Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Dua Tahun Prabowo-Gibran, Ini Mitigasi Bencana yang Harus Diperkuat

9 min read
Dua Tahun Prabowo-Gibran, Ini Mitigasi Bencana yang Harus Diperkuat
Prabowo tinjau kebakaran hutan lahan Kalimantan Barat, Sabtu (22/8/2026). (YouTube Setpres)
  • Dalam dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran, berbagai bencana hidrometeorologi, gempa, longsor, banjir, dan karhutla terjadi di sejumlah wilayah Indonesia dengan korban serta kerusakan.
  • Ahli kebencanaan Daryono menekankan lima penguatan: mitigasi berbasis risiko, peringatan dini yang ditindaklanjuti, kapasitas daerah, integrasi risiko dalam pembangunan, serta edukasi kesiapsiagaan masyarakat.
  • Kinerja mitigasi perlu dievaluasi objektif melalui data terukur, dengan fokus pada pengurangan risiko, kerentanan, korban jiwa, dan kerugian, bukan sekadar jumlah program atau kecepatan respons.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka memasuki dua tahun. Sejumlah peristiwa bencana terjadi di masa kepemimpinan Prabowo.

Bencana memang tak bisa diprediksi datangnya, tetpi, yang bisa dilakukan manusia adalah mitigasi bencana agar korban dan dampak kerusakan bisa diminimalisir jumlahnya.

Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, mengatakan, ada lima aspek penting dalam mitigasi bencana.

"Pertama, pencegahan dan mitigasi berbasis risiko, terutama pada wilayah dengan ancaman tinggi dan kejadian bencana berulang," ujar Daryono, dikutip Senin (19/10/2026).

Kedua, kata dia, perlu ada sistem peringatan dini yang berorientasi pada tindakan sehingga informasi ancanam benar-benar sampai kepada masyarakat dan ditindaklanjuti dengan langkah penyelamatan.

  1. 1. Penguatan kapasitas BPBD dan pemerintah

    Daryono BMKG (1).jpg
    Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono (YouTube/BMKG)

    Ketiga, kata Daryono, perlu ada penguatan sistem kapasitas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan pemerintah daerah. Sebab, daerah merupakan garda terdepan dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana.

    Keempat, integrasi pengurangan risiko dalam pembangunan, termasuk tata ruang, infrastruktur, perlindungan lingkungan dan ekosistem.

    "Kelima, edukasi dan kesiapsiagaan masyarakat agar masyarakat tidak hanya mengetahui ancaman, tetapi juga memahami tindakan yang harus dilakukan," kata dia.

    "Hal yang penting adalah memperkuat paradigma dari penanganan bencana yang bersifat reaktif menuju pengelolaan risiko yang lebih preventif, antisipatif dan berkelanjutan," sambungnya.

  2. 2. Apakah dalam dua tahun pemerintah Prabowo sudah lakukan terbaik dalam mitigasi bencana?

    Prabowo tinjau kebakaran hutan lahan Kalimantan Barat, Sabtu (22/8/2026). (YouTube Setpres)
    Prabowo tinjau kebakaran hutan lahan Kalimantan Barat, Sabtu (22/8/2026). (YouTube Setpres)

    Lalu, apakah dalam dua tahun pemerintah Prabowo sudah lakukan terbaik dalam mitigasi bencana? Daryono pun mengajak semua pihak untuk bersikap secara objektif.

    "Dalam menilai kinerja mitigasi bencana, kita perlu bersikap objektif dan proporsional. Berbagai program penanggulangan bencana telah berjalan, termasuk penguatan kesiapsiagaan, sistem peringatan dini, koordinasi lintas sektor, serta penanganan kedaruratan," ucap Daryono.

    Daryono mengatakan, efektivitas mitigasi tidak cukup dinilai dari banyaknya program atau cepatnya respons ketika bencana terjadi. Ukuran yang lebih substantif adalah sejauh mana risiko, kerentanan, korban jiwa, dan kerugian akibat bencana dapat dikurangi.

