Cegah Stroke, 130 Juta Warga Ditargetkan Ikut Cek Kesehatan Gratis

- Pemerintah menargetkan 130 juta warga ikut Program Cek Kesehatan Gratis hingga 2026 untuk deteksi dini hipertensi, diabetes, dan kolesterol sebagai langkah pencegahan stroke.
- Strategi 80-80-80 diterapkan agar sebagian besar penduduk teridentifikasi, tertangani, dan mampu mengendalikan kondisi kesehatannya di tengah tingginya angka kematian akibat stroke.
- Pemerintah memperkuat fasilitas kesehatan dengan CT scan dan cath lab di seluruh kabupaten/kota serta mendorong sinergi multidisiplin guna mempercepat diagnosis dan menekan angka kematian stroke.
Jakarta, IDN Times - Pemerintah menargetkan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) menjangkau 130 juta penduduk pada 2026. Program ini digencarkan untuk mendeteksi secara dini hipertensi, diabetes, dan kolesterol tinggi yang menjadi faktor risiko utama stroke.
Menteri Kesehatan (Menkes), Budi Gunadi Sadikin, mengatakan, pemerintah tengah menggeser fokus penanganan kesehatan dengan memperkuat upaya pencegahan. Dalam lima tahun mendatang, program skrining kesehatan ditargetkan menjangkau 280 juta penduduk atau sekitar 80 persen populasi.
“Prevalensi hipertensi di Indonesia hampir 20 persen dan diabetes lebih dari 10 persen. Daripada menunggu sampai stroke terjadi, kita harus mengendalikan faktor risiko ini sedini mungkin,” ujar Budi dalam Indonesia Collaborative Neuro-Networks Summits (ICONNS) 2026 di Jakarta, Jumat (10/7/2026), dikutip dari siaran pers, Minggu (12/7/2026).
Table of Content
1. Pemerintah terapkan pendekatan 80-80-80

Dalam upaya menekan kasus stroke, pemerintah menerapkan pendekatan 80-80-80. Strategi tersebut menargetkan 80 persen penduduk dapat teridentifikasi kondisi kesehatannya, 80 persen dari mereka yang teridentifikasi mendapat penanganan, serta 80 persen dari pasien yang ditangani berhasil mengendalikan kondisi kesehatannya.
Langkah tersebut dilakukan di tengah tingginya angka kematian akibat stroke di Indonesia. Budi menyebut, sekitar 300 ribu orang meninggal akibat stroke setiap tahun.
Menurut Budi, angka kematian sebenarnya di lapangan diperkirakan dapat mencapai dua hingga tiga kali lebih besar karena masih banyak kasus di berbagai daerah yang belum tercatat dalam sistem registrasi nasional.
Stroke juga disebut menjadi beban pembiayaan kesehatan terbesar ketiga dalam Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dengan total klaim lebih dari Rp5 triliun setiap tahun.
“Setiap tahun sekitar 300 ribu orang meninggal akibat stroke. Saya sangat terlibat secara pribadi karena ibu saya sendiri mengalami stroke ketika berusia 70 tahun. Saat itu, di kota kami bahkan belum tersedia CT scan sehingga harus dibawa ke kota lain dan sudah terlambat. Ibu saya mengalami kelumpuhan selama sembilan tahun,” kata Budi.
2. Seluruh kabupaten/kota ditargetkan punya CT scan dan cath lab

Selain memperkuat pencegahan, pemerintah juga mempercepat kesiapan fasilitas kesehatan untuk menangani pasien stroke. Pemerintah menargetkan seluruh 514 kabupaten/kota memiliki fasilitas CT scan dan cath lab.
Penyediaan fasilitas tersebut dinilai penting karena keberhasilan penanganan stroke sangat bergantung pada kecepatan diagnosis dan tindakan medis dalam periode emas atau golden period.
Kemenkes mengklaim akan mendorong kompetensi tenaga medis. Dokter bedah umum di tingkat kabupaten/kota akan dilatih melakukan prosedur kraniotomi untuk mengevakuasi hematoma pada kasus stroke hemoragik.
Sementara itu, di tingkat provinsi pemerintah menyiapkan peralatan Cavitron Ultrasonic Surgical Aspirator (CUSA), neuronavigasi, dan mikroskop operasi di seluruh 38 provinsi. Upaya pencegahan hingga penguatan layanan stroke tersebut sejalan dengan target pemerintah untuk meningkatkan usia harapan hidup masyarakat dari 72 tahun menjadi 76 tahun dalam lima tahun mendatang.
3. Penanganan stroke membutuhkan sinergi multidisiplin

Direktur Utama RS Pusat Otak Nasional (RS PON) Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta, Adin Mulkasana, mengatakan, penanganan penyakit neurologi seperti stroke membutuhkan kecepatan diagnosis dan sinergi lintas disiplin medis.
“Melalui ICONNS 2026, kita membangun standarisasi klinis yang seragam di seluruh daerah. Sinergi multidisiplin ini menjadi kunci utama untuk menurunkan angka kematian dan kecacatan permanen akibat stroke di Indonesia,” ucap Adin.




















