Jakarta, IDN Times - Posisi gerbong perempuan yang berada di paling belakang kereta commuter line atau KRL menjadi sorotan, pasca-kecelakaan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir–Surabaya Pasar Turi dengan KRL rute Kampung Bandan–Cikarang pada 27 April 2026 pukul 20.52 WIB.
Sebanyak 15 korban tewas KRL semuanya adalah perempuan, karena dua gerbong terakhir mengalami kerusakan paling parah dalam insiden berdarah ini.
Selama ini, gerbong perempuan memang selalu berada di ujung depan dan belakang rangkaian KRL, bukan di tengah. Penempatan ini ternyata bukan tanpa alasan. Ada pertimbangan teknis dan operasional yang membuat pola tersebut dianggap paling efektif. Lantas, apa sebenarnya alasan gerbong perempuan berada di pinggir?
