Jakarta, IDN Times - Kepala Badan Komunikasi (Bakom), M. Qodari, mengklaim Presiden Prabowo Subianto memiliki hubungan yang dekat dengan pemimpin adidaya. Menurutnya, hal itu menjadi alasan Presiden Prabowo sering kunjungan ke luar negeri.
"Bapak Presiden Prabowo adalah figur yang unik, mungkin satu-satunya di dunia yang bisa memiliki hubungan yang sangat baik dengan kekuatan-kekuatan besar adidaya," ujar Qodari dalam konferensi pers di Wisma Danantara, Jakarta, Minggu (31/5/2026).
"Beliau punya hubungan yang baik dengan Presiden Putin dari Rusia, dengan Presiden Donald Trump dari Amerika Serikat, maupun dengan Xi Jinping dari RRC. Semua ini tentu kita rasakan manfaatnya dalam konteks situasi dan kondisi pada hari ini maupun pada konteks masa depan," sambungnya.
Dalam kesempatan ini, Qodari juga menanggapi isu Presiden Prabowo hendak ke Italia selepas kunjungan ke Prancis pada 29 Mei 2026. Menurutnya, tidak ada pernyataan resmi dari pemerintah terkait isu tersebut.
"Sejak awal tidak ada statement pemerintah bahwa Presiden akan ke Italia. Yang kedua, jadwal resmi memang hanya ke Perancis. Yang ketiga, bila di perjalanan ada rencana akan ke tujuan yang lain, itu sebatas rencana sampai ada penyampaian resmi dari pemerintah," ucap dia.
Qodari mengatakan, perjalanan luar negeri ke Prancis juga sudah disampaikan Menteri Luar Negeri, Sugiono, pada 22 April 2026.
"Kalau teman-teman membuka file ke belakang sudah dinyatakan oleh Pak Sugiono, dan waktu itu beliau mengatakan dalam kutipan langsung, dan juga ada rencana kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo ke Perancis dalam waktu dekat," kata dia.
Qodari kemudian mengutip pernyataan Menlu Sugiono mengenai sejumlah pembahasan yang dilakukan Presiden Prabowo dengan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, pada pertemuan Kamis, 28 Mei 2026.
"Kemudian Pak Sugiono pada kesempatan itu sudah menyampaikan beberapa target kerja sama. Yang pertama adalah di bidang pertahanan, karena kita semua tahu bahwa pemerintah Indonesia telah memperoleh sejumlah alat utama sistem persenjataan atau alutsista dari Perancis, karena itu diperlukan transfer teknologi untuk penguasaan alutsista tersebut," kata dia.
