Serangan perdana dilakukan oleh Iran pada Selasa (28/7/2026). Kala itu, Teheran kembali menyerang pangkalan militer AS yang ada di Yordania. Imbas serangan ini, Trump mengamuk dan langsung menegaskan akan membalas Iran dengan serangan yang lebih dahsyat. “Saya akan mengalahkan para bajingan (Iran) itu,” kata Trump, seperti dilansir The New Arab.
AS-Iran Saling Serang Lagi, Negosiasi Damai Kembali Mandek

- Iran menyerang pangkalan militer AS di Yordania pada 28 Juli 2026, memicu Donald Trump memerintahkan CENTCOM melancarkan serangan balasan ke puluhan target militer Iran.
- Kesepakatan penghentian serangan pada pekan sebelumnya gagal meredakan konflik. Negosiasi damai yang sempat direncanakan kembali tertunda setelah kedua negara melanjutkan bentrokan.
- Konflik meluas ke Timur Tengah: AS dan Arab Saudi menyerang milisi sekutu Iran di Irak, sementara tanker minyak AS di Pelabuhan Damietta, Mesir, terkena serangan drone.
Jakarta, IDN Times - Amerika Serikat dan Iran kini kembali terlibat aksi saling serang. Hal ini membuat negosiasi perdamaian lanjutan antara Washington dan Teheran jadi kembali tertunda. Padahal, Presiden AS, Donald Trump, sudah berharap negosiasi bisa segera berlanjut.
1. Trump langsung meminta pasukan AS menyerang Iran

Usai mengamuk, Trump langsung meminta pasukan Komando Tengah (CENTCOM) militer AS yang bertugas di Timur Tengah untuk menggempur Iran. Tidak lama setelah itu, CENTCOM pun meluncurkan serangan balasan ke Iran pada Rabu (29/7/2026) malam waktu setempat. CENTCOM mengklaim pihaknya berhasil menyerang puluhan target militer yang ada di Iran dalam serangan tersebut.
“Pasukan AS mulai melancarkan serangan terhadap Iran pada pukul 8 malam waktu bagian timur pada tanggal 29 Juli. Serangan tersebut merupakan respons yang kuat terhadap serangan Iran pada tanggal 28 Juli terhadap pasukan AS yang berbasis di Timur Tengah. Serangan-serangan itu bertujuan untuk lebih mengurangi ancaman yang ditimbulkan oleh Iran dan proksinya terhadap pasukan AS, pelayaran komersial, dan negara-negara Teluk tetangga,” jelas CENTCOM dilansir The Strait Times.
2. AS dan Iran sepakat menghentikan serangan pada pekan lalu

AS dan Iran sendiri sebetulnya sudah sepakat untuk berhenti saling serang pada pekan lalu. Kesepakatan ini membuat Trump sempat merasa optimistis bahwa AS dan Iran akan segera melanjutkan negosiasi damai. Negosiasi AS dan Iran sebetulnya sudah direncanakan akan digelar setelah prosesi pemakaman Ayatollah Ali Khamenei pada 9 Juli lalu. Namun, upaya itu tertunda karena kedua negara kembali terlibat bentrokan pada 11 Juli.
Awalnya, keputusan untuk menghentikan serangan dilakukan oleh AS pada Jumat (24/7/2026) pekan lalu usai Trump dinasihati bawahannya untuk berhenti menyerang Iran. Sebab, persediaan senjata milik militer AS kini kian menipis. Tidak lama kemudian, keputusan ini diikuti oleh Iran pada Minggu (26/7/2026). Namun, Iran mengatakan akan kembali menyerang AS jika mereka memulai konflik.
3. Perang antara AS dan Iran sudah meluas ke negara lain di Timur Tengah

Saat ini, perang antara AS dan Iran sudah meluas ke negara lain di Kawasan Timur Tengah, termasuk Irak. Sebab, sebelum menyerang Iran pada Rabu malam, AS dan Arab Saudi menyerang milisi sekutu Iran yang ada di Irak. Milisi Irak tersebut diduga telah membantu Iran berperang melawan AS. Namun, tidak dijelaskan apa nama dari milisi tersebut.
Masih pada hari yang sama, kapal tanker minyak milik AS yang sedang bersandar di Pelabuhan Damietta, Mesir, dihantam serangan drone. Serangan tersebut membuat kapal mengalami sejumlah kerusakan. Namun, tidak diketahui siapa dalang di balik serangan tersebut.



















