Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Sekretaris Jenderal DPP Partai Demokrat, Herman Khaeron saat ditemui di Gedung DPR, Jakarta (4/11/2026) (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)
  • Demokrat akan menyampaikan sikap resmi soal wacana pemakzulan Gibran setelah masa reses DPR berakhir.

  • Keputusan Demokrat masih menunggu koordinasi dengan partai-partai lain dan hasil komunikasi bersama pimpinan koalisi.

  • Demokrat juga meminta kasus dugaan penyadapan terhadap Prabowo dan sejumlah tokoh politik diusut transparan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Rabu (4/11/2026)

Herman Khaeron mengatakan Demokrat akan menyampaikan sikap terkait wacana pemakzulan Gibran pada awal masa sidang.

setelah masa reses DPR berakhir

Demokrat akan menyampaikan sikap resmi setelah melakukan pendalaman dan koordinasi dengan partai-partai lain.

10 November 2026

Masa sidang DPR kembali dimulai. Herman berharap sudah ada kejelasan mengenai sikap dan langkah masing-masing partai.

kini

Partai-partai di DPR perlu menentukan sikap politik terhadap putusan MK dan MA terkait polemik Gibran.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Demokrat akan menentukan sikap resmi terkait wacana pemakzulan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
  • Who?
    Sekretaris Jenderal DPP Partai Demokrat Herman Khaeron menyampaikan sikap tersebut.
  • Where?
    Herman menyampaikan pernyataan saat ditemui di Gedung DPR, Jakarta.
  • When?
    Sikap akan disampaikan setelah masa reses DPR berakhir, dengan masa sidang kembali dimulai pada 10 November 2026.
  • Why?
    Demokrat masih melakukan pendalaman serta mempertimbangkan putusan MK dan MA dalam menentukan langkah politik.
  • How?
    Demokrat akan berkoordinasi dengan partai-partai lain dan pimpinan koalisi sebelum menentukan langkah di parlemen.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Demokrat belum menentukan sikap tentang Gibran. Herman Khaeron bilang mereka harus berbicara dengan partai lain dulu. Keputusan akan disampaikan saat DPR mulai bersidang lagi. Demokrat juga meminta polisi mengusut dugaan penyadapan terhadap Prabowo dan tokoh politik dengan jujur dan terbuka.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Demokrat menyatakan keputusan politik akan ditempuh melalui pendalaman dan koordinasi dengan partai-partai lain. Sikap ini membuka ruang bagi pembahasan bersama di parlemen, sementara permintaan agar kasus dugaan penyadapan diusut transparan menunjukkan perhatian terhadap proses hukum yang profesional dan dapat diketahui publik.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Sekretaris Jenderal DPP Partai Demokrat, Herman Khaeron, mengatakan, partainya akan menyampaikan sikap resmi terkait wacana pemakzulan Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming Raka setelah masa reses DPR berakhir.

Herman mengatakan, Demokrat masih melakukan pendalaman dan berkoordinasi dengan partai-partai lain sebelum menentukan langkah politik di parlemen. Menurut dia, persoalan tersebut tidak bisa diputuskan secara sepihak oleh Demokrat.

"Ini persoalan serius, ya, dan kami sepakatlah dengan teman-teman di Gerindra bahwa nanti kita akan menyampaikan ini pada waktu awal masa sidang," ujar Herman saat ditemui di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (4/11/2026).

Dia mengatakan, proses hukum terkait polemik persyaratan pendidikan Gibran telah menghasilkan putusan dari Mahkamah Konstitusi (MK) dan Mahkamah Agung (MA). Oleh karena itu, pembahasan selanjutnya berada di ranah politik DPR.

1. Demokrat tunggu koordinasi dengan fraksi lain

Sekretaris Jenderal DPP Partai Demokrat, Herman Khaeron saat ditemui di Gedung DPR, Jakarta (4/11/2026) (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)

Herman mengatakan, Demokrat belum bisa memastikan langkah yang akan diambil, termasuk kemungkinan menggunakan hak angket di DPR untuk menindaklanjuti persoalan tersebut.

Menurut dia, keputusan itu harus melalui komunikasi dan koordinasi dengan partai-partai lain. Demokrat tidak ingin mengambil langkah sendiri tanpa mempertimbangkan sikap fraksi-fraksi di parlemen.

"Oleh karena itu, kami kan harus koordinasi juga. Sekali lagi bahwa Demokrat tidak bisa berdiri sendiri, ini kan harus dikoordinasikan dengan partai-partai lain," kata dia.

