Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

UNGA 81: RI Bawa Pesan Dunia Sedang Tak Baik-Baik Saja

6 min read
UNGA 81: RI Bawa Pesan Dunia Sedang Tak Baik-Baik Saja
Juru bicara Kementerian Luar Negeri RI Yvonne Mewengkang. (IDN Times/Marcheilla Ariesta)
  • Indonesia membawa pesan penguatan ketahanan nasional dan regional sebagai dasar ketahanan global di UNGA 81.
  • Diplomasi Indonesia menekankan multilateralisme yang menghasilkan kerja sama konkret, hukum internasional, dialog, dan negosiasi.
  • Sugiono dijadwalkan menghadiri sekitar 22 agenda, termasuk pertemuan MIKTA, OKI, dan bilateral di New York.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Mana pesan Indonesia di UNGA 81 yang paling penting?
Share Article

Jakarta, IDN TimesIndonesia akan membawa pesan mengenai pentingnya membangun ketahanan global melalui penguatan ketahanan nasional dan regional dalam rangkaian High-Level Week (HLW) Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNGA) ke-81 di New York, Amerika Serikat.

Pesan tersebut menjadi salah satu inti diplomasi Indonesia dalam General Debate UNGA 81 yang akan dihadiri Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Sugiono sebagai Head of Delegation atau Kepala Delegasi Indonesia.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI Yvonne Mewengkang mengatakan Indonesia melihat kondisi dunia saat ini diwarnai berbagai guncangan dan tekanan. Situasi geopolitik, konflik, ketidakpastian ekonomi, hingga krisis pangan dan energi menjadi bagian dari tantangan yang dihadapi negara-negara.

Selain itu, perubahan iklim dan gangguan rantai pasok juga menjadi persoalan yang membutuhkan respons bersama. Dalam situasi seperti itu, Indonesia menilai ketahanan tidak dapat hanya dibangun pada tingkat global.

“Jadi kita balik dulu ke ketahanan nasional, dan kita punya ketahanan regional, lalu kemudian kita ke ketahanan global,” ujar Yvonne dalam briefing media mengenai rencana partisipasi Indonesia pada UNGA 81, di kantor Kemlu RI, Kamis (17/9/2026).

  1. 1. Dunia hadapi guncangan, RI dorong ketahanan berlapis

    IMG_1103.jpeg
    Press briefing Kementerian Luar Negeri RI, Kamis (17/9/2026). (IDN Times/Marcheilla Ariesta)

    Menurut Yvonne, situasi global saat ini menunjukkan bahwa negara-negara tidak dapat hanya mengandalkan sistem global untuk menghadapi berbagai guncangan. Penguatan ketahanan perlu dimulai dari kemampuan masing-masing negara, kemudian diperkuat melalui kerja sama di tingkat kawasan.

    Pendekatan tersebut menjadi dasar pesan Indonesia di UNGA 81. Indonesia ingin menghubungkan ketahanan nasional dengan ketahanan regional hingga akhirnya berkontribusi terhadap ketahanan global.

    “Ini sebenarnya core message-nya, dunia saat ini tidak baik-baik saja, dunia saat ini sedang menghadapi guncangan, tekanan, geopolitik, konflik, ketidakpastian ekonomi, and then krisis pangan, energi, perubahan iklim, sampai gangguan rantai pasok,” kata Yvonne.

    Ia mengatakan Indonesia tidak hanya ingin memperkuat ketahanan di dalam negeri, tetapi juga meningkatkan kontribusinya terhadap ketahanan global.

    “Indonesia ingin memperkuat kontribusi kita untuk lebih efektif dan konkret bagi ketahanan global,” ujarnya.

    Pendekatan tersebut sekaligus menempatkan pembangunan ketahanan sebagai bagian dari kontribusi Indonesia dalam kerja sama internasional. Artinya, penguatan kapasitas nasional dipandang dapat menjadi dasar bagi Indonesia untuk berkontribusi lebih konkret dalam menghadapi tantangan bersama.