    "Karena itu, evaluasi perlu dilakukan secara menyeluruh, berbasis data dan indikator yang terukur, dengan mempertimbangkan bahwa pengurangan risiko bencana merupakan proses jangka panjang yang melibatkan banyak pihak," kata dia.

  3. 3. Data bencana besar dari Oktober 2024-Oktober 2026

    Aliran sungai yang mengalami banjir bandang dari udara (Foto: IDN Times/Halbert Caniago)
    Aliran sungai yang mengalami banjir bandang dari udara (Foto: IDN Times/Halbert Caniago)

    Berikut daftar bencana di Indonesia yang pernah terjadi selama dua tahun pemerintahan Prabowo!

    3–5 Desember 2024: Banjir dan tanah longsor di Sukabumi

    Cuaca ekstrem dan hujan berintensitas tinggi memicu banjir, longsor, serta pergerakan tanah di sejumlah wilayah Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Banjir dilaporkan terjadi di tujuh wilayah, sedangkan longsor terjadi di 14 titik, antara lain di Kecamatan Simpenan, Palabuhanratu, Warungkiara, Ciemas, dan Gegerbitung.

    Desember 2024: Gelombang bencana hidrometeorologi di berbagai daerah

    BNPB mencatat 226 kejadian bencana sepanjang Desember 2024. Banjir menjadi jenis bencana yang paling banyak dilaporkan, disusul cuaca ekstrem dan tanah longsor. Secara kumulatif, 845.552 orang terdampak atau mengungsi, dengan 47 orang meninggal dunia dan 10.413 orang terluka atau terdampak menurut ringkasan buletin BNPB. Angka agregat ini tidak seluruhnya merujuk pada satu kejadian.

    20–31 Januari 2025 : Banjir di Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan

    Banjir meluas di sejumlah daerah, seperti Kabupaten Sambas, Sanggau, Landak, Mempawah, dan Banjar. Hingga laporan BNPB pada akhir Januari, sekitar 12.564 kepala keluarga (KK) terdampak di Sambas dan 9.504 rumah terendam. Di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, lebih dari 26.000 KK terdampak.

    20 Januari 2025: Longsor dan banjir bandang di Pekalongan

    Bencana longsor terjadi di Desa Kasimpar, Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah. Longsor terjadi sekitar pukul 17.30 WIB setelah hujan deras. Material longsor menimbun dua rumah dan menyeret kendaraan yang melintas. Dalam laporan 21 Januari, BNPB menyebut 16 orang meninggal dunia, tiga orang masih hilang, dan 10 orang luka-luka. Banjir bandang juga menerjang wilayah tersebut.

    26–27 Januari 2025: Banjir dan longsor di Mamuju

    Hujan deras pada 26 Januari 2025 memicu banjir di Kecamatan Mamuju, Kalukku, dan Simboro, serta tanah longsor di Kecamatan Mamuju. BNPB melaporkan empat orang meninggal dunia dan empat orang luka-luka akibat longsor.

    16 Mei 2025: Banjir bandang di Pegunungan Arfak

    Hujan deras yang berlangsung sejak siang hingga malam menyebabkan luapan air menghantam kawasan tempat tinggal sementara para pencari emas tradisional, di

    Kampung Jim, Distrik Catubouw, Papua Barat.

    30 Mei 2025: Longsor di tambang Galian C Gunung Kuda

    Longsor terjadi saat aktivitas penambangan di kawasan Gunung Kuda, Kabupaten Cirebon. Buletin BNPB Mei 2025 mencatat 21 orang meninggal dunia dan empat orang hilang. Peristiwa ini menjadi salah satu bencana longsor dengan korban jiwa besar pada semester pertama 2025.

    20 Agustus 2025: Gempa bumi M4,9 di Bekasi

    Gempa berkekuatan magnitudo 4,9 terjadi pada pukul 19.54 WIB dengan pusat di darat, sekitar 14 kilometer tenggara Kabupaten Bekasi, pada kedalaman 10 kilometer. Guncangan dirasakan di Jakarta, Depok, Bekasi, Bogor, Karawang, dan Purwakarta. Sejumlah bangunan mengalami kerusakan, termasuk bangunan sekolah di Kabupaten Karawang.

