Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Cerita Dokter di Bogor Gratiskan Pengobatan Warga Tak Mampu
Pengambilan obat di layanan praktik dr. Anisa di Kota Bogor. (Isitmewa)
  • Dokter Anisa Charismawati dan suaminya merintis klinik bersubsidi di Bogor sejak 2015, tergerak setelah melihat warga mampu berobat tetapi kesulitan membeli makanan.
  • Klinik menggratiskan pengobatan bagi yatim piatu dan janda tua dhuafa yang terverifikasi, sementara pasien umum otomatis mendapat subsidi 40 persen dengan layanan medis profesional.
  • Defisit operasional sekitar Rp520 juta sejak 2021 ditutup dari bisnis estetika, sementara klinik kini menghadapi kenaikan sewa 250 persen menjelang kontrak berakhir September.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Dokter Anisa dan suaminya membuka klinik di Bogor untuk membantu orang sakit. Anak yatim dan nenek miskin bisa berobat gratis. Orang lain dapat potongan biaya 40 persen. Uang dari jualan skincare dipakai membantu klinik. Sekarang klinik tetap berjalan, walau sewa tempatnya akan naik banyak.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bogor, IDN Times – Di tengah tingginya biaya layanan kesehatan saat ini, seorang dokter membuka prakrik layanan kesehatan bersubsidi di Jalan Raya Cimanggu, Kelurahan Kedung Badak, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor, hadir membawa secercah harapan.

Tempat praktik dokter ini menggratiskan biaya pengobatan sepenuhnya bagi anak yatim piatu dan janda tua duafa, serta memberikan subsidi khusus bagi pasien umum.

"Dari dulu mimpi saya cuma satu: pengen punya rumah sakit untuk anak yatim dan duafa," ujar pendiri klinik, dr. Anisa Charismawati, Sabtu, 8 Agustus 2026.

1. Berawal dari kepedulian melihat pasien kesulitan makan

Illustrasi perawat dan pasien (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

Anisa menceritakan awal mula perjalanannya merintis tempat praktik bersama sang suami, dr. Ma'ruf Washil Latif, sejak September 2015.

Niat mulia pasangan dokter ini lahir dari pengalaman batin yang mendalam, ketika melihat realitas di sekitar tempat praktiknya pada 2017. Mereka mendapati banyak warga yang sebenarnya bisa membayar biaya berobat, tetapi setelah itu tidak bisa makan karena uangnya habis untuk menebus obat.

"Rupanya di sekitar klinik banyak sekali warga yang membutuhkan bantuan. Ada kejadian pasien bisa bayar biaya berobat, tapi setelah itu dia gak bisa makan, karena uangnya habis dipakai beli obat. Dari situ hati kami terketuk," kata Anisa.

2. Terapkan subsidi silang dari bisnis estetika untuk tutupi defisit

Lokasi Praktik dr. Anisa di Jalan Raya Cimanggu, Kelurahan Kedung Badak, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor. (Istimewa)

Berangkat dari prinsip enggan mengambil keuntungan dari orang sakit, dr. Anisa memutar otak agar operasional klinik tetap berjalan tanpa membebani pasien. Ia terjun ke bisnis produk perawatan kulit (skincare) dan estetika secara daring, di mana hasilnya digunakan secara konsisten untuk menutupi defisit operasional klinik.

Secara pembukuan finansial murni, operasional klinik ini mengalami defisit hingga sekitar Rp520 juta sejak 2021, yang seluruhnya ditopang dari keuntungan bisnis estetika.

"Tapi buat kami, semakin pembukuan klinik ini minus, berarti semakin banyak masyarakat yang merasakan manfaatnya," tegasnya.

3. Gratis 100 persen untuk yatim dan duafa, subsidi otomatis 40 persen bagi umum

ilustrasi membuat SKTM (pexels.com/Pixabay)

Klinik ini melayani ratusan pasien setiap bulannya. Untuk anak yatim dan janda tua tidak mampu yang telah melalui verifikasi ketat (melampirkan KK, surat keterangan kematian, rapor, atau SKTM), seluruh biaya pengobatan digratiskan 100 persen.

Sementara itu, bagi masyarakat umum, pihak klinik memberikan subsidi otomatis sebesar 40 persen, dengan tarif total rata-rata hanya sekitar Rp100 ribu sebelum dipotong subsidi.

Menariknya, meskipun terjangkau atau gratis, kualitas obat yang diresepkan tetap menggunakan obat paten berstandar rumah sakit swasta besar seperti RS Vania, lengkap dengan penanganan medis profesional.

4. Bertahan di tengah ujian kenaikan sewa demi amal jariyah

Ilustrasi amal jariyah inspiratif Sadio Mane untuk desanya di Senegal. (Pinterest/Xavier Tyler)

Perjalanan klinik non-profit ini tidak selalu mulus. Setelah sempat menghadapi ujian berat saat pandemi COVID-19 di mana dokter pengganti mereka gugur kini klinik tersebut dihadapkan pada tantangan kenaikan tarif sewa tempat hingga 250% karena masa kontrak lima tahunnya segera berakhir pada September mendatang.

Kendati dihadapkan pada pilihan sulit dan hitungan angka yang defisit, pasangan dokter ini memilih untuk terus bertahan demi niat ibadah dan amal jariyah. "Kami ingin ketika kelak meninggal dunia, ada jejak kebaikan dan wujud wakaf kebermanfaatan yang terus mengalir," pungkas Anisa.

Editorial Team

Related Article