Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
AS dan Iran Gagal Damai, Ma’ruf Amin: RI Harus Siap Hadapi Dampak
Wakil Presiden ke-13 RI sekaligus ulama senior Nahdlatul Ulama, Ma'ruf Amin, dalam acara Halal Bihalal Majelis Alumni PBNU di Jakarta Pusat, Minggu (12/4/2026)/ IDN Times Dini Suciatiningrum
  • Perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran gagal mencapai kesepakatan setelah lebih dari 20 jam negosiasi, dengan kedua pihak masih memiliki perbedaan mendasar.
  • Ma’ruf Amin menilai kegagalan ini disebabkan oleh kepentingan terselubung yang menghambat tercapainya solusi damai untuk kebaikan bersama.
  • Ma’ruf mengingatkan Indonesia agar bersiap menghadapi dampak global dari konflik AS-Iran yang berpotensi memengaruhi berbagai sektor nasional.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
1979

Terjadi Revolusi Islam Iran yang menjadi latar belakang hubungan tegang antara Amerika Serikat dan Iran.

12 April 2026

Perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran berlangsung intens selama lebih dari 20 jam namun gagal mencapai kesepakatan. Wakil Presiden AS JD Vance menyatakan delegasi AS meninggalkan ruang negosiasi di Pakistan dan bersiap kembali ke Washington.

12 April 2026

Di Jakarta Pusat, Ma’ruf Amin menanggapi kegagalan perundingan tersebut dengan mengingatkan Indonesia agar bersiap menghadapi dampak global dari konflik AS-Iran.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran berakhir tanpa kesepakatan konkret setelah lebih dari 20 jam pembicaraan, memicu kekhawatiran akan dampak global termasuk terhadap Indonesia.
  • Who?
    Mantan Wakil Presiden RI Ma’ruf Amin, Wakil Presiden AS JD Vance, serta delegasi dari Amerika Serikat dan Iran terlibat dalam pernyataan dan proses negosiasi tersebut.
  • Where?
    Pernyataan Ma’ruf Amin disampaikan di Jakarta Pusat, sementara perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran berlangsung di Pakistan.
  • When?
    Kejadian berlangsung pada Minggu, 12 April 2026, saat kedua pihak mengakhiri pembicaraan tanpa hasil dan Ma’ruf Amin memberikan tanggapannya di hari yang sama.
  • Why?
    Kegagalan terjadi karena masih adanya perbedaan mendasar antara posisi Amerika Serikat dan Iran, dengan masing-masing pihak mempertahankan kepentingannya sendiri dalam negosiasi.
  • How?
    Delegasi AS meninggalkan ruang negosiasi setelah tidak tercapai titik temu; Ma’ruf Amin kemudian menyerukan agar Indonesia bersiap menghadapi potensi dampak ekonomi dan politik akibat situasi tersebut.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Amerika dan Iran ngobrol lama tapi masih belum damai. Mereka beda pendapat dan tidak mau saling nurut. Pak Ma’ruf Amin bilang Indonesia harus siap kalau ada efeknya. Katanya perang bisa bikin banyak negara susah, termasuk kita. Sekarang orang-orang masih cemas karena belum ada hasil baik dari pembicaraan itu.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Meskipun perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran belum mencapai hasil, pernyataan Ma’ruf Amin menunjukkan sikap kewaspadaan dan kesiapan Indonesia dalam menghadapi dinamika global. Pandangan ini mencerminkan kesadaran nasional yang matang terhadap potensi dampak internasional, sekaligus menegaskan pentingnya kesiapan sebagai langkah tangguh menghadapi ketidakpastian dunia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Kegagalan perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran memicu kekhawatiran akan dampak yang lebih luas secara global. Mantan Wakil Presiden Ma’ruf Amin, mengingatkan Indonesia untuk bersiap menghadapi berbagai konsekuensi yang mungkin timbul dari situasi tersebut.

Menurut Ma’ruf, kegagalan negosiasi tidak lepas dari adanya kepentingan masing-masing pihak yang belum menemukan titik temu.

“Kalau tidak ada kepentingan, kepentingannya untuk kebaikan bersama, pasti tidak akan terjadi kegagalan. Tapi kalau gagal, berarti ada kepentingan terselubung, tidak sungguh-sungguh untuk mencari solusi damai,” kata Ma’ruf kepada wartawan di Jakarta Pusat, Minggu (12/4/2026).

1. Dampak ke Indonesia

Wakil Presiden ke-13 RI sekaligus ulama senior Nahdlatul Ulama, Ma'ruf Amin, dalam acara Halal Bihalal Majelis Alumni PBNU di Jakarta Pusat, Minggu (12/4/2026)/ IDN Times Dini Suciatiningrum

Ia menilai, konflik yang berkepanjangan hanya akan membawa dampak negatif secara luas, tidak hanya bagi kedua negara yang berseteru, tetapi juga bagi negara lain, termasuk Indonesia.

“Perang ini menyusahkan semua, membawa kesusahan di seluruh sektor. Semua negara pasti terkena dampaknya,” ujarnya.

2. Indonesia tidak bisa hindari efek dinamika global

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump saat Kongres. (AFP/Kenny Holston)

Ma’ruf juga menekankan bahwa Indonesia tidak bisa menghindari efek dari dinamika global tersebut. Oleh karena itu, kesiapan menghadapi dampak menjadi hal yang penting.

“Kita mungkin tidak menginginkan itu, tapi ketika sudah terjadi, kita harus siap menghadapi dampaknya. Indonesia pasti juga akan terdampak di berbagai sektor,” jelasnya.

3. Pembicaraan damai Amerika Serikat dan Iran belum ada hasil

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump saat Kongres. (AFP/Kenny Holston)

Pembicaraan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang berlangsung intens selama lebih dari 20 jam belum menghasilkan kesepakatan konkret. Wakil Presiden AS JD Vance mengakui perundingan tersebut masih menemui jalan buntu.

Berbicara kepada wartawan di Pakistan pada Minggu (12/4/2026), Vance menyampaikan, delegasi Amerika Serikat telah meninggalkan ruang negosiasi dan bersiap kembali ke Washington.

Ia menegaskan, masih terdapat sejumlah perbedaan mendasar antara kedua pihak. Menurutnya, Iran belum bersedia menerima sejumlah syarat yang diajukan oleh Amerika Serikat.

“Masih ada kekurangan dalam pembicaraan dan Iran memilih untuk tidak menerima syarat dari AS,” kata Vance, dilansir Al Jazeera.

Perundingan ini sendiri menjadi momen penting karena merupakan pertemuan tatap muka pertama antara kedua negara sejak Revolusi Islam Iran pada 1979.

Editorial Team