Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
BMKG Ungkap 54,5 Persen Wilayah RI Sudah Masuk Musim Kemarau
ilustrasi musim kemarau (pexels.com/AlesVeluscek)
  • BMKG mencatat pertengahan Juli 2026, 509 zona musim atau 54,5 persen daratan Indonesia memasuki kemarau, terutama selatan khatulistiwa, Kalimantan Timur, Sulawesi, Maluku, dan Papua.
  • Puncak kemarau 2026 diprediksi berlangsung Agustus–September; 48,84 persen wilayah memuncak pada Agustus dan 25,41 persen pada September. Sebanyak 437 zona musim diperkirakan lebih kering serta lebih panjang.
  • Monitoring dasarian II Juli mencatat 1.366 titik tanpa hujan 20–30 hari, 943 titik 1–2 bulan, dan 70 titik lebih dari 60 hari. Wilayah ekuator masih mengalami hujan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
BMKG bilang lebih dari separuh daratan Indonesia sudah masuk musim kemarau pada pertengahan Juli 2026. Banyak tempat di selatan khatulistiwa, Kalimantan Timur, Sulawesi, Maluku, dan Papua mulai kering. Tapi ada tempat yang masih hujan. Kemarau paling besar diperkirakan terjadi pada Agustus dan September. Banyak tempat mungkin lebih kering dan lebih lama tidak hujan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut pada pertengahan Juli 2026, sekitar 509 zona musim yang mencakup 54,5 persen dari luas daratan Indonesia, tengah mengalami musim kemarau. Hal ini disampaikan Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, dalam konferensi pers yang dilaksanakan secara online melalui siaran langsung di akun YouTube resmi BMKG, Info BMKG. 

“Jadi sudah 509 zona musim atau 54,5 persen dari luasan wilayah Indonesia sudah memasuki musim kemarau,” ujar dia dalam konferensi pers, Kamis (30/07/2026).

Meskipun begitu, Ardhasena memaparkan, masih terdapat 77 zona musim yang masih mengalami musim hujan, dan 113 zona musim yang tidak memiliki musim kemarau (tipe 1 musim). 


1. Wilayah yang sudah musim kemarau

ilustrasi musim kemarau (freepik.com/sergeycauselove)

Ardhasena mengungkapkan, beberapa wilayah yang sudah masuk musim kemarau saat ini mayoritas berada di wilayah selatan khatulistiwa. Selain itu, Dia menyebut musim kemarau juga telah terjadi di sebagian Kalimantan Timur, sebagian besar Sulawesi, Maluku, dan Papua. 

“Bisa kita lihat wilayah yang udah masuk musim kemarau mayoritas di selatan khatulistiwa, sebagian juga Kalimantan Timur dan sebagian besar Pulau Sulawesi, Maluku dan sebagian Pulau Papua,” ungkapnya.


2. Puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada Agustus–September 2026

ilustrasi musim kemarau (unsplash.com/Keagan Henman)

Ardhasena juga menjelaskan, prediksi puncak musim kemarau 2026 masih konsisten dengan proyeksi yang telah disampaikan pada Maret dan Mei 2026. Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus hingga September, dengan 48,84 persen wilayah Indonesia mencapai puncaknya pada Agustus dan 25,41 persen pada September. 

“Seperti yang kami sampaikan di press release Maret dan Mei yang lalu bahwa puncak musim kemarau 2026 ini diprediksi mayoritas pada bulan Agustus hingga September 2026 masing-masing 48,84 persen luasan wilayah Indonesia memasuki puncak musim kemaraunya di Agustus. Dan September sekitar 25,41 persen,” ujar dia.

Selain itu, sebanyak 437 zona musim (48,77 persen dari luas daratan Indonesia) diprediksi mengalami musim kemarau yang lebih kering dengan durasi yang lebih panjang dari biasanya.

“Juga konsisten dengan press release yang kami sampaikan di Maret dan Mei yang lalu bahwa sebagian besar wilayah Indonesia akan mengalami musim kemarau yang di bawah normal atau lebih kering dan juga mengalami durasi yang lebih panjang dari normalnya,” lanjut dia. 

3. BMKG ungkap hasil monitoring HTH di wilayah Indonesia

ilustrasi sinar matahari (unsplash.com/CHUTTERSNAP)

Ardhasena mengungkap hasil monitoring BMKG terkait Hari Tanpa Hujan (HTH) pada dasarian II Juli 2026. Tercatat ada 1.366 titik yang mengalami HTH panjang (20–30 hari tanpa hujan), 943 titik dengan HTH sangat panjang (1–2 bulan tanpa hujan), serta 70 titik yang mengalami HTH ekstrem panjang (lebih dari 60 hari tanpa hujan). 

Ia juga menjelaskan, musim kemarau di Indonesia diawali dari wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) sebelum secara bertahap merambat ke arah barat. 

“Kita lihat wilayah Indonesia bagian tenggara bagian timur itu dominan warnanya adalah merah dan merah muda dan yang seperti informasi yang lalu-lalu kami sampaikan musim kemarau selalu bermulai dari wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) lalu kemudian secara perlahan merambat ke barat,” jelas dia. 


4. Wilayah Indonesia di sekitar ekuator masih terdapat hujan

ilustrasi hujan deras sebagai bagian dari kondisi cuaca harian (pexels.com/Md Nadim Mahmud)

Lebih lanjut, Ardhasena menjelaskan, wilayah Indonesia yang berada di sekitar ekuator masih didominasi warna hijau pada peta pemantauan BMKG. Hal itu menunjukkan wilayah tersebut memiliki pola iklim yang berbeda dengan mayoritas wilayah di Pulau Jawa dan kawasan selatan khatulistiwa, sehingga masih terdapat hujan.

“Di gambar ini juga kita melihat bahwa wilayah-wilayah Indonesia di sekitar ekuator itu masih banyak yang berwarna hijau, itu menunjukkan juga bahwa di wilayah tersebut memiliki sistem atau pola iklim yang berbeda dengan mayoritas kita yang berada di Pulau Jawa atau di selatan khatulistiwa,” ungkap dia.

Ardhasena menambahkan, kondisi tersebut juga terlihat dari banjir yang sempat terjadi di Tapanuli beberapa waktu lalu. Oleh karena itu, ia menegaskan bahwa pola musim kemarau maupun dampak El Nino tidak berlangsung secara sama di seluruh wilayah Indonesia. 

“Di wilayah yang berwarna hijau itu masih banyak hujan karena di sana tipe iklimnya adalah equatorial beberapa minggu yang lalu bahkan kita melihat adanya banjir di Tapanuli. Jadi pesannya juga dari slide ini adalah pola kemarau tidak sama di Indonesia. Dampak dari El Nino juga tidak seragam di indonesia karena negara kita ini besar sekali, ya,” sambungnya.


Editorial Team

Related Article