    10–11 September 2025: Banjir besar di Bali

    Hujan deras menyebabkan banjir di Kota Denpasar, Kabupaten Jembrana, Gianyar, dan wilayah lain di Bali yang menimbulkan korban jiwa dan memaksa warga mengungsi. Dalam laporan BNPB pada 13 September, tercatat belasan orang meninggal dunia. Sebanyak 214 KK atau 659 jiwa terdampak langsung, sedangkan 146 jiwa mengungsi. Pemerintah menetapkan status tanggap darurat di sejumlah wilayah terdampak.

    8 September 2025: Banjir bandang di Nagekeo

    Banjir bandang yang terjadi di Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur menyebabkan lima orang meninggal dunia, tiga orang hilang, dan tiga orang luka-luka dalam laporan BNPB pada 13 September 2025. Sebanyak 40 rumah hanyut, 17 rumah rusak berat, dan 48 rumah rusak ringan. Kejadian ini menambah daftar bencana hidrometeorologi dengan dampak besar pada 2025.

    Januari–September 2025: Karhutla di Kalimantan Barat, Sumatra Selatan, Aceh, Nusa Tenggara Barat, dan Jawa Tengah

    Karhutla menjadi rangkaian bencana yang berlangsung selama berbulan-bulan. Hingga 21 September 2025, BNPB mencatat luas lahan terbakar di Kalimantan Barat mencapai 19.267,90 hektare dan dua korban jiwa. Di Sumatra Selatan, luas lahan terbakar mencapai 2.935,84 hektare. Kebakaran juga dilaporkan di Aceh, Lombok Utara, Klaten, dan Sragen.

    23 September 2025: Banjir bandang di OKU Selatan

    Banjir bandang menerjang Kecamatan Sindang Danau, Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan, Sumatera Selatan sekitar pukul 02.00 WIB. BNPB melaporkan tiga orang meninggal dunia dan 14 rumah rusak berat. Bencana ini terjadi setelah hujan deras dan genangan banjir dilaporkan telah surut ketika proses pembersihan dimulai.

    16 Oktober 2025: Gempa bumi M6,6 di Sarmi

    Gempa terjadi pukul 12.48 WIB dengan pusat di darat, sekitar 32 kilometer tenggara Sarmi, Papua pada kedalaman 18 kilometer. Guncangan dirasakan kuat selama sekitar tiga detik dan membuat warga berhamburan keluar bangunan. BNPB menyebut lima distrik terdampak masih dalam pendataan. BMKG menyatakan gempa tidak berpotensi tsunami.

    24–30 November 2025: Banjir dan longsor besar di Sumatra

    Hujan ekstrem memicu banjir, banjir bandang, serta longsor di tiga provinsi, Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara. Hingga 30 November 2026. Sejumlah orang disebut meninggal dunia dalam peristiwa tersebut.

    2 April 2026: Gempa besar di perairan sekitar Sulawesi Utara

    Catatan BMKG mencantumkan gempa bermagnitudo 7,6 pada pukul 05.48 WIB, Perairan tenggara Bitung, Sulawesi Utara dengan kedalaman yang tercatat dalam pembaruan peringatan dini tsunami. Peristiwa ini masuk dalam catatan gempa yang berpotensi tsunami. Untuk menyebut ada atau tidaknya gelombang tsunami yang benar-benar terjadi serta dampak kerusakannya, diperlukan konfirmasi laporan pascakejadian tersendiri.

    8 Juni 2026: Gempa M7,7 di perairan barat laut Sulawesi Utara

    BMKG mencatat gempa bermagnitudo 7,7 dengan kedalaman 47 kilometer di perairan sekitar 236–244 kilometer barat laut Tahuna dan Pulau Karatung. Kejadian tersebut masuk dalam daftar gempa yang memicu peringatan dini tsunami. Status peringatan tidak dengan sendirinya membuktikan tsunami merusak terjadi di wilayah Indonesia. Pusat gempa berada di Filipina.

