PBB Prediksi Rekonstruksi Gaza Butuh Biaya Rp1.283 Triliun

- UNCTAD memperkirakan rekonstruksi Gaza membutuhkan 71,5 miliar dolar AS, mencakup perbaikan fisik serta pemulihan kerugian ekonomi dan sosial warga Palestina.
- Kerusakan akibat serangan sejak Oktober 2023 melumpuhkan ekonomi Gaza: 92 persen usaha terdampak, pengangguran mencapai 78 persen, pendapatan per kapita turun, dan harga kebutuhan pokok melonjak.
- Board of Peace menyiapkan 66 proyek pemulihan awal senilai 2,45 miliar dolar AS, tetapi pendanaan minim, puing menumpuk, dan keamanan menghambat pembangunan.
Jakarta, IDN Times - Badan Perdagangan dan Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNCTAD) memperkirakan kebutuhan rekonstruksi Jalur Gaza mencapai 71,5 miliar dolar AS atau setara Rp1.283 triliun. Taksiran ini dipaparkan dalam laporan resmi di Jenewa, Swiss, pada Kamis (24/9/2026). Biaya tersebut mencakup perbaikan kerusakan fisik serta pemulihan kerugian ekonomi dan sosial warga Palestina.
Penilaian gabungan PBB, Bank Dunia, dan Uni Eropa mencatat sektor perumahan sebagai sektor dengan kerusakan paling parah. Di saat bersamaan, lembaga internasional Board of Peace (BoP) mulai merancang program pemulihan awal untuk wilayah tersebut. Namun, krisis pendanaan dan situasi keamanan di lapangan masih menjadi hambatan utama.
1. Ekonomi Gaza lumpuh dan angka pengangguran melonjak

pemandangan Jalur Gaza (unsplash.com/Mohammed Ibrahim) Laporan PBB mencatat kerusakan infrastruktur fisik di Gaza mencapai 35,2 miliar dolar AS atau setara Rp631,5 triliun. Sementara itu, kerugian ekonomi dan sosial warga diperkirakan menyentuh 22,7 miliar dolar AS (sekitar Rp407,2 triliun). PBB memperingatkan bahwa total kebutuhan rekonstruksi masih dapat naik jika konflik terus berlangsung.
Serangan militer Israel sejak Oktober 2023 telah merusak atau menghancurkan 92 persen unit usaha di Gaza. Akibatnya, tingkat pengangguran melonjak hingga 78 persen dan lebih dari 90 persen penduduk usia kerja kehilangan pekerjaan. Hilangnya lapangan kerja telah melenyapkan pendapatan hingga 2,8 miliar dolar AS atau setara Rp50,2 triliun di seluruh wilayah Palestina.
Pendapatan per kapita warga Gaza dilaporkan anjlok menjadi 212 dolar AS atau setara Rp3,8 juta per tahun pada 2025. Angka ini setara dengan 0,58 dolar AS atau sekitar Rp10.400 per orang per hari. Lonjakan harga barang kebutuhan pokok di Gaza juga menembus 274 persen dibanding sebelum perang. Sementara itu, sektor industri dan pertanian di Gaza anjlok 94 persen, menyisakan kurang dari 1,5 persen lahan tani yang masih dapat digunakan warga.
"Runtuhnya perekonomian Gaza adalah krisis ekonomi paling parah yang pernah tercatat di dunia," ujar Pelaksana Tugas Sekretaris Jenderal UNCTAD Pedro Manuel Moreno, dilansir The New Arab.
2. Board of Peace siapkan 66 proyek pemulihan awal

Konferensi Gaza di Mesir pada 13 Oktober 2025 yang dihadiri berbagai pemimpin dunia (President.az, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons) Board of Peace (BoP) yang didukung Amerika Serikat (AS) merancang program pemulihan enam bulan senilai 2,45 miliar dolar AS atau setara Rp44 triliun. Rencana tersebut dipaparkan dalam pertemuan di New York di sela Sidang Majelis Umum PBB pada Rabu. Program ini memuat 66 daftar proyek darurat untuk memulai perbaikan fasilitas publik.
Prioritas utama proyek ini mencakup pembersihan puing bangunan, penyediaan hunian sementara, dan perbaikan fasilitas medis. Rencana ini juga mencakup pengadaan 25 ribu unit pembangkit listrik tenaga surya portabel serta perbaikan pos lintas batas. BoP turut menargetkan penutupan permanen terowongan bawah tanah di lokasi proyek rekonstruksi prioritas.
"Warga Palestina di Gaza tidak butuh slogan, mereka membutuhkan solusi," kata mantan PM Inggris sekaligus anggota Dewan Eksekutif BoP Tony Blair, dilansir BBC.
Penggalangan dana untuk program tersebut masih jauh dari target yang dibutuhkan. Dari total 18 miliar dolar AS atau setara Rp323 triliun yang sempat dijanjikan donor, dana yang terkumpul baru mencapai 280 juta dolar AS atau sekitar Rp5 triliun. BoP memperkirakan rekonstruksi menyeluruh Gaza dalam satu dekade ke depan menuntut biaya sekitar 71,4 miliar dolar AS atau setara Rp1.281 triliun.3. Gencatan senjata mandek dan pembangunan belum berjalan

pengeboman Kota Gaza (unsplash.com/Mohammed Ibrahim) Pembangunan kembali Gaza belum dapat berjalan meski kesepakatan gencatan senjata telah diteken sejak Oktober 2025. Sekitar 1,9 juta warga Palestina masih bertahan hidup di tenda pengungsian darurat atau reruntuhan bangunan. Lingkungan warga masih dipenuhi lebih dari 60 juta ton puing reruntuhan bangunan yang belum dibersihkan.
Upaya rekonstruksi terhambat karena militer Israel masih menguasai sekitar 60 persen wilayah Gaza. Pasukan Israel juga rutin melancarkan serangan udara yang telah menewaskan lebih dari 1.300 orang sejak gencatan senjata disepakati. Militer Israel menyatakan tidak akan menarik pasukannya sebelum kelompok Hamas melucuti seluruh senjatanya.
"Saya ingin menegaskan bahwa kami tidak terikat oleh kalender, kami ingin memastikan rencana ini berhasil," ujar Perwakilan Tinggi Board of Peace Nikolay Mladenov, dilansir Asharq Al-Awsat.
Kebuntuan ini menyebabkan pasukan stabilisasi internasional dan pemerintahan teknokrat Palestina belum bisa masuk ke Gaza. Sejauh ini, pasukan pengaman rencananya akan melibatkan personel militer dari Kosovo, Maroko, Albania, dan Kazakhstan.


![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)





















