Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Indonesia Dorong Pemberdayaan Mayarakat untuk Perkuat ASEAN
ASCC High-Level Forum 2026 dan The 35th Meeting of the ASEAN Socio-Cultural Community (ASCC) Council di Makati, Manila, Filipina, pada 4–5 Maret 2026. (Dok. Kemenko PMK)
  • Indonesia menegaskan komitmen memperkuat ASEAN yang tangguh dan inklusif melalui pemberdayaan komunitas, perlindungan sosial, pendidikan, serta pembangunan berkelanjutan di forum ASCC High-Level Forum 2026 di Manila.
  • Indonesia mendorong penguatan kesiapan kelembagaan ASEAN lewat percepatan pusat kerja sama regional dan penerapan pendekatan whole-of-society agar kolaborasi lintas sektor makin efektif menghadapi tantangan kawasan.
  • Berbagai komitmen regional ditegaskan harus memberi manfaat nyata bagi masyarakat, termasuk pekerja migran dan pemuda, melalui perlindungan sosial, pendidikan vokasi, serta partisipasi aktif dalam pembangunan kawasan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Indonesia menegaskan komitmennya untuk memperkuat ASEAN yang tangguh, inklusif, dan berorientasi pada masyarakat dalam rangkaian ASCC High-Level Forum 2026 dan The 35th Meeting of the ASEAN Socio-Cultural Community (ASCC) Council di Makati, Manila, Filipina, pada 4–5 Maret 2026.

Pertemuan tingkat menteri tersebut membahas penguatan kerja sama di Pilar Sosial Budaya ASEAN sekaligus menjadi momentum memperkuat arah kolaborasi kawasan dalam mewujudkan ASEAN Community Vision 2045 dengan semangat “Navigating Our Future, Together.”

Dalam forum itu, Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Keluarga dan Kependudukan Kemenko PMK, Woro Srihastuti Sulistyaningrum, hadir sebagai delegasi Indonesia mewakili Menko PMK Pratikno. Indonesia juga menyampaikan dukungan terhadap prioritas Keketuaan Filipina 2026 di bawah kerangka RISE yang dinilai sejalan dengan upaya membangun ASEAN yang lebih tangguh, inklusif, dan berorientasi pada hasil.

1. Pemberdayaan komunitas sebagai fondasi ketahanan kawasan

Bendera Negara-negara ASEAN (asean.org)

Indonesia menekankan pentingnya pemberdayaan komunitas sebagai dasar memperkuat ketahanan kawasan dan keberlanjutan pembangunan ASEAN. Upaya tersebut antara lain dilakukan melalui penguatan perlindungan sosial, pendidikan, ketahanan pangan, pendidikan kebencanaan, penghidupan berkelanjutan, hingga pembangunan infrastruktur yang tangguh terhadap bencana dan perubahan iklim.

Indonesia juga menegaskan komitmennya untuk memperkuat peran komunitas dalam agenda pengurangan risiko bencana, termasuk melalui Keketuaan Indonesia pada ASEAN Committee on Disaster Management (ACDM).

“Kerangka RISE sejalan dengan upaya memperkuat ASEAN yang tangguh dan inklusif. Implementasinya perlu didorong melalui kerja sama yang konkret, lintas sektor, dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat di kawasan,” ujar Lisa.

Prioritas sosial budaya yang diusung Filipina sendiri menekankan pentingnya sikap proaktif dan adaptif dalam menghadapi berbagai tantangan global, sekaligus memperkuat kerja sama regional yang responsif terhadap kebutuhan masyarakat.

2. Penguatan kesiapan kelembagaan ASEAN menghadapi tantangan kawasan

Bendera negara-negara ASEAN (pixabay.com/Nguyenthuantien)

Indonesia juga menekankan pentingnya memperkuat kesiapan kelembagaan ASEAN agar mampu merespons berbagai tantangan kawasan secara lebih efektif.

Salah satu langkah yang didorong adalah percepatan operasionalisasi sejumlah pusat kerja sama ASEAN, seperti ACPHEED, ASEAN Centre for Climate Change dan ASEAN Coordinating Centre for Transboundary Haze Pollution Control.

Selain itu, Indonesia menilai penguatan mekanisme forum lintas pilar dan pendekatan whole-of-society juga penting untuk mendukung implementasi ASCC Strategic Plan serta ASEAN Community Vision 2045.

“Pendekatan whole-of-society menjadi kunci untuk memastikan pembangunan di kawasan ASEAN semakin inklusif dan tangguh. Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, sektor swasta, dan pemuda akan memperkuat kapasitas kawasan dalam menghadapi berbagai tantangan ke depan,” kata Lisa.

Indonesia juga mengangkat tema Whole-of-Society Empowerment dalam sesi sharing knowledge sebagai pendekatan untuk menghadapi berbagai tantangan seperti perubahan iklim, pergeseran ekonomi, krisis kesehatan masyarakat, hingga disrupsi digital.

3. Memastikan ASEAN memberi manfaat nyata bagi masyarakat

Ilustrasi bendera-bendera negara ASEAN. (instagram.com/_crystalchoi_)

Indonesia menegaskan, berbagai komitmen regional harus diterjemahkan menjadi manfaat nyata bagi masyarakat di kawasan, termasuk bagi pekerja migran ASEAN.

Hal tersebut dapat diwujudkan melalui penguatan kerangka perlindungan pekerja migran, peningkatan akses perlindungan sosial, pengakuan keterampilan, akses layanan kesehatan, serta penyediaan jalur migrasi yang aman dan reguler.

Selain itu, Indonesia juga menyoroti pentingnya kemitraan yang adil dan dipimpin ASEAN, penguatan mekanisme monitoring dan evaluasi, pembiayaan berkelanjutan, serta penyelarasan kerja sama sektoral dan kemitraan eksternal dengan prioritas ASCC Strategic Plan.

Dalam forum tersebut, Indonesia juga menekankan pentingnya memperkuat peran pemuda sebagai pemangku kepentingan aktif dalam pembangunan kawasan. Hal ini mencakup investasi pada pendidikan, literasi digital, mobilitas keterampilan, serta pendidikan vokasi teknis.

Sebagai praktik nyata, Indonesia turut membagikan berbagai kebijakan nasional yang telah menerapkan pendekatan whole-of-society, mulai dari penguatan perlindungan sosial untuk menurunkan beban pengeluaran rumah tangga, pemberdayaan ekonomi masyarakat, hingga intervensi berbasis wilayah untuk mempercepat pengurangan kantong kemiskinan.

Pendekatan tersebut dijalankan melalui kolaborasi pemerintah pusat dan daerah, dunia usaha, akademisi, masyarakat sipil, serta komunitas. Indonesia juga mencontohkan mekanisme Musrenbang dan platform e-Musrenbang sebagai bentuk pelembagaan partisipasi masyarakat dari tingkat desa hingga nasional.

Di tingkat regional, Indonesia turut mendorong pembentukan ASEAN Platform for Whole-of-Society Practices sebagai wadah berbagi praktik baik, pengalaman, serta pembelajaran antarnegera anggota ASEAN.

Indonesia menilai kedua forum tersebut semakin menegaskan pentingnya pendekatan kolaboratif, partisipatif, dan berkeadilan dalam pembangunan komunitas ASEAN. Dengan mengedepankan pemberdayaan masyarakat, penguatan pemuda, kesiapan kelembagaan, serta manfaat nyata bagi rakyat, Indonesia siap terus berkontribusi dalam mewujudkan ASEAN yang inklusif, tangguh, dan siap menghadapi masa depan bersama.

Editorial Team