi publik. Dia mengatakan, yang dibutuhkan saat ini bukan sekadar memindahkan gerbong perempuan ke tengah, tetapi memastikan tidak ada gerbong yang boleh menjadi zona berisiko tinggi.

"Ujung aman, tengah aman, seluruh rangkaian aman," ujar Plt Bupati Cirebon itu.

2. AHY tegaskan seluruh penumpang kereta tak boleh jadi korban

Menko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). (IDN Times/Dini Suciatiningrum)

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), mengatakan akan mengevaluasi penempatan gerbong khusus perempuan pada rangkaian commuter line yang selama ini berada di bagian depan dan belakang kereta.

AHY menilai, gerbong yang selama ini dirancang untuk memberikan perlindungan bagi penumpang perempuan justru berada pada posisi yang berisiko tinggi dalam kejadian tertentu.

"Memang belum pernah terjadi sebelumnya ada tumbukan KRL dari belakang dihantam oleh kereta api jarak jauh dan kebetulan yang paling belakang adalah kereta khusus perempuan. Jadi, pasti ada concern mengapa justru yang paling rentan yang kita siapkan secara khusus selama ini gerbongnya, justru mendapatkan risiko yang paling tinggi,” ujar AHY di RSUD Kota Bekasi, Selasa (28/4/2026).

Kendati demikian, AHY menegaskan, keselamatan tidak boleh dibedakan berdasarkan jenis kelamin. Baik laki-laki maupun perempuan, kata dia, harus mendapatkan perlindungan yang sama.

“Ini juga bagian yang akan kita terus evaluasi, tapi yang jelas adalah laki dan perempuan sama saja, tidak boleh menjadi korban dalam insiden apa pun,” kata dia.

3. Menteri PPPA usul gerbong perempuan di tengah

Menteri PPPA

Menteri PPPA, Arifah Choiri Fauzi, mengusulkan agar posisi gerbong khusus perempuan pada kereta commuter line tidak lagi ditempatkan di bagian paling depan atau belakang rangkaian.

Usulan tersebut disampaikan Arifah usai menjenguk korban kecelakaan antara kereta commuter line dengan KA Argo Bromo Anggrek di RSUD Kota Bekasi, Selasa (28/4/2026).

Arifah menjelaskan, selama ini gerbong perempuan ditempatkan di bagian depan dan belakang untuk menghindari penumpukan atau rebutan penumpang. Namun, dia menilai perlu ada evaluasi menyusul insiden kecelakaan tersebut.

“Kalau tadi kita ngobrol dengan KAI, kenapa ditaruh di paling depan, paling belakang supaya tidak terjadi rebutan. Tapi dengan peristiwa ini kita mengusulkan kalau bisa yang perempuan itu ditaruh di tengah. Jadi yang laki-laki di ujung, depan dan belakang, sementara perempuan di tengah,” ujar Arifah.

Editorial Team