  2. 2. Multilateralisme harus hasilkan dampak konkret

    IMG_1102.jpeg
    Press briefing Kementerian Luar Negeri RI, Kamis (17/9/2026). (IDN Times/Marcheilla Ariesta)

    Selain ketahanan global, Indonesia akan membawa pesan mengenai pentingnya memperkuat multilateralisme. Bagi Indonesia, keberadaan sistem multilateral dan kerja sama antarnegara tetap penting dalam menghadapi persoalan yang tidak dapat diselesaikan oleh satu negara saja.

    Indonesia juga akan menekankan pentingnya penghormatan terhadap hukum internasional dan Piagam PBB. Penyelesaian konflik secara damai, dialog, serta negosiasi juga menjadi prinsip yang akan kembali ditekankan dalam pesan Indonesia.

    Yvonne mengatakan Indonesia tidak ingin multilateralisme hanya dipahami sebagai sebuah konsep. Sistem tersebut harus mampu menghasilkan kerja sama dan hasil yang konkret.

    “Efektif multilateralisme adalah multilateralisme yang mampu menghasilkan hasil-hasil yang juga konkret,” ujar Yvonne.

    Dengan pendekatan tersebut, Indonesia ingin mendorong sistem multilateral yang tidak berhenti pada pertemuan dan pernyataan politik, tetapi mampu menghasilkan respons terhadap berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat dan negara-negara.

    Pesan itu akan dibawa Indonesia dalam rangkaian HLW UNGA 81, yang memiliki tema “Restoring Trust, Managing Transformation, A United Nations That Delivers For All.”

  3. 3. Perdamaian dan Palestina jadi pesan penting

    Artis yang bungkam soal konflik Israel-Palestina
    Ilustrasi artis yang bungkam soal konflik Israel-Palestina (Unsplash.com/teguhyudhatama)

    Komitmen terhadap perdamaian dunia juga akan menjadi bagian dari pesan Indonesia di UNGA 81. Salah satu isu yang secara khusus disebut adalah Palestina.

    Yvonne mengatakan Palestina menjadi contoh konkret bagaimana Indonesia menerjemahkan komitmennya terhadap perdamaian dan hukum internasional.

    “Palestina adalah contoh konkret bagaimana Indonesia menerjemahkan komitmen kita terhadap perdamaian dan hukum internasional,” katanya.

    Namun, menurut Yvonne, pesan Indonesia tidak hanya sebatas menyatakan dukungan kepada Palestina. Indonesia akan menempatkan isu tersebut dalam kerangka yang lebih luas mengenai penyelesaian konflik dan penghormatan terhadap prinsip-prinsip hukum internasional.

    “Pesannya nanti bukan hanya Indonesia mendukung Palestina, tapi lebih luas, Indonesia konsisten memperjuangkan penyelesaian konflik melalui hukum internasional, penghormatan terhadap kedaulatan, dan juga perlindungan warga sipil, akses kemanusiaan, dan lain sebagainya,” ujar Yvonne.

    Dengan demikian, isu Palestina akan dibawa sebagai bagian dari pesan Indonesia mengenai penyelesaian konflik secara damai, penghormatan terhadap hukum internasional, perlindungan warga sipil, serta akses kemanusiaan.

  4. 4. RI perkuat peran sebagai bridge builder

    IMG_0518.jpeg
    Menlu Sugiono dalam kegiatan UNRWA di sela UNGA . (IDN Times/Marcheilla Ariesta)

    Dalam forum multilateral tersebut, Indonesia juga akan membawa pesan mengenai perannya sebagai bridge builder. Posisi ini menjadi salah satu bagian dari agenda diplomasi Indonesia di tengah berbagai kepentingan dan dinamika yang muncul dalam hubungan internasional.

    Indonesia juga akan mendorong penguatan Global South. Pesan tersebut akan berjalan beriringan dengan upaya memperkuat multilateralisme dan memastikan sistem internasional dapat menjadi ruang kerja sama yang lebih inklusif.

