Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
ILRC: Kasus Penyekapan di Bandung Mengarah ke Femisida
Ilustrasi kekerasan perempuan. (IDN Times/Aditya Pratama)
  • ILRC menilai kasus penyekapan dan penganiayaan di Bandung sebagai kekerasan berbasis gender yang menunjukkan pola kontrol, dominasi, dan isolasi terhadap korban perempuan.
  • Korban mengalami disabilitas permanen akibat kekerasan berulang yang mencerminkan pola coercive control untuk menghilangkan kebebasan dan otonomi tubuhnya.
  • ILRC menyerukan peningkatan kesadaran publik tentang tanda-tanda awal kekerasan dalam pacaran serta pentingnya pencegahan femisida melalui peran aktif masyarakat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Ada seorang perempuan namanya YTT disekap dan disakiti oleh pacarnya, TH, di Bandung. Badannya jadi sakit dan matanya tidak bisa lihat lagi. Orang-orang dari ILRC bilang ini bukan cuma dipukul, tapi juga cara jahat buat ngatur dan nakutin dia. Sekarang banyak orang diminta hati-hati supaya hal seperti ini tidak terjadi lagi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - The Indonesian Legal Resource Center (ILRC) mengatakan penyekapan dan penganiayaan oleh TH pada seorang perempuan bernisial YTT yang adalah pacarnya di Bandung, sebagai kekerasan berbasis gender terhadap perempuan.

Kasus ini menunjukkan pola kontrol, dominasi, dan isolasi yang berpotensi berkembang menjadi pembunuhan berbasis gender terhadap perempuan (femicide).

Peneliti ILRC, Tri Febi Maharani menilai, kasus ini tidak boleh dipandang sebagai kasus penganiayaan semata. Penyanderaan itu, kata dia, membentuk ketakutan dan ketergantungan korban pada pelaku.

"Biar gak bisa lari, gak bisa lapor, gak bisa mandiri yang akhirnya semakin memperkuat ketergantungan hidup dan matinya pada pelaku. Ini kejam sekali,” ujar dia, Selasa (23/6/2026).

1. Pola coercive control untuk kendalikan korban

Ilustrasi kekerasan perempuan dan anak (IDN Times)

Akibat penganiayaan korban mengalami disabilitas permanen berupa kehilangan fungsi penglihatan dan kemampuan berjalan. Hal ini, kata dia, menunjukkan upaya pelaku untuk lumpuhkan kemampuan korban dalam mempertahankan diri, melarikan diri, mencari pertolongan, dan menjalani hidup secara mandiri.

Rangkaian tindakan itu menunjukkan pola coercive control, yaitu penggunaan berbagai bentuk kekerasan dan intimidasi untuk kendalikan kehidupan korban serta menghilangkan kebebasannya sebagai individu yang otonom.

Penyekapan bertujuan untuk merampas kebebasan dan otonomi tubuh perempuan, mengisolasi korban, menciptakan ketergantungan dan ketakutan.

2. Bentuk kekerasan dalam relasi pacaran terjadi bertahap

Kamar yang digunakan untuk penculikan dan penganiayaan di Kabupaten Bandung. IDN Times/Debbie Sutrisno

Tri Febi menjelaskan, berbagai bentuk kekerasan, baik kekerasan fisik, psikis, seksual dan ekonomi dalam relasi pacaran sering kali berlangsung secara bertahap.

Korban diisolasi dari lingkungan sosial dan keluarganya, tidak diizinkan memegang telepon genggam, disekap, serta mengalami kekerasan fisik yang berulang.

3. Pentingnya pencegahan femisida

Kasus penculikan dan penganiayaan perempuan di Kabupaten Bandung. IDN Times/Debbie Sutrisno

Di sisi lain, kasus ini disebut jadi pengingat kekerasan dalam pacaran bukan persoalan privat, melainkan persoalan publik. Karena itu, ILRC mengajak setiap perempuan dan laki-laki, keluarga, institusi pendidikan, komunitas, aparat penegak hukum, media, dan masyarakat luas untuk meningkatkan kesadaran mengenali tanda-tanda awal kekerasan serta pentingnya pencegahan femisida.

“Kenali tanda bahaya atau red flag dalam pacaran dan jangan ragu mencari bantuan. Kita semua juga memiliki tanggung jawab untuk lebih peka terhadap perubahan kondisi dan tanda-tanda kekerasan yang dialami orang-orang di sekitar kita. Kekerasan dalam pacaran tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan seringkali diawali oleh perilaku mengontrol, membatasi kebebasan, mengintimidasi, hingga mengisolasi korban. Semakin dini tanda-tanda tersebut dikenali dan direspons, semakin besar peluang untuk menghentikan eskalasi kekerasan dan mencegah terjadinya femisida,” kata dia.

Editorial Team

Related Article