    15 Agustus 2026: Gempa M7,7 di Flores dan Nagekeo

    Gempa terjadi pukul 04.58 WIB dengan pusat di laut, sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Nagekeo, pada kedalaman 15 kilometer. BMKG mengeluarkan peringatan dini tsunami untuk wilayah Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi Selatan. BNPB pada 16 Agustus 2026 menyebut ada sejumlah orang meninggal dunia.

    21 September 2026: Banjir bandang di Kabupaten Solok

    Hujan berintensitas tinggi memicu banjir bandang sekitar pukul 19.30 WIB. Dalam pembaruan BNPB per 30 September, dua orang meninggal dunia, dua orang luka berat, dan 12 orang luka ringan. Sekitar 542 jiwa masih mengungsi. Kerusakan meliputi 18 rumah rusak berat, 11 rusak sedang, dan 41 rusak ringan.

    2 Oktober 2026: Banjir di Nias Selatan

    Banjir akibat curah hujan tinggi melanda Desa Hilimbowo, Kecamatan O'o'u, dan Desa Ndraso Maniamolo, Kecamatan Maniamolo. BNPB melaporkan 75 KK terdampak, dengan kerusakan sementara sekitar 60 rumah, satu fasilitas kesehatan, satu fasilitas pendidikan, dan satu balai desa.

    11–12 Oktober 2026: Banjir di Langkat dan Binjai

    Data kejadian BNPB mencatat banjir di Langkat pada 11 Oktober 2026 yang meliputi lima kecamatan dan sejumlah desa serta kelurahan. Pada 12 Oktober 2026, banjir juga dilaporkan di Kota Binjai, mencakup lima kelurahan di Kecamatan Binjai Selatan dan Binjai Kota. Data awal mencatat 3.556 rumah terendam di Langkat dan 1.222 rumah terendam di Binjai.

    Januari-September 2026: Karhutla

    Di Provinsi Jambi, berdasarkan data BMKG, penanganan karhutla juga telah berlangsung sejak 1 Januari 2026. Berdasarkan pembaruan data pada Rabu, 20 September 2026 pukul 22.55 WIB, luas lahan yang menjadi sasaran pemadaman pada 29 September 2026 mencapai 105,5 hektare. Petugas berhasil memadamkan api di area seluas 91,5 hektare. Dengan demikian, masih terdapat sekitar 14 hektare lahan yang perlu ditangani pada dua titik api (firespot) dalam operasi pemadaman berikutnya.

    Karhutla di Kalimantan Tengah mulai tercatat sejak 15 Januari 2026 pukul 17.25 WIB. Mengacu pada pembaruan data per 30 September 2026, total luas lahan yang menjadi sasaran pemadaman pada hari tersebut mencapai 157,3 hektare yang tersebar di 43 titik api. Melalui operasi pemadaman dari darat dan udara, petugas berhasil mengatasi kebakaran di area seluas 129,7 hektare. Adapun sekitar 27,6 hektare lahan yang tersebar di 10 titik api masih dalam proses penanganan dan akan menjadi sasaran operasi pemadaman selanjutnya.

    Sementara itu, karhutla di Sumatera Selatan telah terjadi sejak 1 Januari 2026. Berdasarkan pembaruan data pada Rabu 30 September 2026 pukul 08.50 WIB, upaya penanganan terus dilakukan secara terpadu oleh berbagai pihak untuk memadamkan titik-titik api yang masih aktif. Pada 29 September 2026, luas lahan yang terbakar tercatat sekitar 363,44 hektare. Satuan Tugas (Satgas) Darat berhasil memadamkan api di area seluas 302,94 hektare, sedangkan operasi pengeboman air (water bombing) menangani sekitar 32 hektare. Secara keseluruhan, kebakaran telah berhasil ditangani di area seluas 334,94 hektare. Dengan demikian, masih terdapat sekitar 28,5 hektare lahan yang mengeluarkan asap dan memerlukan penanganan lebih lanjut.

Share Article
Editorial Team

Di Balik Produksi Operasi Pesta Copet

Related Articles

See More