Dia mengakui sejumlah partai maupun politikus sudah menyampaikan pandangan masing-masing terkait polemik tersebut. Namun, hingga saat ini Demokrat belum mengeluarkan pernyataan resmi sebagai sikap kelembagaan partai.

Herman juga mengatakan, Demokrat telah melakukan diskusi dan pendalaman secara internal. Meski demikian, keputusan mengenai langkah politik yang akan ditempuh baru akan disampaikan setelah memasuki masa sidang DPR.

"Keputusan apa langkah-langkah ke depan yang akan diambil, tentu sekali lagi tidak bisa berdiri sendiri dan kami akan nanti sampaikan setelah masuk masa sidang," ujar dia.

2. Demokrat nilai putusan MK dan MA persoalan serius

Ilustrasi Mahkamah Konstitusi (MK) - Momen jajaran Hakim Konstitusi di Ruang Sidang MK, Jakarta Pusat, Senin (13/4/2026)(IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)

Herman menegaskan, putusan MK dan MA menjadi bagian penting yang harus diperhatikan dalam menentukan sikap politik terhadap polemik Gibran.

Dia menilai, persoalan tersebut serius karena proses hukum telah berjalan dan menghasilkan keputusan. Kini, partai-partai di DPR perlu menentukan bagaimana menyikapi hasil putusan tersebut melalui mekanisme politik.

"Yang pasti bahwa keputusan hukum sudah ada, ya. Mahkamah Konstitusi, Mahkamah Agung sudah ada, ini persoalan serius dan kami menseriusi ini ya tentu juga harus berkoordinasi dengan partai-partai lain," kata dia.

Terkait kemungkinan adanya tenggat waktu dari pimpinan partai koalisi untuk menentukan sikap, Herman mengatakan Demokrat akan menyesuaikan keputusan dengan hasil komunikasi bersama pimpinan koalisi.

Dia berharap, ketika masa sidang DPR kembali dimulai pada 10 November 2026, sudah ada kejelasan mengenai sikap dan langkah yang akan diambil masing-masing partai.

3. Demokrat minta kasus penyadapan diusut transparan

Sekjen DPP Parai Demokrat, Herman Khaeron saat membuka Rakerda di Sulawesi Utara. (Dok. Partai Demokrat)

Selain polemik Gibran, Herman turut menanggapi perkembangan kasus dugaan penyadapan terhadap Presiden Prabowo Subianto dan sejumlah tokoh politik.

Dia mengapresiasi langkah kepolisian yang telah menetapkan tiga orang sebagai tersangka dalam kasus tersebut. Demokrat berharap proses hukum berjalan transparan dan profesional agar publik mengetahui pihak-pihak yang terlibat.

"Kami juga memberikan apresiasi kepada kepolisian, kepada Kapolri dan seluruh jajarannya yang tentu bisa menunjukkan bahwa bersih-bersih ke dalam dan kemudian menunjukkan sikap yang pasti di dalam menegakkan aturan perundang-undangan," ujar dia.

Herman mengatakan, Demokrat sejak awal telah mengantisipasi kemungkinan adanya penyadapan. Namun, ia enggan berspekulasi mengenai pihak yang diduga menjadi aktor penggerak maupun motif di balik tindakan tersebut.

Menurut dia, penyadapan tidak mungkin hanya melibatkan satu orang karena terdapat sejumlah aspek, mulai dari kebijakan, teknologi, hingga operator yang menjalankannya.

"Pasti ada kolaborasi lah. Kan gak mungkin ini hanya dilakukan oleh seseorang, karena ini kan persoalan kebijakan juga, persoalan kebijakan. Kemudian ada teknis, ada teknologi, ada operator," kata Herman.

Dia pun meminta kepolisian mengungkap tujuan penyadapan dan pihak yang memberikan perintah. Herman menilai penyadapan tanpa mengikuti prosedur dan ketentuan perundang-undangan merupakan pelanggaran serius.

"Kita serahkan saja kepada aparat penegak hukum di kepolisian untuk pada akhirnya mengungkap terhadap persoalan ini," kata dia.

Terkait pernyataan Presiden ke-6 RI sekaligus Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yang meminta Presiden Prabowo mengembalikan politik berkeadaban, Herman menyebut hal itu sebagai harapan seluruh masyarakat.

Dia berharap Prabowo dapat menghadirkan praktik politik yang mengutamakan kepentingan bangsa dan rakyat, bukan sekadar mempertahankan atau menggunakan kekuasaan.

"Sehingga politik tidak ansich untuk mengambil kekuasaan atau politik tidak untuk hanya menggunakan kekuasaan, tetapi justru atas kekuasaannya adalah untuk bangsa, negara, dan rakyat," kata dia.

Curated For You

Editorial Team

Related Article