Jepang Kembangkan Teknologi Roket untuk Perkuat Pertahanan Antariksa

- Jepang mengembangkan roket kecil untuk meluncurkan satelit pengganti dengan cepat saat satelit pertahanan rusak, terganggu, atau diserang, didukung anggaran 70 juta yen pada fiskal 2026.
- Kementerian Pertahanan membuka proposal swasta hingga Desember 2026, mengkaji produksi efisien termasuk pencetakan 3D serta opsi peluncuran dari darat, laut, dan udara.
- Program ini merespons ancaman terhadap satelit, sekaligus mengurangi ketergantungan pada roket asing dan memperkuat industri antariksa domestik Jepang.
Jakarta, IDN Times - Jepang berupaya mengembangkan roket berukuran kecil yang mampu meluncurkan satelit pengganti dalam waktu singkat. Teknologi ini disiapkan untuk mengantisipasi kerusakan, gangguan, atau serangan terhadap satelit pertahanan negara tersebut.
Untuk merealisasikannya, pemerintah Jepang mengalokasikan dana sebesar 70 juta yen (sekitar Rp8 miliar) dalam anggaran fiskal 2026, guna mempercepat riset teknologi transportasi luar angkasa dan produksi komponen roket skala kecil, dilansir Kyodo News pada Minggu (1/11/2026).
1. Jepang buka peluang penelitian bagi perusahaan swasta

Potret roket H3 milik Badan Eksplorasi Antariksa Jepang (JAXA). (dok. Laman resmi JAXA/global.jaxa.jp) Kementerian Pertahanan Jepang akan meminta proposal penelitian dari perusahaan swasta hingga Desember 2026 untuk mengkaji metode pembuatan dan peluncuran roket yang efisien dan andal. Penilaian mencakup biaya pengembangan, teknologi produksi, dan estimasi waktu yang diperlukan. Pemerintah menargetkan penetapan kontraktor pada Februari 2027 dan merampungkan tahap studi awal pada Maret 2028.
Strategi manufaktur yang dikaji mencakup pemanfaatan teknologi cetak tiga dimensi (3D printing) untuk mempercepat produksi komponen roket. Selain itu, pemerintah tengah mengkaji alternatif lokasi peluncuran melalui darat, laut, maupun udara. Ini termasuk menggunakan kendaraan, kapal, dan pesawat untuk mengurangi ketergantungan pada fasilitas peluncuran konvensional.
2. Ancaman terhadap satelit mendorong penguatan pertahanan antariksa

Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi. (x.com/ModJapan_en) Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi menegaskan bahwa pemulihan fungsi satelit secara cepat merupakan kebutuhan penting bagi keamanan nasional, terutama dalam situasi darurat. Dalam konferensi pers pada 9 Oktober, ia menyatakan bahwa Jepang harus memiliki kemampuan untuk segera memulihkan layanan apabila sejumlah satelit yang digunakan mengalami gangguan atau tidak lagi beroperasi.
Kekhawatiran tersebut meningkat seiring peringatan para ahli mengenai China dan Rusia yang kini tengah mengembangkan teknologi 'satelit pembunuh'. Teknologi tersebut dirancang khusus, guna menyerang dan melumpuhkan konstelasi satelit negara lain.
Asahi Shimbun melaporkan, Jepang sendiri mengoperasikan satelit komunikasi untuk mendukung komando dan kendali militer, penentuan posisi yang akurat, serta mengembangkan konstelasi satelit kecil. Upaya ini bertujuan mendeteksi dan memantau target. Negara ini juga merencanakan peluncuran satelit Space Domain Awareness (SDA) untuk mengawasi objek dan aktivitas di luar angkasa secara real-time.
3. Perkuat industri antariksa dan kemandirian teknologi

Ilustrasi luar angkasa. (unsplash.com/NASA) Selain memperkuat pertahanan, program ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan Jepang terhadap teknologi peluncuran asing. Pemerintah memperkirakan sekitar separuh peluncuran satelit Jepang saat ini masih bergantung pada roket dari luar negeri. Pengembangan sistem peluncuran domestik diharapkan dapat meningkatkan kemandirian sekaligus membuka peluang inovasi bagi perusahaan nasional.
Koizumi menilai sektor transportasi antariksa tengah mengalami perubahan besar dan membutuhkan sistem peluncuran yang mampu bersaing secara global. Pemerintahan Perdana Menteri Sanae Takaichi juga memandang industri antariksa sebagai salah satu sektor strategis yang perlu dikembangkan, yang dapat berperan dalam pertumbuhan ekonomi masa depan. Hal ini sejalan dengan meningkatnya peran satelit dalam mendukung komunikasi, navigasi, dan berbagai layanan teknologi di Bumi.


















