Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Guru Besar IPB Peringatkan Ancaman Karhutla di Jantung Biodiversitas
Kementerian Kehutanan terus memperkuat pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui operasi darat dan udara menyusul peningkatan jumlah titik panas (hotspot) dengan tingkat kepercayaan tinggi pada pemantauan terbaru. Perhatian terutama diarahkan ke Kalimantan Tengah yang mencatat jumlah hotspot tertinggi di antara enam provinsi prioritas. (Dok. Kemenhut)
  • Karhutla melanda 36 provinsi hingga Juni 2026 seluas 0,2 juta hektare, dengan Kalimantan mencatat area terbakar terluas 57.081 hektare.

  • Kebakaran mengancam Heart of Borneo seluas 22 juta hektare dan habitat spesies langka; gambut, rerumputan, serta batu bara membuat api cepat menjalar dan sulit dipadamkan.

  • Edi Santosa mendorong teknologi tanpa bakar, penguatan sanksi sosial hukum adat, dan mitigasi menjelang El Nino kuat, sementara penegakan hukum dinilai sebagai langkah terakhir.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Juni 2026

Karhutla melanda 36 provinsi di Indonesia dengan luas mencapai 0,2 juta hektare.

3 September 2026

Aparat telah memproses pelaku pembakaran lahan di area seluas 4.738,49 hektare.

17 Oktober 2026

Edi Santosa memperingatkan karhutla mengancam biodiversitas Kalimantan dan mendesak perubahan paradigma penanganannya.

akhir 2026

Prediksi badai El Nino kuat mendorong kebutuhan mitigasi karhutla jangka pendek.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Kebakaran hutan dan lahan melanda 36 provinsi di Indonesia hingga Juni 2026 dengan luas sekitar 0,2 juta hektare, termasuk 57.081 hektare di Kalimantan.
  • Who?
    Edi Santosa, Direktur SEAMEO-BIOTROP dan Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University, menyampaikan peringatan; aparat juga memproses pelaku pembakaran lahan.
  • Where?
    Kebakaran terjadi di 36 provinsi. Kalimantan mencatat luasan tertinggi dan menjadi perhatian karena mencakup kawasan Heart of Borneo seluas 22 juta hektare.
  • When?
    Data luasan karhutla tercatat hingga Juni 2026. Edi dikonfirmasi pada Sabtu, 17 Oktober 2026, sementara penanganan pelaku pembakaran dilaporkan hingga 3 September 2026.
  • Why?
    Karhutla dinilai mengancam habitat dan biodiversitas Kalimantan. Rambatan api dipengaruhi gambut berumput, rumput kering, angin, serta potensi api menjalar di bawah tanah.
  • How?
    Edi mendorong teknologi pengganti pembakaran lahan, mitigasi menghadapi El Nino, serta penguatan sanksi sosial melalui hukum adat. Aparat memproses kasus pada area 4.738,49 hektare.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Api hutan dan lahan terjadi di 36 provinsi Indonesia sampai Juni 2026. Kalimantan paling banyak terbakar. Pak Edi dari IPB bilang ini bahaya untuk hutan dan hewan langka, seperti orangutan. Api bisa lari cepat di rumput kering dan tanah gambut. Sekarang pemerintah perlu cara membuka lahan tanpa membakar, apalagi El Nino kuat diperkirakan datang.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Peringatan terhadap karhutla juga membuka ruang bagi penanganan yang lebih berpihak pada perlindungan biodiversitas. Proses hukum atas pembakaran lahan, gagasan teknologi pengganti sistem bakar, serta penguatan sanksi sosial melalui hukum adat menunjukkan adanya unsur penting untuk memutus kebiasaan pembakaran dari tingkat tapak.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bogor, IDN Times - Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang melanda 36 provinsi di Indonesia dengan luasan mencapai 0,2 juta hektare hingga Juni 2026 memantik keprihatinan serius.

Direktur SEAMEO-BIOTROP sekaligus Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University, Edi Santosa, memperingatkan fenomena berulang ini bukan hanya merusak ekologi, tetapi juga mengancam kelestarian jantung keanekaragaman hayati (biodiversitas) global yang berpusat di Kalimantan.

Dikonfirmasi pada Sabtu (17/10/2026), Edi mendesak adanya perubahan paradigma dalam penanganan karhutla yang dinilainya masih mengesampingkan nilai komoditas hayati.

"Api kecil adalah kehidupan, tetapi api yang tidak terkendali adalah bencana. Karhutla seyogianya tidak lagi disikapi sebagai hal biasa. Data satu dekade terakhir, karhutla seperti ritual tahunan. Jadi, sejatinya ini kondisi amat serius," kata Edi.

1. Kalimantan dilanda api, ancam kawasan Heart of Borneo

Foto udara kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Hutan Lindung Liang Anggang, Banjarbaru, Kalimantan Selatan. (ANTARA FOTO/Bayu Pratama S)

Berdasarkan data SiPongi Kementerian Kehutanan, Kalimantan menduduki peringkat teratas luasan karhutla dengan 57.081 hektare, mengalahkan Maluku-Papua (49.064 ha) dan Sumatra (36.048 ha).

Hal ini memicu atensi global lantaran Kalimantan merupakan pusat Heart of Borneo (HoB) seluas 22 juta hektare, yang menjadi habitat spesies langka seperti orangutan hingga macan dahan.

"Sekali biodiversitas punah atau habitat runtuh, akan sulit bahkan mustahil dikembalikan seperti semula. Karhutla seharusnya dipandang sebagai akibat, akibat kita belum menjadikan biodiversitas sebagai sentral," jelas Edi.

2. Karakteristik alam picu kecepatan rambat api hingga 400 meter per menit

Direktur SEAMEO BIOTROP, Profesor Edi Santosa. (IDN Times/Linna Susanti)

Tingginya luasan kebakaran di Kalimantan dipengaruhi topografi gambut berumput yang menutupi hampir 8 persen wilayah daratannya, ditambah posisinya sebagai lumbung 80 persen batu bara nasional. Kondisi ini membuat api tidak hanya membakar permukaan, tetapi juga menjalar liar di bawah tanah.

"Kecepatan bakar rerumputan Kalimantan mencapai lebih 200 meter per menit. Bahkan, menjalar 400 meter per menit jika rumput kering disertai angin. Jika api sampai mencapai batu bara, tentu akan jauh lebih sulit dipadamkan," paparnya.

3. Butuh teknologi tanpa bakar dan perkuat hukum adat

ilustrasi alat pemadam api (unsplash.com/Piotr Chrobot)

Menghadapi prediksi badai El Nino kuat di akhir 2026, mitigasi jangka pendek mutlak diperlukan. Hingga 3 September 2026, aparat telah memproses pelaku pembakaran lahan di area seluas 4.738,49 hektare. Namun, Edi menilai, pemerintah harus menyediakan solusi teknologi pengganti sistem bakar lahan bagi masyarakat tingkat tapak.

"Di lapangan, perlu bentuk nyata langkah memutus kebiasaan membakar lahan, penegakan hukum seyogianya menjadi jalan terakhir. Sanksi sosial dalam kerangka hukum adat perlu kembali digalakkan dibandingkan hukum formal," pungkasnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article