Bogor, IDN Times - Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang melanda 36 provinsi di Indonesia dengan luasan mencapai 0,2 juta hektare hingga Juni 2026 memantik keprihatinan serius.
Direktur SEAMEO-BIOTROP sekaligus Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University, Edi Santosa, memperingatkan fenomena berulang ini bukan hanya merusak ekologi, tetapi juga mengancam kelestarian jantung keanekaragaman hayati (biodiversitas) global yang berpusat di Kalimantan.
Dikonfirmasi pada Sabtu (17/10/2026), Edi mendesak adanya perubahan paradigma dalam penanganan karhutla yang dinilainya masih mengesampingkan nilai komoditas hayati.
"Api kecil adalah kehidupan, tetapi api yang tidak terkendali adalah bencana. Karhutla seyogianya tidak lagi disikapi sebagai hal biasa. Data satu dekade terakhir, karhutla seperti ritual tahunan. Jadi, sejatinya ini kondisi amat serius," kata Edi.
