Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Iran Tegaskan Tak Ada Pembicaraan Nuklir dalam Negosiasi dengan AS

Iran Tegaskan Tak Ada Pembicaraan Nuklir dalam Negosiasi dengan AS
potret Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi (tasnimnews.ir/Hamed Malekpour via commons.wikimedia.org/Hamed Malekpour)
Intinya Sih
  • Iran menegaskan tidak ada pembicaraan soal penghentian program senjata nuklir dalam negosiasi dengan AS, kecuali jika semua syarat perdamaian Iran diterima sepenuhnya oleh Washington.
  • Syarat Iran mencakup penghentian sanksi ekonomi, perang di kawasan termasuk Lebanon, serta pencairan aset beku; sebagai imbalannya Iran akan membuka kembali Selat Hormuz namun tetap mengontrolnya.
  • Donald Trump mengklaim Iran setuju menghentikan program nuklir, tetapi pemerintah Iran membantah dan menegaskan belum ada kesepakatan final karena negosiasi dengan AS masih berlangsung.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Iran menegaskan tidak ada pembicaraan soal penghentian program senjata nuklir dalam negosiasi damai dengan Amerika Serikat (AS). Namun, Iran mengatakan pembicaraan hal tersebut bakal dilakukan jika AS mau menerima semua syarat perdamaian dari Iran. 

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menjelaskan, jika AS menyepakati semua syarat damai, maka Iran akan segera mendeklarasikan kemenangan atas Washington. “Iran akan jadi pemenang perang atas AS,” kata Araghchi pada Jumat (12/6/2026), seperti dikutip Jerusalem Post

1. Ada sejumlah syarat perdamaian yang harus dipatuhi oleh AS

Syarat-syarat yang tertera di dalam sebuah dokumen.
ilustrasi syarat perdamaian (pexels.com/RDNE Stock project)

Araghchi menjelaskan, ada sejumlah syarat perdamaian yang harus dipatuhi oleh AS. Beberapa di antaranya adalah penghentian sanksi ekonomi terhadap Iran dan penghentian perang. Araghchi mengatakan, penghentian perang harus meliputi Iran dan Lebanon. Artinya, jika AS berhenti berperang dengan Iran, maka Israel juga harus berhenti berperang dengan Lebanon. 

Selain itu, AS juga harus menghentikan pembekuan aset-aset milik Iran yang jumlahnya mencapai miliaran dolar. Sebagai gantinya, Iran akan menghentikan blokade Selat Hormuz. Sebab, pada Kamis (11/6/2026) lalu, Iran kembali menutup penuh salah satu jalur strategis perdagangan global tersebut. Kendati begitu, Iran menegaskan akan tetap mengontrol Selat Hormuz secara penuh. Sebab, menurut Araghchi, Iran punya kedaulatan penuh akan selat tersebut.

2. Pembicaraan nuklir Iran bakal digelar selama 60 hari

Negosiasi perdamaian di antara dua negara.
ilustrasi negosiasi perdamaian (pexels.com/Monstera Production)

Araghchi menambahkan, jika AS menyetujui semua syarat tadi, maka pembicaraan nuklir akan segera digelar. Pembicaraan akan dilakukan selama 60 hari. Meski begitu, Araghchi menegaskan akan tetap mempertahankan program senjata nuklir dan cadangan uranium Iran dari ancaman AS. 

Dalam kesempatan lain, AS mengatakan akan menghentikan program nuklir Iran sepenuhnya. Setelah itu, AS juga akan mengambil atau menghancurkan semua cadangan uranium milik Iran. Ini bertujuan agar Iran sama sekali tidak bisa kembali mengembangkan program senjata nuklirnya. Sebab, uranium merupakan bahan utama untuk membuat senjata tersebut.

3. Donald Trump klaim Iran setuju menghentikan program senjata nuklir

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sedang menerima tamu di Gedung Putih pada 15 September 2025.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sedang menerima tamu di Gedung Putih pada 15 September 2025. (flickr.com/The White House via commons.wikimedia.org/The White House)

Sebelumnya, Presiden AS, Donald Trump, mengklaim Iran telah bersedia menghentikan program senjata nuklirnya agar bisa berdamai dengan AS. Oleh karena itu, Trump yakin kesepakatan damai dengan Iran bisa segera diraih.  

Namun, klaim Trump tadi dibantah oleh Iran. Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan hingga saat ini mereka belum mencapai kesepakatan apa pun dengan AS. Sebab, negosiasi Teheran dan Washington masih berlanjut.

"Sejauh ini, Iran belum mencapai kesimpulan akhir mengenai kesepakatan tersebut," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, dalam sebuah pernyataan yang diberikan kepada AFP, Kamis, dikutip CBS News

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar

Related Articles

See More