Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Gerhana Bulan Total 3 Maret Terlihat di Indonesia, Catat Waktunya!
gerhana bulan total(pexels.com/Luke Tinker)
  • BMKG memastikan Gerhana Bulan Total akan terjadi pada 3 Maret 2026 dan dapat diamati dari berbagai wilayah Indonesia jika kondisi langit cerah.
  • Puncak gerhana berlangsung pukul 18.33 WIB dengan durasi total sekitar lima jam, sementara fase totalitasnya mencapai hampir satu jam.
  • Tahun 2026 akan ada empat gerhana, namun hanya Gerhana Bulan Total ini yang bisa disaksikan langsung dari Indonesia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times – Masyarakat Indonesia dapat menyaksikan Gerhana Bulan Total pada Selasa, 3 Maret 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan fenomena astronomi ini bisa diamati langsung dari berbagai wilayah di Indonesia dimulai pada pukul 18.03.56 WIB.

Sebagai informasi, Gerhana terjadi akibat posisi Matahari, Bumi, dan Bulan berada dalam satu garis sejajar saat fase bulan purnama, sehingga Bulan masuk sepenuhnya ke dalam bayangan inti atau umbra Bumi.

Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida Riama, menjelaskan jika langit cerah, Bulan akan terlihat berwarna merah saat puncak gerhana. Warna merah ini terjadi karena hamburan Rayleigh di atmosfer Bumi, di mana cahaya Matahari dengan panjang gelombang pendek seperti biru tersebar, sementara cahaya dengan panjang gelombang panjang seperti merah lolos mencapai permukaan Bulan.

“Hal ini membuat Bulan masuk sepenuhnya ke dalam bayangan inti (umbra) Bumi. Fenomena ini menyajikan pemandangan yang indah jika langit cerah, Bulan akan terlihat berwarna merah saat puncak gerhana terjadi,” kata Nelly dikutip dalam keterangan pers, Senin (2/3/2026).

Secara keseluruhan, durasi gerhana dari fase mulai hingga berakhir mencapai 5 jam 41 menit 51 detik. Durasi parsialitas berlangsung 3 jam 27 menit 47 detik, sementara fase totalitas di mana Bulan benar-benar berada dalam bayangan umbra Bumi akan berlangsung selama 59 menit 47 detik.

1. Waktu fase gerhana bulan total

gambar proses terjadinya gerhana bulan (unsplash.com/Claudio Testa)

Lebih lanjut, Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu BMKG, Fachri Radjab, menyampaikan Gerhana Bulan Total akan dimulai pada pukul 18.03.56 WIB sedangkan puncak gerhana terjadi pada pukul 18.33.39 WIB, atau 19.33.39 WITA, dan 20.33.39 WIT.

Fenomena ini akan berakhir sepenuhnya pada pukul 21.24 WIB atau tengah malam di wilayah WIT saat Bulan keluar dari bayangan penumbra Bumi. Fachri mengimbau masyarakat untuk mencari lokasi pengamatan yang minim polusi cahaya dan memiliki pandangan langit cerah ke arah terbitnya Bulan.

“Masyarakat diimbau untuk mencari lokasi pengamatan yang minim polusi cahaya dan memiliki pandangan langit yang cerah ke arah terbitnya bulan,” ujarnya.

2. Terdapat perbedaan visibilitas di wilayah Indonesia

Kegiatan pengamatan gerhana bulan total di Kampus Itera, Minggu (7/9/2025). (Dok. Itera).

Meski demikian, terdapat perbedaan visibilitas di wilayah Indonesia saat gerhana bulan total ini terjadi. Pengamatan di wilayah Timur Indonesia memiliki visibilitas yang lebih baik karena dapat mengamati fase-fase awal gerhana saat Bulan terbit.

Sementara, untuk wilayah Barat Indonesia, gerhana akan ditemukan dalam kondisi sudah berlangsung atau fase totalitas atau puncak sesaat setelah Bulan terbit. BMKG mengingatkan kondisi langit yang cerah sangat menentukan keberhasilan pengamatan gerhana.

3. Tahun 2026 akan mengalami empat kali gerhana, hanya satu yang dapat dilihat di Indonesia

ilustrasi gerhana bulan blood moon (commons.wikimedia.org/Andrey73RUS)

Lebih jauh, BMKG memprediksi 2026 akan mengalami empat kali gerhana, terdiri dari dua kali gerhana Matahari dan dua kali gerhana Bulan. Namun, hanya Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026 yang dapat diamati dari Indonesia.

Secara astronomis, gerhana ini merupakan anggota ke-27 dari 71 anggota pada seri Saros 133. Fenomena yang sama sebelumnya pernah terjadi pada 21 Februari 2008 dan diprediksi akan kembali terjadi pada 13 Maret 2044.

Editorial Team