Alasan BNPB Tak Utamakan Hujan Buatan Atasi Karhutla

- BNPB mengutamakan operasi darat untuk menangani karhutla 2026 karena modifikasi cuaca bergantung pada ketersediaan awan, terutama demi memastikan api gambut benar-benar padam.
- OMC telah dilakukan di enam provinsi prioritas dengan total lahan terbakar 48.889,69 hektare; Kalimantan Barat mencatat area terluas, disusul Riau.
- BNPB menyiagakan armada udara dan bantuan peralatan bagi pemda; asap karhutla terpantau melintasi Malaysia, sementara AQI Pontianak mencapai 193 pada 9 Agustus.
Jakarta, IDN Times - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengutamakan operasi satgas darat ketimbang modifikasi cuaca untuk mengatasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada 2026. Hal itu lantaran operasi modifikasi cuaca (OMC) tergantung pada ketersediaan awan hujan. Operasi udara itu belum bisa berjalan optimal hingga akhir Agustus.
"Operasi udara sifatnya membantu. Ketika tidak ada awan hujan, OMC tidak dapat dilakukan. Dalam kondisi seperti itu, operasi darat menjadi sangat penting. Terutama untuk memastikan api di lahan gambut benar-benar padam," kata Pelaksana Harian (Plh) Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Dodi Yuleova, di dalam keterangan pada Selasa (11/8/2026).
Meski begitu, BNPB sudah melakukan OMC di enam provinsi prioritas. Keenam provinsi itu yakni Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Riau, Jambi dan Sumatra Selatan. Total wilayah yang terbakar di enam provinsi itu mencapai 48.889,69 hektare.
"Luasan wilayah yang terbakar terluas di Kalimantan Barat sekitar 28.680,47 hektare, disusul Riau 15.551,76 hektare, Kalimantan Tengah 3.069,52 hektare, Sumatra Selatan 664,87 hektare, Jambi sekitar 540 hektare dan Kalimantan Selatan 383,07 hektare," kata dia.
1. Operasi udara tetap disiagakan sebagai pendukung operasi darat

Ilustrasi kebakaran hutan dan lahan di area Sumatra pada 2026. (Dokumentasi BNPB) Dodi mengatakan, BNPB tetap menyiagakan pesawat untuk melakukan penyemaian ketika kondisi awan memungkinkan. Setiap terdapat pertumbuhan awan yang memenuhi untuk dilakukan kondisi OMC, operasi udara segera dilaksanakan.
BNPB menyiapkan 35 unit armada untuk melakukan operasi modifikasi cuaca yang terdiri dari 12 helikopter atau pesawat patroli, 21 helikopter water bombing dan dua pesawat OMC. BNPB juga mengupayakan penambahan delapan unit helikopter water bombing untuk memperkuat operasi penanganan karhutla.
"Water bombing merupakan dukungan terhadap operasi darat. Terutama di lahan gambut, setelah dilakukan pemboman air, pasukan darat tetap harus melakukan penyisiran dan pemadaman untuk memastikan api benar-benar padam," kata dia.
2. BNPB bantu pemda dalam memadamkan api saat karhutla

Kabut asap karhutla selimuti Pontianak. (IDN Times/Teri). Dodi mengatakan, BNPB akan mendukung pemda sesuai kemampuan pemerintah pusat untuk memadamkan api. Bantuan yang diberikan oleh BNPB antara lain berupa selang panjang untuk menjangkau sumber air, pompa jinjing, flexible tank, sumur bor dangkal, serta dukungan uang harian atau saku bagi personel yang bertugas langsung di lapangan.
"Dukungan alat berat juga dapat diberikan untuk mendukung pelebaran kanal gambut, pembuatan embung, maupun sodetan sebagai bagian dari upaya pengendalian dan pencegahan karhutla," kata dia.
Pemda juga diminta memastikan kesiapan pasukan darat, sarana prasarana, serta mekanisme pengerahan sumber daya apabila terjadi kebakaran. Kesiapsiagaan itu menjadi penting karena operasi udara tidak dijadikan satu-satunya strategi penanganan.
"Terutama ketika kondisi atmosfer tidak mendukung pelaksanaan OMC," kata dia.
3. Asap sudah terpantau menyeberang ke Malaysia pada 6-9 Agustus

ilustrasi wilayah Ambalat antara Indonesia dan Malaysia (dok. Google Maps) BNPB juga mencatat, asap yang dihasilkan dari karhutla sudah menyeberang ke negara tetangga. Berdasarkan pantauan citra satelit, asap terpantau menyeberang ke Malaysia yang berbatasan dengan Kalimantan Barat pada 4 Agustus, 6 hingga 9 Agustus 2026. Hal itu disebabkan adanya peralihan musim sehingga menyebabkan angin dominan bergerak dari tenggara ke barat.
Sementara, dari sisi kualitas udara, sejumlah wilayah pada Minggu, 9 Agustus 2026 menunjukkan kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif hingga sangat tidak sehat.
"Nilai AQI tertinggi tercatat di Kota Pontianak sebesar 193. Kondisi itu meningkatkan risiko gangguan kesehatan khususnya bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia dan balita," kata Dodi.



















