Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Hotspot Karhutla Kalimantan Melonjak, Jarak Pandang Memburuk
Foto udara asap membubung ke langit saat terjadi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Hutan Lindung Gambut (HLG) Londerang, Tanjung Jabung Timur, Jambi, Jumat (28/8/2026). (ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan)
  • BNPB mencatat lonjakan hotspot karhutla di Kalimantan, terutama Kalimantan Barat yang bertambah 3.553 titik dalam 24 jam hingga total 7.377 titik.
  • Asap di Kalimantan Barat, Tengah, dan Selatan sangat pekat, menurunkan kualitas udara serta membatasi jarak pandang sekitar 1–2 kilometer.
  • Di Sumatra, hotspot Sumatra Selatan naik 209 titik menjadi 1.013, sementara Riau dan Jambi menurun; tim gabungan menangani enam provinsi melalui operasi darat dan udara.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat lonjakan tajam titik panas (hotspot) kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan. Kenaikan paling signifikan terjadi di wilayah Kalimantan Barat.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Letjen Berton SP Panjaitan, mengungkapkan hotspot di Kalimantan Barat bertambah 3.553 titik hanya dalam tempo 24 jam. Saat ini, total hotspot di provinsi tersebut menembus 7.377 titik. Sementara itu, Kalimantan Tengah mencatat 5.244 titik dan Kalimantan Selatan 504 titik.

"Kita lihat bahwa di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, maupun Kalimantan Selatan jumlah titik panas itu relatif bertambah. Di Kalimantan Barat signifikan bertambahnya. Di Kalimantan Selatan maupun Kalimantan Tengah relatif menurun," ujar Berton dalam konferensi pers, Senin (31/8/2026).

1. Jarak pandang terbatas hanya 1-2 kilometer

Pemadaman Karhutla di kawasan Gambut di Desa Kota Bumi, Kecamatan Tanjung Lubuk, Ogan Komering Ilir (OKI) ANTARA FOTO/Nova Wahyudi

Berton menjelaskan, lonjakan titik api langsung berdampak pada penurunan kualitas udara dan jarak pandang (visibility) masyarakat di daerah terdampak.

"Namun demikian kalau kita perhatikan data dari titik api di tiga provinsi ini kita temukan adanya kenaikan titik api dan jarak pandang pun kurang lebih 1 sampai 2 kilometer," katanya.

2. Asap pekat selimuti wilayah Kalimantan

Pemadaman Karhutla di kawasan Gambut di Desa Kota Bumi, Kecamatan Tanjung Lubuk, Ogan Komering Ilir (OKI) ANTARA FOTO/Nova Wahyudi

Selain pemantauan titik panas, BNPB berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk memetakan sebaran polutan.

Berton menyebut paparan asap di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan berada pada level sangat pekat. Kondisi ini menandakan tingginya konsentrasi partikel asap yang melingkupi pemukiman warga.

"Di Kalimantan Barat, Tengah, maupun Selatan relatif sangat pekat. Ini menandakan bahwa jumlah asap sangat tebal di daerah-daerah tersebut," ujar Berton.

3. Hotspot Sumatra Selatan naik, Riau dan Jambi menurun

Petugas melakukan pendinginan di wilayah Karhutla yang terjadi di Kerumutan, Kabupaten Pelalawan (IDN Times/ dok Balai Dalkarhut Wilayah Sumatera)

Di Pulau Sumatra, peta sebaran titik panas menunjukkan dinamika berbeda. Jumlah hotspot di Riau dan Jambi mengalami penurunan signifikan, namun wilayah Sumatra Selatan justru mencatat peningkatan.

"Sedangkan di Provinsi Riau, Sumatera Selatan dan Jambi, titik api relatif menurun. Sedangkan titik panas terjadi peningkatan di Sumatera Selatan sebesar 209 titik api bertambah menjadi 1.013. Sedangkan di Riau maupun di Jambi, titik panas berkurang secara signifikan," kata Berton.

Saat ini, BNPB bersama tim gabungan terus memacu penanganan karhutla di enam provinsi prioritas lewat operasi darat dan udara. Pada Minggu (30/8/2026), helikopter water bombing telah mengagihkan total 2,3 juta liter air untuk memadamkan kobaran api dari udara.

Curated For You

Editorial Team

Related Article