Sekjen DPP Parai Demokrat, Herman Khaeron saat membuka Rakerda di Sulawesi Utara. (Dok. Partai Demokrat)
Selain polemik Gibran, Herman turut menanggapi perkembangan kasus dugaan penyadapan terhadap Presiden Prabowo Subianto dan sejumlah tokoh politik.
Dia mengapresiasi langkah kepolisian yang telah menetapkan tiga orang sebagai tersangka dalam kasus tersebut. Demokrat berharap proses hukum berjalan transparan dan profesional agar publik mengetahui pihak-pihak yang terlibat.
"Kami juga memberikan apresiasi kepada kepolisian, kepada Kapolri dan seluruh jajarannya yang tentu bisa menunjukkan bahwa bersih-bersih ke dalam dan kemudian menunjukkan sikap yang pasti di dalam menegakkan aturan perundang-undangan," ujar dia.
Herman mengatakan, Demokrat sejak awal telah mengantisipasi kemungkinan adanya penyadapan. Namun, ia enggan berspekulasi mengenai pihak yang diduga menjadi aktor penggerak maupun motif di balik tindakan tersebut.
Menurut dia, penyadapan tidak mungkin hanya melibatkan satu orang karena terdapat sejumlah aspek, mulai dari kebijakan, teknologi, hingga operator yang menjalankannya.
"Pasti ada kolaborasi lah. Kan gak mungkin ini hanya dilakukan oleh seseorang, karena ini kan persoalan kebijakan juga, persoalan kebijakan. Kemudian ada teknis, ada teknologi, ada operator," kata Herman.
Dia pun meminta kepolisian mengungkap tujuan penyadapan dan pihak yang memberikan perintah. Herman menilai penyadapan tanpa mengikuti prosedur dan ketentuan perundang-undangan merupakan pelanggaran serius.
"Kita serahkan saja kepada aparat penegak hukum di kepolisian untuk pada akhirnya mengungkap terhadap persoalan ini," kata dia.
Terkait pernyataan Presiden ke-6 RI sekaligus Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yang meminta Presiden Prabowo mengembalikan politik berkeadaban, Herman menyebut hal itu sebagai harapan seluruh masyarakat.
Dia berharap Prabowo dapat menghadirkan praktik politik yang mengutamakan kepentingan bangsa dan rakyat, bukan sekadar mempertahankan atau menggunakan kekuasaan.
"Sehingga politik tidak ansich untuk mengambil kekuasaan atau politik tidak untuk hanya menggunakan kekuasaan, tetapi justru atas kekuasaannya adalah untuk bangsa, negara, dan rakyat," kata dia.