Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
BNPB-BMKG Maksimalkan OMC untuk Tekan Karhutla di Papua Selatan
Personel TNI Angkatan Udara (AU) ketika memasukan dry ice dan natrium klorida untuk modifikasi cuaca di Sumatra Selatan dan Kalimantan. (IDN Times/Santi Dewi)
  • BNPB dan BMKG mengintensifkan penanganan karhutla di Merauke melalui Operasi Modifikasi Cuaca, drone, dan pemantauan digital real-time untuk mendeteksi titik api.

  • Pemantauan tiga hari terakhir menunjukkan titik api terbanyak berada di wilayah konsesi perusahaan; sistem digital membantu mengidentifikasi lokasi kebakaran dan status penguasaan lahannya.

  • OMC berlangsung 22 Oktober–5 November 2026, dengan 13 sorti dan 13.000 kilogram NaCl hingga 30 Oktober; BMKG menyiapkan peta potensi titik api serta prakiraan hujan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
22 Oktober hingga 5 November 2026

OMC untuk mendukung penanganan darurat karhutla di Papua Selatan dijadwalkan berlangsung dengan pesawat Cessna Caravan C208B PK-SCG.

30 Oktober 2026

OMC telah melaksanakan 13 sorti penyemaian awan dengan penggunaan 13.000 kilogram NaCl.

31 Oktober 2026

Kepala BNPB dan Kepala BMKG meninjau pelaksanaan OMC di Pangkalan Udara Johannes Abraham Dimara, Merauke, untuk mengevaluasi dukungan operasi udara dan kebutuhan tambahan.

kini

BNPB mengoptimalkan drone dan sistem pemantauan digital untuk mendeteksi titik api serta status penguasaan lahan secara langsung. BNPB juga mengkaji bahan semai lain, termasuk dry ice, sesuai kondisi atmosfer dan kebutuhan operasi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    BNPB dan BMKG mengintensifkan penanganan kebakaran hutan dan lahan di Papua Selatan melalui Operasi Modifikasi Cuaca, drone, serta sistem pemantauan digital untuk mendeteksi titik api.
  • Who?
    BNPB, BMKG, Kepala BNPB Letjen TNI Kristomei Sianturi, Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani, pemerintah daerah, serta petugas operasi udara terlibat dalam penanganan karhutla.
  • Where?
    Penanganan difokuskan di Provinsi Papua Selatan, khususnya Kabupaten Merauke, termasuk wilayah Okaba dan area konsesi perusahaan. Peninjauan berlangsung di Lanud Johannes Abraham Dimara, Merauke.
  • When?
    Peninjauan OMC dilakukan Sabtu, 31 Oktober 2026. OMC dijadwalkan berlangsung dari 22 Oktober hingga 5 November 2026; hingga 30 Oktober telah dilakukan 13 sorti penyemaian awan.
  • Why?
    Langkah ini dilakukan untuk menekan dan mempercepat pemadaman karhutla, menyusul ditemukannya titik api di Merauke, terutama di wilayah konsesi perusahaan, ketika curah hujan masih terbatas.
  • How?
    Operasi memakai pesawat Cessna Caravan C208B untuk penyemaian awan dengan NaCl, didukung pemantauan drone dan digital. BNPB juga mengkaji dry ice, sementara BMKG menyediakan analisis atmosfer, peta potensi api, dan prakiraan hujan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
BNPB dan BMKG sedang membantu memadamkan kebakaran hutan di Merauke, Papua Selatan. Mereka melihat titik api dengan drone dan alat komputer. Mereka juga menerbangkan pesawat untuk membantu membuat hujan. Kebakaran banyak terlihat di beberapa tempat, termasuk lahan perusahaan. Operasi ini berjalan sampai 5 November 2026.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Kolaborasi BNPB dan BMKG di Papua Selatan memperlihatkan penanganan karhutla yang semakin berbasis informasi lapangan. Drone, pemantauan digital, analisis atmosfer, dan prakiraan hingga tingkat kecamatan memberi petugas dasar yang lebih jelas untuk mengenali titik api, menyesuaikan metode OMC, serta mengarahkan dukungan ke wilayah yang membutuhkan perhatian.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terus mengintensifkan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Papua Selatan, khususnya Kabupaten Merauke.

Upaya tersebut dilakukan melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) serta pemanfaatan teknologi drone dan sistem pemantauan digital untuk mendeteksi titik api secara lebih akurat dan real-time.

Komitmen tersebut ditunjukkan melalui peninjauan langsung pelaksanaan OMC oleh Kepala BNPB Letjen TNI Kristomei Sianturi bersama Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani di Pangkalan Udara Johannes Abraham Dimara, Merauke, Sabtu (31/10/2026).

Peninjauan ini dilakukan untuk mengevaluasi dukungan operasi udara sekaligus mengidentifikasi kebutuhan tambahan guna mempercepat penanganan karhutla.

