Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Profil Keiko Fujimori, Anak Eks Diktator Terpilih Jadi Presiden Peru

Profil Keiko Fujimori, Anak Eks Diktator Terpilih Jadi Presiden Peru
Presiden Peru, Keiko Fujimori (kanan). (Congreso de la República del Perú, CC BY 2.0, via Wikimedia Commons)
Intinya Sih
  • Keiko Fujimori resmi menjadi presiden Peru periode 2026-2031 setelah menang tipis 50,13 persen melawan Roberto Sanchez dalam putaran kedua pilpres.
  • Putri mantan Presiden Alberto Fujimori ini pernah menjadi ibu negara pada usia 19 tahun, menempuh studi bisnis di AS, dan kini menjadi presiden perempuan kedua Peru.
  • Setelah tiga kali kalah pilpres, Keiko menang pada pencalonan keempat dengan agenda konservatif, termasuk penanganan kriminalitas secara tegas dan rencana bergabung Shield of the Americas.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Keiko Fujimori akhirnya resmi menjabat sebagai presiden Peru yang baru pada Selasa (28/7/2026). Perempuan asal Lima itu terpilih setelah memenangkan pemilihan presiden putaran kedua melawan calon presiden sayap kiri, Roberto Sanchez. Dengan ini, Keiko menjadi presiden perempuan kedua Peru setelah Dina Boluarte.

Hasil pilpres pada April lalu menunjukkan Keiko hanya mampu menang tipis atas Sanchez dengan perolehan suara 50,13 persen berbanding 49,87 persen. Meskipun demikian, Keiko dipastikan menjadi presiden di Peru pada periode 2026-2031. Berikut profil Presiden baru Peru, Keiko Fujimori. 

1. Pernah dinobatkan sebagai ibu negara usai orangtuanya cerai

Presiden Peru, Keiko Fujimori.
Presiden Peru, Keiko Fujimori. (Dikilucario, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)

Keiko Fujimori atau yang bernama lengkap Keiko Sofia Fujimori Higuchi lahir di Lima, Peru pada 25 Mei 1975. Ia dikenal luas sebagai anak mantan Presiden Peru, Alberto Fujimori dan Susana Higuchi. 

Kedua orangtuanya merupakan keturunan imigran Jepang di Peru. Keiko merupakan anak pertama dari empat bersaudara dan memiliki tiga saudara kandung bernama Hiro, Sachi, dan Kenji. 

Setelah orangtuanya bercerai pada 1994, Keiko ditunjuk oleh ayahnya untuk menggantikan ibunya sendiri dan menjadi ibu negara di saat usianya baru 19 tahun. Alhasil, ia harus ikut dalam sejumlah acara dan bekerja dalam membantu komunitas yang kekurangan di Peru. 

Dilansir Peru Reports, Keiko sudah mendirikan Peruvian Baby Heart Foundation. Yayasan itu didirikan untuk membantu anak-anak dari keluarga miskin di pedesaan untuk menerima pengobatan dan operasi jantung di rumah sakit modern di Lima dan area perkotaan lainnya.

2. Menempuh pendidikan S-1 dan S-2 di Amerika Serikat

tampak depan Universitas Colombia di New York, Amerika Serikat
tampak depan Universitas Colombia di New York, Amerika Serikat (unsplash.com/tobi_sap)

Setelah lulus SMA, Keiko memutuskan untuk pergi ke Amerika Serikat (AS) untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang S-1 di Stony Brook University. Namun, ia terpaksa membagi antara kuliah dan pekerjaan sebagai ibu negara Peru. 

Akhirnya, Keiko berhasil menyelesaikan studinya di Jurusan Administrasi Bisnis di Boston University pada 1997. Pada akhir 1990-an, ayahnya mendapat perhatian khusus terkait dugaan kasus korupsi dan skandal pelanggaran hak asasi manusia (HAM). Fujimori diduga membiayai kuliah Keiko di AS menggunakan dana hasil korupsi. 

Pada November 2000, Fujimori berhasil melarikan diri ke Jepang usai menjadi buronan di Peru. Sejak saat itu, status Keiko sebagai ibu negara resmi berakhir bersamaan dengan berakhirnya pemerintahan Fujimori di Peru. Ayah Keiko akhirnya ditangkap di Santiago, Chile pada 2005 dan diekstradisi ke Peru pada 2006. 

Pada 2002, Keiko melanjutkan kembali pendidikannya di Columbia University untuk menempuh Jurusan Master of Business Administration. Ia resmi memperoleh gelar MBA pada 2008 dan sempat mencalonkan sebagai anggota parlemen pada 2006.

3. Mencalonkan diri dalam 4 pilpres Peru

ilustrasi bendera Peru
ilustrasi bendera Peru (unsplash.com/saz26)

Setelah berkarier di dunia politik menjadi anggota parlemen, Keiko akhirnya mencoba untuk mencalonkan sebagai presiden pada 2011. Ia menerima dukungan hanya dari basis pendukung ayahnya yang membuatnya kalah dalam 4 kali pilpres. 

Dilansir Britannica, pada percobaan keduanya di tahun 2016, ia kembali kalah dari Pedro Pablo Kuczynski yang mendapat dukungan dari berbagai partai yang menolak Fujimori. Usai mencalonkan pada 2011 dan 2016, Keiko diinvestigasi atas dugaan mendapatkan biaya kampanye dari perusahaan Brasil, Odebrecht. 

Pada 2021, Keiko kembali mencalonkan dan kalah tipis dari calon sayap kiri, Pedro Castillo. Setelah itu, Peru dihadapkan pada krisis politik berkepanjangan usai lengsernya Castillo yang hanya 1 tahun menjabat. 

Pada percobaan keempat, Keiko akhirnya berhasil memenangkan kursi orang nomor satu di Peru. Keberhasilan Keiko menunjukkan masih kuatnya dukungan kepada Alberto Fujimori meskipun dikenal sebagai diktator dengan pemerintahan otoriter dan kontroversinya. Namun, terpilihnya Keiko disebut karena lelahnya warga imbas maraknya kriminalitas dan instabilitas ekonomi di Peru dalam beberapa tahun terakhir. 

4. Punya pandangan konservatif dan ingin gabung dalam Shield of the Americas

ilustrasi bendera Peru
ilustrasi bendera Peru (unsplash.com/jthorson2)

Keiko dikenal sebagai sosok presiden berpandangan konservatif sayap kanan. Terpilihnya Keiko Fujimori di Peru menandai peralihan politik sayap kanan di Amerika Latin dalam beberapa tahun terakhir. 

Dilansir ABC News, Keiko berjanji akan melawan kriminalitas di negaranya dengan tangan besi. Ia akan meniru kebijakan dari Presiden El Salvador, Nayib Bukele dengan menerapkan status darurat dan membangun penjara raksasa untuk menampung penjahat kelas kakap di Peru.

Tak hanya itu, Keiko juga berniat untuk bergabung dalam Shield of the Americas yang diinisiasi oleh Presiden AS, Donald Trump. Menteri Luar Negeri Peru, Carlos Espa mengatakan bahwa Peru akan memiliki hubungan baik dengan AS dan menjadi rekan strategis, sekutu dan sahabat. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More