Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Melihat Argentina vs Spanyol dari Sejarah, Sudah Dimulai Sejak Abad 16

Melihat Argentina vs Spanyol dari Sejarah, Sudah Dimulai Sejak Abad 16
Ilustrasi suporter bola Timnas Argentina (dok. Pexels/Andres Idda Bianchi)
Intinya Sih
  • Argentina pernah berada di bawah kekuasaan Spanyol hampir tiga abad sejak 1516, dengan eksploitasi ekonomi dan penindasan terhadap penduduk asli yang memicu ketegangan sosial dan politik.
  • Revolusi Mei 1810 menandai awal perjuangan kemerdekaan Argentina, dipimpin tokoh seperti José de San Martín yang melakukan strategi legendaris melintasi Pegunungan Andes untuk membebaskan wilayah Amerika Selatan.
  • Kemerdekaan resmi dideklarasikan pada 9 Juli 1816 melalui Kongres Tucumán, mengakhiri dominasi Spanyol meski Argentina kemudian menghadapi konflik internal panjang dalam membangun identitas nasionalnya.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times – Final Piala Dunia 2026 yang mempertemukan Argentina dan Spanyol bukan sekadar duel dua raksasa sepak bola. Jauh sebelum Lionel Messi dan Lamine Yamal menjadi sorotan, kedua negara pernah terikat dalam sejarah panjang yang dipenuhi kolonialisme, peperangan, dan perjuangan kemerdekaan.

Berbagai sumber mencatat, selama hampir tiga abad, wilayah yang kini menjadi Argentina berada di bawah kekuasaan Kerajaan Spanyol. Kolonialisme tersebut membawa perubahan besar dalam politik, ekonomi, budaya, hingga kehidupan masyarakat pribumi. Namun, dominasi itu juga melahirkan eksploitasi, diskriminasi, dan pertumpahan darah yang akhirnya memicu perang kemerdekaan pada awal abad ke-19.

1. Hampir 300 tahun dijajah, Spanyol bangun kekuasaan lewat eksploitasi

Spanyol menjajah Argentina sejak awal abad ke-16, tepatnya dimulai dengan eksplorasi awal oleh penjelajah Juan Díaz de Solís pada tahun 1516 ke wilayah Río de la Plata. Seiring waktu, mereka membangun koloni yang kemudian menjadi bagian dari Viceroyalty of the Río de la Plata pada 1776. Wilayah administratif tersebut meliputi Argentina modern, Uruguay, Paraguay, Bolivia, serta sebagian Chile dan Brasil.

Selama masa kolonial, seluruh pemerintahan dikendalikan oleh pejabat yang ditunjuk langsung dari Madrid. Perdagangan dimonopoli oleh Spanyol sehingga hasil pertanian dan peternakan dari koloni harus mengikuti kepentingan ekonomi kerajaan. Kaum criollo—keturunan Spanyol yang lahir di Amerika—memiliki pengaruh ekonomi, tetapi tetap dipinggirkan dari jabatan politik penting yang hampir seluruhnya diisi orang-orang kelahiran Spanyol atau peninsulares.

Di balik pembangunan kota-kota kolonial, terdapat sisi gelap yang membekas hingga kini. Penduduk asli mengalami perampasan tanah, kerja paksa, dan penyebaran penyakit dari Eropa seperti cacar serta campak yang menyebabkan penurunan populasi secara drastis di berbagai wilayah Amerika Selatan. Banyak komunitas adat kehilangan wilayah leluhur dan dipaksa mengikuti sistem kolonial Spanyol.

Situasi mulai berubah ketika Napoleon Bonaparte menginvasi Spanyol pada 1808 dan memaksa Raja Ferdinand VII turun takhta. Krisis politik di Eropa membuat legitimasi pemerintahan kolonial di Amerika dipertanyakan. Kesempatan itu dimanfaatkan para pemimpin lokal di Buenos Aires untuk menuntut hak mengatur pemerintahan sendiri.

2. Revolusi Mei dan perang berdarah melawan pasukan kerajaan

Ketegangan mencapai puncaknya pada 25 Mei 1810 melalui peristiwa yang dikenal sebagai May Revolution. Para tokoh lokal menggulingkan Wakil Raja Baltasar Hidalgo de Cisneros dan membentuk Primera Junta, pemerintahan lokal pertama yang menjadi titik awal Perang Kemerdekaan Argentina.

Namun, revolusi tersebut tidak langsung membuat Argentina merdeka. Pasukan kerajaan Spanyol masih menguasai banyak wilayah dan mengirim tentara untuk memadamkan pemberontakan. Perang berlangsung selama bertahun-tahun dengan serangkaian pertempuran sengit di kawasan utara Argentina, Bolivia, Peru, hingga Chile.

Perang ini juga meninggalkan catatan kelam. Bukan hanya tentara yang menjadi korban, tetapi juga ribuan warga sipil. Kota-kota berubah menjadi medan tempur, aktivitas ekonomi lumpuh, dan masyarakat terpecah antara kelompok patriot yang menginginkan kemerdekaan dengan kaum royalis yang tetap setia kepada Kerajaan Spanyol. Di berbagai wilayah terjadi eksekusi terhadap tawanan maupun mereka yang dianggap berkhianat oleh masing-masing pihak.

Di tengah konflik tersebut, muncul sosok yang kemudian dikenang sebagai pahlawan besar Amerika Selatan, José de San Martín. Mantan perwira militer Spanyol itu memilih bergabung dengan gerakan kemerdekaan. Strateginya yang paling terkenal adalah Crossing of the Andes, yakni membawa ribuan prajurit melintasi Pegunungan Andes untuk membebaskan Chile sebelum melanjutkan perjuangan ke Peru, pusat kekuatan Spanyol di Amerika Selatan. Operasi militer tersebut hingga kini dianggap sebagai salah satu manuver paling berani dalam sejarah peperangan dunia.

3. Deklarasi kemerdekaan hingga akhir kekuasaan Spanyol

Setelah enam tahun perjuangan, para delegasi dari berbagai provinsi berkumpul dalam Kongres Tucumán. Pada 9 Juli 1816, mereka secara resmi mendeklarasikan kemerdekaan dari Kerajaan Spanyol dan segala bentuk dominasi asing. Tanggal tersebut kini diperingati sebagai Hari Kemerdekaan Argentina.

Meski deklarasi telah dibacakan, peperangan belum benar-benar usai. Pasukan patriot masih harus menghadapi tentara kerajaan di sejumlah wilayah. Kemenangan penting di Pertempuran Chacabuco (1817), Maipú (1818), hingga Ayacucho (1824) secara bertahap mengakhiri dominasi Spanyol di Amerika Selatan dan memastikan perjuangan kemerdekaan berhasil.

Ironisnya, kemerdekaan tidak serta-merta membawa stabilitas. Argentina memasuki masa panjang konflik politik, perebutan kekuasaan antardaerah, hingga perang saudara yang berlangsung selama beberapa dekade. Negara baru itu juga harus membangun identitas nasional setelah berabad-abad berada di bawah pemerintahan kolonial.

Kini, lebih dari dua abad setelah merdeka, hubungan Argentina dan Spanyol telah berubah menjadi hubungan diplomatik yang erat. Namun, sejarah kolonialisme, perjuangan berdarah, dan keberanian tokoh-tokoh seperti José de San Martín tetap menjadi bagian penting dalam identitas nasional Argentina. Karena itu, setiap kali kedua negara bertemu di panggung dunia—termasuk di lapangan sepak bola—duel tersebut kerap dipandang memiliki makna historis yang melampaui sekadar perebutan kemenangan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More