Dari 42 konflik tersebut, Komnas HAM mengungkap 59 orang meninggal dunia. Rinciannya, 43 orang merupakan warga sipil. 8 orang adalah aparat TNI dan Polri, sedangkan 8 orang merupakan KSB atau kelompok kriminal bersenjata (KKB).
Momen TNI Berhasil Evakuasi Korban Terakhir Pembunuhan OPM di Yahukimo

- Satgas TNI Habema mengevakuasi jenazah Teina Alya, korban sipil ketiga penembakan OPM di Yahukimo, dari dasar longsoran Kali Kolof setelah permintaan keluarga.
- Evakuasi dilakukan dengan teknik rappelling di tebing curam setelah area diamankan. Jenazah dibawa ke RSUD Dekai sebelum diserahkan kepada keluarga untuk dimakamkan sesuai adat.
- Komnas HAM mencatat 59 orang tewas dalam 42 konflik bersenjata di Papua pada Januari-Juni 2026, termasuk 43 warga sipil, serta 50 orang lainnya luka-luka.
Jakarta, IDN Times - Satgas TNI Habema akhirnya berhasil mengevakuasi jenazah warga sipil ketiga yang tewas dibunuh oleh Organisasi Papua Merdeka (OPM) pada Jumat, 31 Juli 2026. Korban sipil ketiga merupakan perempuan dan diketahui bernama Teina Alya.
Jenazah Teina ditemukan di longsoran Kali Kolof dengan kedalaman 50 meter. Posisi itu berjarak 100 meter dari lokasi penembakan.
"Korban atas nama Teina Alya asal Unaukam. Dia merupakan korban warga sipil yang menjadi bagian dari tiga korban penembakan oleh Kelompok OPM Kodap XVI/Yahukimo," ungkap Kepala Penerangan Koops TNI Habema, Letnan Kolonel Inf M Wirya Arthadiguna di dalam keterangan yang dikutip pada Sabtu (1/8/2026).
TNI ikut turun tangan karena diminta oleh keluarga Teina supaya mengevakuasi jenazahnya. Keluarga ingin segera memakamkan jenazah Teina.
"Setelah menerima informasi mengenai keberadaan jenazah di lokasi longsoran Kali Kolof, personel Koops TNI Habema segera menyusun operasi evakuasi dengan mempertimbangkan aspek keamanan personel, kondisi medan dan penghormatan terhadap korban serta keluarganya," tutur dia.
1. OPM diduga ingin sembunyikan jenazah korban

Lebih lanjut, Wirya menilai dari jarak penemuan jenazah dan lokasi eksekusi, diduga kelompok OPM berniat untuk menghilangkan jenazah Teina Alya. Dari dokumentasi yang dibagikan oleh Satgas TNI Habema, lokasi jenazah ditemukan di medan yang sulit.
"Lokasi jenazah berada di dasar longsoran dengan tebing yang curam sehingga hanya dapat dijangkaui menggunakan teknik vertical rescue atau rapelling. Sebelum evakuasi dilakukan, personel terlebih dulu menguasai titik-titik ketinggian di sekitar lokasi untuk memastikan situasi sudah benar-benar aman dari potensi gangguan," kata Wirya.
Dalam proses evakuasi terhadap dua korban sipil lainnya, TNI sempat diganggu oleh kelompok OPM. Mereka sempat melepaskan tembakan ke arah satgas TNI Habema.
Sementara, dalam proses evakuasi jenazah Teina Alya, personel TNI baru bergerak usai keadaan dinyatakan aman. Tiga personel koops TNI Habema diturunkan menggunakan tali karmentel menuju ke dasar jurang.
"Jenazah kemudian dimasukan ke dalam kantong jenazah kemudian diangkat secara bertahap hingga berhasil dievakuasi ke atas tebing," tutur dia.
2. Jenazah Teina Alya dibawa ke RSUD Dekai

Jenazah kemudian dibawa menuju ke RSUD Dekai untuk proses penanganan lebih lanjut sebelum diserahkan ke pihak keluarga, tokoh masyarakat, tokoh gereja dan kepala suku untuk dimakamkan sesuai adat istiadat serta keyakinan keluarga.
Sebelumnya, satgas TNI Habema pada pekan lalu berhasil mengevakuasi dua jenazah warga sipil yang juga tewas ditembak OPM. Dua korban yang merupakan suami istri ditemukan di sekitar Jalan Trans Papua, Distrik Seradala, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan.
Kepala Penerangan Koops TNI Habema, Letkol Inf M Wirya Arthadiguna, mengatakan operasi dilaksanakan dengan melibatkan beberapa personel yang terbagi dalam unsur evakuasi dan pengamanan, proses evakuasi dilaksanakan dengan penuh kehati-hatian, mengingat medan pegunungan, cuaca, debit sungai, serta situasi keamanan yang masih berpotensi membahayakan.
"Lokasi jenazah diketahui telah berpindah ke bawah Jembatan Kali Ahom, tidak jauh dari ruas Jalan Trans Papua yang menjadi lokasi terjadinya aksi penembakan," kata Wirya di dalam keterangan pada Jumat, 24 Juli 2026.
Pada saat tim evakuasi bergerak menuju lokasi jenazah, keberadaan OPM sempat terdeteksi. Dia mengatakan, sempat terjadi kontak tembak antara TNI dan kelompok tersebut yang berada di sekitar area kejadian.
"Meski demikian, personel Koops TNI Habema tetap mengutamakan keselamatan seluruh anggota tim dan memastikan proses evakuasi dapat dilanjutkan," tutur dia.
3. Komnas HAM catat 59 orang tewas dalam kekerasan bersenjata di Papua sepanjang 2026

Sementara, berdasarkan data dari Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), sebanyak 59 orang tewas akibat eskalasi konflik dan kekerasan bersenjata di Papua sepanjang Januari hingga Juni 2026. Dari jumlah tersebut, sebanyak 43 korban di antaranya merupakan warga sipil.
Data statistik konflik pada semester I 2026 yang dirilis Komnas HAM menunjukkan 42 peristiwa konflik terjadi di berbagai wilayah Papua. Sebanyak 21 di antaranya merupakan serangan kelompok sipil bersenjata (KSB) terhadap sipil, 11 operasi aparat keamanan, 8 kontak tembak, 4 serangan KSB ke aparat, dan 6 konflik lainnya.
"Situasi ini mengakibatkan jatuhnya korban jiwa baik meninggal maupun luka-luka, pengungsian internal, serta akses pelayanan dasar yang terganggu," ungkap Komisioner Komnas HAM Atnike Nova Sigiro dalam keterangannya, Rabu 15 Juli 2026.
Komnas HAM juga melaporkan ada 50 orang luka-luka. Rinciannya, 40 orang di antaranya merupakan warga sipil, 5 aparat TNI dan Polri, serta 5 orang KSB.
"Komnas HAM memberikan atensi terhadap dampak dari konflik dan kekerasan bersenjata terhadap masyarakat khususnya warga sipil," tutur dia.




















