Ahmadiyah: Pelaku Pembubaran Camping Terafiliasi Kelompok Radikal

- Jemaah Ahmadiyah Indonesia masih melakukan evaluasi dan investigasi internal untuk mencari akar penyebab pembubaran kegiatan camping remaja di Karanganyar, yang biasanya digelar rutin setiap tahun.
- Dua hari sebelum acara, JAI menerima informasi adanya penolakan dari Forum Ukhuwah Islam Solo Raya yang kemudian menggelar demonstrasi hingga aparat membubarkan kegiatan pada malam harinya.
- Dalam evaluasi awal, JAI menyoroti keterlibatan kelompok masyarakat tertentu yang berada di garis depan saat pembubaran terjadi, namun analisis final mengenai akar masalah masih terus dilakukan.
Jakarta, IDN Times - Jemaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) masih melakukan evaluasi dan investigasi internal terkait pembubaran kegiatan camping atau kemah remaja dan anak-anak di Karanganyar, Solo, Jawa Tengah, Jumat, 5 Juni 2026.
Amir Nasional (Amirnas) JAI, Zaki Firdaus Syahid, mengatakan pihaknya tengah menganalisis akar persoalan di balik pembubaran kegiatan yang rutin digelar setiap tahun tersebut. Saat wawancara bersama IDN Times dalam program Ngobrol Seru, ia menyoroti kelompok yang berada di garis depan saat penolakan terjadi.
Table of Content
1. JAI masih investigasi akar pembubaran camping

JAI saat ini masih melakukan evaluasi dan investigasi internal untuk mengetahui penyebab pembubaran kegiatan camping yang berlangsung pada malam pertama pelaksanaan.
“Kami saat ini masih sedang melakukan evaluasi dan juga investigasi di internal, termasuk menganalisa apa sebetulnya yang menjadi akar masalah dari hal ini,” kata Zaki dalam program Ngobrol Seru by IDN Times, Jumat, 12 Juni 2026.
2. Penolakan camping disebut sudah muncul sebelum kegiatan berlangsung

Pemimpin JAI nasional itu mengungkapkan, pihaknya telah menerima informasi mengenai adanya penolakan terhadap kegiatan camping, dua hari sebelum pelaksanaan.
“Sampai dengan dua hari sebelum pelaksanaan, itu kami mendapatkan informasi bahwa ada pihak yang menolak kegiatan tersebut. Pihak tersebut mengatasnamakan Forum Ukhuwah Islam Solo Raya (FUUI),” kata Zaki.
Saat itu, JAI juga mendapat informasi kelompok Forum Ukhuwah Islam Solo Raya akan menggelar demonstrasi di lokasi kegiatan camping. Aksi tersebut kemudian berlangsung pada Jumat, 5 Juni 2026 siang, camping hari pertama dengan jumlah massa diperkirakan 20 hingga 30 orang.
“Mereka menuntut supaya seluruh peserta membubarkan diri, tetapi demonstrasi itu juga dijaga aparat. Pada saat itu, dari pihak kami melakukan negosiasi, dan juga beberapa kali sebetulnya sudah ada kesepakatan dengan pihak aparat,” ucap Zaki.
Namun, menurut Zaki, kesepakatan tersebut tidak berlangsung lama. Pada Jumat malam, pihaknya mengaku tidak lagi diberikan ruang untuk bernegosiasi, sehingga aparat bergerak ke area tenda untuk membubarkan kegiatan.
“Aparat langsung bergerak turun ke tenda-tenda, menyebar, kemudian menyampaikan lewat pengeras suara untuk segera merapikan tenda, membubarkan tempat, serta segera meninggalkan tempat,” kata dia.
3. JAI soroti kelompok yang berada di garis depan saat kejadian

Dalam evaluasi awal yang dilakukan, Zaki menilai, terdapat kelompok masyarakat yang berada di garis depan saat peristiwa pembubaran berlangsung. Namun, ia menegaskan, JAI masih melakukan analisis lebih lanjut dan belum menyimpulkan secara final mengenai akar persoalan di balik kejadian tersebut.
“Kalau melihat yang kami bisa lihat ya bahwa ada kelompok masyarakat yang terafiliasi dengan kelompok-kelompok Islam garis keras, yang selama ini memang cukup vokal dalam menyuarakan aspirasi mereka dan mengutamakan kekerasan, ketimbang upaya-upaya dialog dan upaya-upaya membangun komunikasi. Nah, ini sepertinya menjadi kelompok yang memang berada di depan pada saat kejadian,” tutur Zaki.

















