Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kabut Asap Karhutla Mengganas, Begini Imbauan Kepala BMKG

4 min read
Kabut Asap Karhutla Mengganas, Begini Imbauan Kepala BMKG
Kabut asap karhutla menyelimuti Kota Palembang, Sumatra Selatan, hingga jarak pandang turun 400 meter pada Kamis (8/10/2026) (Dok/BNPB)
  • Kabut asap karhutla sempat mencapai Jabodetabek, tetapi BMKG menyatakan sebarannya mulai menjauh; sisa asap masih terdeteksi di pesisir barat Banten pada ketinggian 3–5,4 kilometer.
  • BMKG mengimbau warga waspada terhadap panas, udara kering, dan kualitas udara memburuk; gunakan masker, cukup minum, batasi aktivitas luar ruangan, serta pantau informasi resmi.
  • Pemantauan 16 Oktober mencatat 478 titik panas berkepercayaan tinggi, terbanyak di Sumatra Selatan; kondisi kering diprakirakan berlanjut di sejumlah wilayah hingga 24 Oktober 2026.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Kabut asap dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kini menyebar hingga wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek).

Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Teuku Faisal Fathani, mengatakan dalam menyikapi kondisi tersebut, BMKG mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap cuaca panas, kondisi udara kering, dan potensi penurunan kualitas udara akibat asap karhutla.

Masyarakat perlu menjaga kecukupan cairan tubuh, menggunakan tabir surya saat beraktivitas di bawah sinar matahari, serta membatasi aktivitas di luar ruangan, apabila kualitas udara memburuk.

"Masyarakat yang berada di wilayah terdampak asap juga dianjurkan menggunakan masker yang sesuai, untuk mengurangi paparan partikel asap, terutama anak-anak, lansia, dan orang dengan gangguan pernapasan," kata dia dalam keterangan tertulis, Sabtu (17/10/2026).

  1. 1. BMKG ajak pemda tingkatkan kesiapsiagaan hadapi kekeringan dan karhutla

    IMG_3119.jpeg
    Kementerian Kehutanan terus memperkuat pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui pemantauan intensif, operasi darat dan udara, serta verifikasi langsung terhadap indikasi titik panas (hotspot) di lapangan. Kalimantan Tengah menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian setelah mencatat jumlah hotspot tertinggi di antara enam provinsi prioritas pada pemantauan terbaru. (Dok. Kemenhut)

    BMKG juga mengajak pemerintah daerah, instansi terkait, dan masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi kekeringan dan karhutla.

    Masyarakat perlu menghemat dan mengelola sumber daya air secara bijak, tidak membakar sampah atau membuka lahan dengan cara membakar, khususnya di lahan gambut, semak belukar, dan kawasan hutan. Apabila menemukan indikasi titik api, masyarakat diminta segera melaporkan kepada pihak berwenang.

    BMKG juga mengimbau masyarakat untuk terus memantau perkembangan cuaca, kualitas udara, dan peringatan dini melalui laman resmi www.bmkg.go.id, aplikasi InfoBMKG, serta media sosial @infobmkg.

  2. 2. Asap karhutla mulai menjauh dari wilayah Jabodetabek

    Karhutla, Malaysia
    Situasi kabut asap dari karhutla Indonesia yang dirasakan oleh warga Malaysia. (ANTARA FOTO/Rangga Pandu Asmara)

    BMKG juga menyebutkan kabut asap karhutla yang sempat mampir ke wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek), mulai menjauh. Kendati, BMKG masih mendeteksi sisa sebaran asap karhutla di pesisir barat Banten pada ketinggian sekitar 10.000–18.000 kaki atau 3–5,4 kilometer.

    Sekretaris Utama BMKG, Guswanto, mengatakan hasil pemantauan citra satelit pada Jumat, 16 Oktober 2026, menunjukkan asap karhutla sempat memasuki wilayah Jawa bagian barat secara sesaat, termasuk Jabodetabek, tetapi tidak berlangsung lama dan tidak berdampak pada kualitas udara di permukaan.

    Sementara hasil pemantauan pada Sabtu (17/10/2026) pukul 08.00, 10.00, dan 13.00 WIB, kata Guswanto, menunjukkan sebaran asap karhutla di wilayah tersebut mulai bergerak menjauh secara bertahap.

