Menteri PPPA: Hari Anak Nasional Uji Kepedulian Orang Dewasa

- Menteri PPPA Arifah Fauzi menegaskan Hari Anak Nasional menjadi momen evaluasi kepedulian orang dewasa dalam memenuhi hak, perlindungan, dan lingkungan aman bagi anak.
- Arifah menyatakan anak berhak hidup, tumbuh, berkembang, didengar, serta terlindungi dari kekerasan, diskriminasi, dan penelantaran; kualitas bangsa tercermin dari perlakuannya terhadap anak.
- Surabaya diapresiasi meraih Kota Layak Anak kategori Utama ketujuh kali, sementara orang tua diajak hadir dan mendengarkan anak; pemerintah kota memprioritaskan pengasuhan serta perlindungan keluarga.
Jakarta, IDN Times - Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, menegaskan Hari Anak Nasional (HAN) bukan sekadar perayaan tahunan, tetapi momentum untuk mengingatkan semua pihak memenuhi hak dan perlindungan anak.
"Hari Anak Nasional sesungguhnya bukan hanya milik anak-anak. Hari ini adalah hari untuk mengukur diri kita sebagai orang dewasa. Apakah kita sudah menjadi orang tua yang mendengar anak, guru yang menguatkan anak, pemerintah yang menghadirkan layanan terbaik bagi anak, dan masyarakat yang menjadi lingkungan aman bagi mereka?" ujar Arifah, saat menghadiri peringatan Hari Anak Nasional Tingkat Kota Surabaya 2026, dikutip Kamis (30/7/2026).
1. Menteri PPPA minta hak anak jadi prioritas

Arifah mengatakan anak berhak hidup, tumbuh, berkembang, didengar pendapatnya, serta mendapat perlindungan dari kekerasan, diskriminasi, dan penelantaran.
"Sebab kualitas sebuah bangsa tidak hanya diukur dari tingginya gedung yang dibangun, tetapi dari seberapa baik bangsa itu memperlakukan anak-anaknya," ujar dia.
2. Surabaya diapresiasi atas perlindungan anak

Arifah mengapresiasi Surabaya yang kembali meraih predikat Kota Layak Anak kategori Utama untuk ketujuh kalinya. Menurutnya, inovasi perlindungan hak nafkah anak pasca-perceraian dapat menjadi contoh bagi daerah lain.
"Praktik baik ini kami harapkan dapat menginspirasi daerah-daerah lain di Indonesia," kata dia.
3. Orang tua diminta lebih hadir untuk anak

Arifah mengajak orang tua lebih banyak meluangkan waktu mendengarkan anak, karena perlindungan anak dimulai dari keluarga.
"Luangkan waktu untuk mendengarkan cerita anak. Letakkan telepon genggam sejenak, tatap mata mereka, dan dengarkan tanpa menghakimi. Sering kali yang dibutuhkan anak bukan jawaban, melainkan kehadiran kita," pungkas dia.
Dalam acara yang sama, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti mengajak anak membiasakan tujuh kebiasaan positif.
Sementara, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menegaskan pemenuhan hak anak menjadi prioritas melalui berbagai program pengasuhan dan perlindungan keluarga.



