    Yvonne sebelumnya menyebut penguatan multilateralisme dan inklusivitas sebagai bagian dari pesan yang akan dibawa Indonesia selama HLW UNGA 81.

    Selain itu, Indonesia juga akan mengangkat isu reformasi PBB. Reformasi lembaga tersebut menjadi salah satu dari enam prioritas Presiden Majelis Umum PBB (SMU PBB) ke-81, bersama perdamaian dan keamanan, pembangunan berkelanjutan, aksi iklim dan lingkungan, hak asasi manusia, serta tata kelola digital dan kecerdasan artifisial (AI).

    Keenam prioritas tersebut akan menjadi bagian dari konteks pembahasan dalam rangkaian UNGA 81. Indonesia sendiri akan menekankan perlunya penguatan sistem multilateral dan reformasi PBB dalam pesan diplomatiknya.

  5. 5. Pembangunan nasional masuk diplomasi Indonesia

    WhatsApp Image 2025-09-23 at 10.00.38 (1).jpeg
    Presiden, Prabowo Subianto bicara dalam High Level International Conference for the Peaceful Settlement of the Question of Palestine and the Implementation of the Two State Solution di sela kegiatan High Level Week UNGA di Markas Besar PBB, New York, Senin (21/9/2025). (IDN Times/Marcheilla Ariesta)

    Indonesia juga akan membawa capaian pembangunan nasional dalam rangkaian HLW UNGA 81. Isu tersebut menjadi bagian dari pesan yang akan disampaikan dalam berbagai agenda diplomasi Indonesia di New York.

    Penguatan ketahanan nasional menjadi salah satu dasar pendekatan Indonesia. Ketahanan tersebut kemudian dihubungkan dengan kemampuan kawasan untuk menghadapi tekanan dan pada akhirnya memperkuat ketahanan global.

    Pendekatan ini menempatkan kepentingan nasional dan kontribusi internasional dalam satu rangkaian. Indonesia ingin menunjukkan bahwa kemampuan menghadapi guncangan di tingkat nasional dapat menjadi bagian dari kontribusi terhadap kerja sama regional dan global.

    Yvonne menegaskan Indonesia ingin memperkuat kontribusinya agar lebih efektif dan konkret bagi ketahanan global.

    Pesan tersebut akan dibawa tidak hanya dalam General Debate. Menlu Sugiono juga dijadwalkan menghadiri sekitar 22 agenda selama HLW UNGA 81, termasuk sejumlah pertemuan tingkat tinggi dan pertemuan yang dimandatkan.

  6. 6. Sugiono hadiri pertemuan MIKTA dan OKI

    IMG_0479.jpeg
    Menlu Sugiono dalam sesi G20 di sela UNGA 80 di Markas Besar PBB. (IDN Times/Marcheilla Ariesta)

    Selain agenda utama UNGA, Sugiono dijadwalkan menghadiri berbagai pertemuan tingkat tinggi lainnya. Di antaranya adalah pertemuan MIKTA dan OKI.

    Menlu juga akan melakukan sejumlah pertemuan bilateral dengan negara-negara lain. Kemlu menyebut agenda bilateral tersebut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan Sugiono selama berada di New York.

    Selain agenda diplomasi tersebut, pemerintah Indonesia akan menyelenggarakan resepsi diplomatik di New York dalam rangka kampanye pencalonan Indonesia sebagai anggota tidak tetap DK PBB periode 2029–2030.

    Melalui rangkaian agenda tersebut, Indonesia akan membawa sejumlah isu yang saling berkaitan, mulai dari ketahanan nasional dan regional, penguatan multilateralisme, perdamaian, Palestina, hukum internasional, reformasi PBB, hingga penguatan Global South.

    Pesan utama Indonesia diarahkan pada upaya membangun ketahanan yang berlapis. Ketahanan nasional menjadi fondasi, ketahanan regional menjadi penguat, dan keduanya diharapkan dapat berkontribusi terhadap ketahanan global di tengah berbagai guncangan dan ketidakpastian yang dihadapi dunia.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More