BMKG: Masuk Periode Basah, OMC Digelar di Wilayah Terdampak Karhutla

BMKG memprediksi potensi hujan meningkat di Kalimantan Tengah dan Sumatra Selatan dalam beberapa hari ke depan.
Operasi modifikasi cuaca melibatkan 15 pesawat dan kerja sama BMKG dengan BNPB, Kementerian Kehutanan, serta TNI.
Musim hujan diperkirakan mundur 20–30 hari akibat El Nino, dengan puncak pada Desember 2026 hingga Februari 2027.
Jakarta, IDN Times - Kabar baik datang bagi wilayah yang masih dilanda kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi sejumlah wilayah rawan karhutla berpotensi mengalami hujan dalam beberapa hari ke depan.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengatakan potensi pertumbuhan awan hujan di Kalimantan Tengah cukup tinggi hingga lima hari ke depan. Sementara itu, potensi serupa di Sumatra Selatan juga diperkirakan meningkat.
“Betul. Di Kalimantan Tengah, potensi pertumbuhan awan cukup tinggi mulai hari ini hingga lima hari ke depan. Sementara itu, di Sumatra Selatan, potensinya tinggi mulai besok hingga lima hari berikutnya,” ujar Faisal di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (26/10/2026).
Menurut Faisal, BMKG bersama sejumlah instansi terkait terus mengupayakan penanganan karhutla melalui operasi modifikasi cuaca (OMC). Operasi tersebut dilakukan secara masif untuk meningkatkan peluang terjadinya hujan di wilayah yang membutuhkan penanganan kebakaran.
“Sekarang pelaksanaan operasi modifikasi cuaca (OMC) dilakukan secara masif. Ini mungkin salah satu operasi terbesar yang pernah dilakukan di Indonesia,” kata dia.
1. Masuk periode basah

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Teuku Faisal Fathani (IDN Times/Ilman Nafi'an) Faisal menjelaskan, sebanyak sembilan pesawat dikerahkan untuk mendukung operasi modifikasi cuaca di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan. Sementara itu, enam pesawat lainnya beroperasi di Sumatra Selatan.
“Ada sembilan pesawat yang aktif di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan, kemudian enam pesawat di Sumatra Selatan. Harapannya, minggu ini menjadi periode basah sehingga ada potensi hujan,” ucap dia.
BMKG berharap, potensi hujan tersebut dapat membantu memadamkan kebakaran yang masih terjadi. Faisal menyebut Sumatra Selatan dan Kalimantan Tengah menjadi dua provinsi yang mendapat perhatian khusus karena tingkat kebakarannya masih cukup tinggi.
“Kami akan bekerja keras untuk memadamkan semaksimal mungkin kebakaran yang terjadi, khususnya di dua provinsi yang saat ini masih memiliki tingkat kebakaran cukup tinggi, yaitu Sumatra Selatan dan Kalimantan Tengah,” ucap dia.
2. OMC kerja sama lintas kementerian dan lembaga

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, dalam webinar A 20 Years Commemoration of the 2006 Pangandaran Tsunami: Understanding The Past and Strengthening The Future Resilience, Kamis (16/7/2026). (dok. BMKG) Faisal mengatakan pelaksanaan operasi modifikasi cuaca dilakukan sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto dan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK). BMKG berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian Kehutanan, dan TNI untuk mendukung upaya penanganan karhutla.
“Sesuai dengan arahan Bapak Presiden dan Bapak Menko PMK, kami bekerja sama dengan BNPB, Kementerian Kehutanan, dan TNI,” kata dia.
Dalam pelaksanaannya, operasi tersebut mengombinasikan penggunaan dry ice atau es kering dengan natrium klorida (NaCl) atau garam. BMKG juga memanfaatkan pesawat Hercules, CN-295, serta pesawat lain milik TNI untuk mendukung operasi di wilayah sasaran.
“Kami melakukan operasi yang mengombinasikan penggunaan dry ice dengan NaCl atau garam. Atas arahan Bapak Presiden, operasi ini dilaksanakan secara masif. Kami juga menggunakan pesawat Hercules, CN-295, dan pesawat lain milik TNI,” kata dia.
3. Musim hujan mundur 30 hari akibat El Nino

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani (tengah). (Foto/BMKG) Di tengah upaya penanganan karhutla, BMKG juga mengingatkan masyarakat untuk bersiap menghadapi musim hujan yang diperkirakan datang lebih lambat. Faisal menyebut pengaruh El Nino menyebabkan awal musim hujan di Indonesia rata-rata mundur sekitar 20 hingga 30 hari.
“Musim hujan rata-rata di seluruh Indonesia diperkirakan mundur sekitar dua hingga tiga dasarian, atau 20–30 hari, akibat pengaruh El Nino. Musim hujan juga akan terakumulasi cukup banyak dalam durasi yang lebih pendek, dengan sifat hujan normal. Jadi, kita harus bersiap mulai sekarang,” ujar dia.
Faisal menjelaskan, sebagian wilayah Indonesia diperkirakan memasuki musim hujan pada November hingga Desember 2026. Adapun puncak musim hujan diprediksi berlangsung pada Desember 2026 hingga Februari 2027.
“Sebagian wilayah Indonesia memasuki musim hujan pada November hingga Desember. Puncaknya nanti pada Desember, Januari, dan Februari. Ini yang perlu kita waspadai karena sifat hujannya normal, artinya berdasarkan rata-rata klimatologi 30 tahun terakhir, jumlah hujan yang turun relatif sama, tetapi durasinya lebih pendek. Untuk akhir tahun ini hingga awal tahun depan, bencana hidrometeorologi basah perlu kita waspadai bersama,” kata Faisal.
Menurut dia, masyarakat dan pemerintah daerah perlu meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi basah, seperti banjir dan tanah longsor. Hal tersebut perlu menjadi perhatian karena hujan diperkirakan terkonsentrasi dalam durasi yang lebih pendek.




