    Guswanto menjelaskan perubahan arah dan pergerakan angin yang mulai melemah pada ketinggian tersebut memengaruhi pergeseran sebaran asap dari wilayah Jawa. Ia menegaskan keberadaan asap yang terdeteksi satelit tidak selalu menunjukkan peningkatan konsentrasi polutan di permukaan, sehingga masyarakat tidak perlu panik.

    "Meski demikian, BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan memantau perkembangan kualitas udara di lingkungan masing-masing. BMKG terus memantau dinamika atmosfer dan menyampaikan informasi terkini sebagai dasar bagi masyarakat untuk mengambil langkah antisipatif," kata Guswanto, dalam keterangan tertulis, Sabtu.

  3. 3. Konsentrasi partikulat kategori sedang hingga tidak sehat

    IMG_9274.jpeg
    Relawan bantu padamkan api karhutla di Kalteng. (IDN Times/istimewa).

    Guswanto menjelaskan berdasarkan pengukuran konsentrasi partikulat halus PM2.5 di Kemayoran, Jakarta, konsentrasinya berkisar 46,7–109,7 µg/m³, yang berada pada rentang kategori sedang hingga tidak sehat.

    Sementara, data Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) dari Kementerian Lingkungan Hidup, menunjukkan kualitas udara Jakarta bervariasi, dari kategori baik hingga tidak sehat, dengan PM2.5 sebagai parameter kritis.

    ISPU di Marunda tercatat 49 (baik), Tanah Abang 60 (sedang), Kelapa Gading 103 (tidak sehat), Menteng 116 (tidak sehat), dan Kebun Jeruk 120 (tidak sehat).

    Pelaksana Tugas (Plt.) Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, menyampaikan hingga saat ini sebaran asap karhutla di wilayah lain masih terpantau di sebagian besar Sumatra dan Kalimantan, Sulawesi bagian tengah hingga selatan, Kepulauan Maluku, serta sebagian besar Papua.

    Asap di wilayah-wilayah tersebut terpantau bergerak ke arah barat laut hingga timur laut. Kondisi tersebut terjadi karena masih terdeteksinya titik panas atau hotspot di sejumlah wilayah Indonesia.

  4. 4. BMKG catat 478 titik panas karhutla

    Foto udara karhutla dan kabut asap di Banjarbaru Kalimantan Selatan
    Foto udara kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Hutan Lindung Liang Anggang, Banjarbaru, Kalimantan Selatan. (ANTARA FOTO/Bayu Pratama S)

    Berdasarkan pemantauan pada 16 Oktober 2026 pukul 00.00–23.59 WIB, BMKG mencatat 478 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi. Sumatra Selatan mencatat jumlah terbanyak, yakni 189 titik, disusul Jawa Timur 89 titik, Papua Selatan 63 titik, serta Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah masing-masing 26 titik.

    "Meski demikian, jumlah titik panas harian di Kalimantan Tengah menurun signifikan dibandingkan pemantauan pada 15 Oktober 2026, dari 485 titik menjadi 26 titik. Perkembangan ini menunjukkan penurunan jumlah titik panas yang terdeteksi di wilayah tersebut, meskipun potensi karhutla tetap perlu diwaspadai," ujar Andri.

    Kondisi cuaca di Indonesia masih bervariasi. Sejumlah wilayah, terutama Sumatra bagian selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan sebagian Kalimantan, masih mengalami kondisi relatif kering. BMKG memprakirakan kondisi tersebut berlanjut pada 17–24 Oktober 2026 seiring dengan rendahnya potensi pertumbuhan awan hujan.

    Sebaliknya, peluang pertumbuhan awan hujan lebih dari 70 persen masih terdapat di sejumlah wilayah, terutama Sumatra bagian utara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku Utara, dan Papua. Kondisi ini mendukung potensi hujan ringan hingga sedang.

    BMKG juga mewaspadai potensi hujan deras di sebagian wilayah Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan Papua Pegunungan.

    "Sementara pola angin pada lapisan atmosfer 925–500 hPa secara umum didominasi angin dari arah timur hingga tenggara dengan kecepatan 5–34 knot. Pola tersebut memengaruhi arah pergerakan dan penyebaran asap karhutla sekaligus berperan dalam proses pertumbuhan awan hujan di berbagai wilayah Indonesia," ujar Andri.

Share Article
Editorial Team

Di Balik Produksi Operasi Pesta Copet

Related Articles

See More