Jakarta, IDN Times - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengklarifikasi pernyataannya mengenai 94 warga Nusa Tenggara Timur (NTT) yang terdampak gempa meninggal di tempat pengungsian. Data tersebut mengejutkan publik lantaran jumlah korban yang meninggal di tempat pengungsian terlampau tinggi.
Sedangkan, warga yang meninggal akibat terdampak langsung oleh gempa mencapai 48 jiwa. Maka penyampaian data oleh Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi, Berton Panjaitan pada Rabu kemarin menjadi viral di media sosial. Tetapi, hari ini Berton menjelaskan penyebab banyaknya korban meninggal di tempat pengungsian karena mayoritas dari mereka merupakan lansia. Selain itu, mereka telah mengidap penyakit bawaan.
"Kami meluruskan bahwa 94 warga tersebut tidak meninggal akibat trauma fisik langsung atau reruntuhan bangunan akibat gempa bumi. Data dari tim medis menunjukkan sebagian besar warga tersebut adalah kelompok lansia yang meninggal dunia karena komplikasi penyakit kronis yang sudah diderita, seperti stroke dan diabetes melitus," ungkap Berton di dalam video yang dirilis oleh BNPB pada Kamis (17/9/2026).
Ia menambahkan proses penanganan medis bagi pengungsi telah dilaksanakan secara maksimal di berbagai fasilitas dan pos kesehatan terpadu. "Kami juga ingin memastikan layanan kesehatan dasar dan kesehatan bagi para penyintas tetap terlaksana optimal," tutur dia.
