Jakarta, IDN Times - Kamis (13/8/2026) seharusnya menjadi momen penuh sukacita bagi keluarga kami. Hari itu istri saya, Divika Wina, merayakan ulang tahun.
Namun, hari bahagia tersebut mendadak berubah jadi ujian mental yang tak terlupakan. Sebuah pemeriksaan kesehatan gratis di Puskesmas Pasar Minggu, Jakarta Selatan, membuka tabir kekhawatiran baru soal kondisi kesehatannya.
Awalnya, Divika sekadar ingin memanfaatkan program Cek Kesehatan Gratis dari pemerintah bagi warga yang sedang berulang tahun. Ia sama sekali tak merasakan gejala atau keluhan fisik.
Bahkan, dua pekan sebelumnya ia baru saja menjalani pemeriksaan Magnetic Resonance Imaging (MRI) di sebuah rumah sakit swasta di Jakarta Selatan dengan hasil medis yang menyatakan tubuhnya sehat. Kami melangkah ke puskesmas dengan pikiran tenang, hanya untuk formalitas memastikan kondisi fisik.
Setibanya di lokasi, Divika memindai kode QR pendaftaran lalu menjalani alur pemeriksaan secara runut. Tim medis memeriksa kesehatan gigi, mata, kulit, hingga layanan di Poli Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) serta Keluarga Berencana (KB).
Semuanya semula terasa wajar. Situasi berubah drastis saat pemeriksaan di Poli KIA-KB selesai. Dokter menemukan indikasi peradangan pada mulut rahim dan terlontar istilah yang memicu ketakutan hebat: dugaan pra-kanker serviks.
Informasi itu kemudian disampaikan Divika kepada saya melalui pesan singkat.