“Wilayah-wilayah seperti Okaba dan beberapa wilayah lainnya di Merauke memang memiliki titik api. Namun, dari hasil pemantauan selama tiga hari terakhir, titik api paling banyak terlihat di wilayah konsesi perusahaan itu,” ungkap Kristomei dalam keterangannya.

1. BNPB manfaatkan drone untuk pantau titik api

Personel TNI Angkatan Udara (AU) sedang menyiapkan alat untuk melakukan modifikasi cuaca baik dengan menyebar dry ice dan menyemari NaCl. (Dokumentasi Puspen TNI)

BNPB kini mengoptimalkan penggunaan drone dan sistem pemantauan digital untuk mengetahui posisi titik api secara langsung. Teknologi tersebut juga memungkinkan petugas mengidentifikasi lokasi serta status penguasaan lahan tempat kebakaran terjadi.

Dengan informasi tersebut, petugas dapat melakukan pengecekan secara lebih cepat dan terarah. Pengawasan terhadap wilayah konsesi perkebunan maupun kawasan hutan juga bisa diperkuat.

“Sekarang kita mempunyai sistem yang bisa melihat langsung ke titiknya. Lahan-lahan konsesi atau hutan itu milik siapa, bisa kita lihat hari ini,” tegas Kristomei.

2. BNPB kaji penggunaan bahan semai untuk OMC

Personel TNI Angkatan Udara (AU) sedang menyiapkan alat untuk melakukan modifikasi cuaca baik dengan menyebar dry ice dan menyemari NaCl. (Dokumentasi Puspen TNI)

Selain memperkuat pemantauan, BNPB juga mengevaluasi kebutuhan dukungan operasi pemadaman bersama BMKG, termasuk melalui pelaksanaan OMC. Kristomei menjelaskan, setiap wilayah memiliki karakteristik tanah dan kondisi lingkungan yang berbeda sehingga strategi penanganan karhutla tidak bisa disamaratakan.

Kondisi lahan di Papua Selatan, menurutnya, perlu dipelajari lebih lanjut untuk menentukan metode penanganan yang paling sesuai. Selain menggunakan Natrium Klorida (NaCl) dalam OMC, BNPB juga mempertimbangkan kemungkinan penggunaan bahan semai lain, seperti dry ice. Namun, penerapannya tetap perlu dikaji berdasarkan kondisi atmosfer dan kebutuhan operasi.

“Kami datang ke sini untuk melihat dan mendata apa lagi yang bisa dilakukan di lapangan, sehingga kebakaran di kawasan perkebunan maupun wilayah lainnya bisa terus ditekan dan segera dipadamkan. Curah hujan masih terbatas, sehingga kita perlu melihat langkah tambahan yang bisa dilakukan, apakah melalui operasi modifikasi cuaca dengan NaCl, dry ice, atau metode lain yang sesuai,” ujar Kristomei.

3. OMC di Papua Selatan berlangsung hingga 5 November 2026

Personel TNI Angkatan Udara (AU) sedang menyiapkan alat untuk melakukan modifikasi cuaca baik dengan menyebar dry ice dan menyemari NaCl. (Dokumentasi Puspen TNI)

Pelaksanaan OMC untuk mendukung penanganan darurat karhutla di Papua Selatan dijadwalkan berlangsung pada 22 Oktober hingga 5 November 2026. Operasi ini didukung pesawat Cessna Caravan C208B dengan nomor registrasi PK-SCG.

Hingga Jumat (30/10/2026), operasi tersebut telah melaksanakan 13 sorti penyemaian awan dengan total penggunaan bahan semai NaCl sebanyak 13.000 kilogram.

Faisal mengungkapkan, pada akhrinya pelaksanaan OMC di Papua Selatan tetap membutuhkan analisis kondisi atmosfer dan prakiraan cuaca yang spesifik untuk wilayah sasaran.

Untuk mendukung langkah antisipasi, BMKG akan menyampaikan peta wilayah yang berpotensi mengalami kemunculan titik api baru. Selain peta potensi kebakaran, BMKG juga akan menyediakan informasi prakiraan hujan lebat melalui sistem pemantauan cuaca.

“Dari sistem pemantauan BMKG, kami juga akan menyampaikan kapan hujan lebat berpotensi terjadi dan wilayah mana yang perlu menyiapkan antisipasi. Prakiraan ini mencakup tiga hingga sepuluh hari ke depan, dengan kerapatan jaringan informasi hingga tingkat kecamatan,” ungkap Faisal.

Dukungan data BMKG tersebut diharapkan membantu BNPB, dan pemerintah daerah menentukan langkah penanganan secara lebih terarah. Informasi cuaca dapat dimanfaatkan untuk mengoptimalkan pelaksanaan OMC sekaligus mengantisipasi potensi kebakaran baru dan hujan lebat di Papua Selatan.

Curated For You

Editorial Team

Related Article