Krisis Ceuta: Italia Tutup Perbatasan dengan Spanyol dan Tangguhkan Schengen

- Italia menutup sementara perbatasan laut dan udara dengan Spanyol serta menangguhkan kebebasan bergerak Schengen setelah ribuan migran tiba di Ceuta, wilayah Spanyol di Afrika Utara.
- Prancis memperketat pengawasan perbatasan dengan Spanyol, sementara Madrid mengecam langkah Italia, memanggil duta besarnya, dan menegaskan krisis Ceuta bukan akibat kebijakan regularisasi migran.
- Finlandia, Belanda, Denmark, Republik Ceko, dan Swedia mendukung Italia; Komisi Eropa menyatakan migran dari Ceuta tidak berpindah ke daratan Eropa, sementara isu ini memanas menjelang pemilu Italia.
Jakarta, IDN Times - Pemerintah Italia menutup sementara perbatasan laut dan udara dengan Spanyol serta menghentikan sementara penerapan kebebasan bergerak Schengen di antara kedua negara. Kebijakan itu diumumkan setelah ribuan migran tiba di Ceuta, wilayah kantong Spanyol di Afrika Utara.
Dilansir Euronews, Perdana Menteri Giorgia Meloni bersama Wakil Perdana Menteri Antonio Tajani dan Matteo Salvini mengumumkan keputusan tersebut.
Menurut Tajani, penangguhan sementara Schengen diperlukan untuk menjaga keamanan warga Italia dan melindungi perbatasan Uni Eropa. Dia juga menilai aturan itu memang memungkinkan langkah tersebut diambil dalam kondisi tertentu.
"Penangguhan sementara Schengen dengan Spanyol merupakan pilihan yang diperlukan untuk menjaga keamanan warga negara kami dan melindungi perbatasan Eropa. Langkah ini diatur dalam perjanjian dan menjadi tidak terhindarkan pada hari ini," tulis Tajani di X.
Keputusan itu kemudian disahkan pada Jumat (1/8/2026) dalam rapat di Kementerian Dalam Negeri Italia yang dipimpin Menteri Dalam Negeri Matteo Piantedosi. Persetujuan diberikan setelah mempertimbangkan hasil penilaian Komite Analisis Migrasi dan Keamanan Perbatasan Italia.
1. Prancis perketat pengawasan

Di saat yang sama, Prancis memperketat pengawasan di sepanjang perbatasan darat dengan Spanyol. Presiden Prancis, Emmanuel Macron, juga menawarkan bantuan kepada pemerintah Spanyol untuk menangani situasi darurat di Ceuta.
Respons berbeda datang dari Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sanchez. Melalui akun X miliknya, dia menegaskan solidaritas dapat menjadi pilihan, tetapi penghormatan terhadap perjanjian Uni Eropa dan fakta tidak bisa diabaikan.
"Solidaritas dan empati bersifat opsional. Penghormatan terhadap perjanjian-perjanjian Eropa dan fakta tidak demikian," ujar Sanchez.
Sanchez juga mengutip data Frontex yang menunjukkan jumlah kedatangan migran tidak beraturan ke Italia sepanjang 2021-2026 lebih tinggi dibandingkan dengan Spanyol. Dia kembali menyerukan pentingnya persatuan di Uni Eropa.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Spanyol Jose Manuel Albares mengecam seruan Italia untuk menangguhkan Schengen. Pemerintah Spanyol juga memanggil Duta Besar Italia di Madrid demi meminta penjelasan.
2. Sejumlah negara Uni Eropa dukung sikap Italia

Kementerian Luar Negeri Spanyol, mengutip laporan ANSA, menyatakan krisis migrasi di Ceuta tidak berkaitan dengan kebijakan regularisasi migran yang diterapkan pemerintah Spanyol.
"Tidak ada kaitannya dengan kebijakan regularisasi migran yang disetujui oleh pemerintah Spanyol," begitu pernyataan Kemlu Spanyol.
Menurut pemerintah Spanyol, situasi itu dipicu oleh penafsiran terhadap putusan terbaru Mahkamah Agung mengenai migran yang masuk dengan berenang, yang kemudian dimanfaatkan kelompok mafia dan organisasi kriminal.
Meski demikian, beberapa negara Uni Eropa mulai menunjukkan dukungan terhadap langkah Italia, di antaranya Finlandia, Belanda, Denmark, Republik Ceko, dan Swedia.
Menteri Dalam Negeri Finlandia, Mari Rantanen, menilai Spanyol gagal menjaga perbatasan eksternal kawasan Schengen dari penyusupan sehingga kondisi tersebut tidak dapat terus dibiarkan.
Di sisi lain, Komisaris Uni Eropa untuk Urusan Dalam Negeri, Magnus Brunner, menyatakan akan terus berkoordinasi dengan pemerintah Spanyol. Dia menegaskan tidak ada perpindahan migran dari Ceuta ke daratan utama Eropa maupun ke negara anggota Uni Eropa lainnya.
"Kode Perbatasan Schengen memuat ketentuan khusus yang berlaku untuk Ceuta dan Melilla, dan pemeriksaan terhadap orang-orang yang berangkat dari Ceuta tetap diberlakukan," kata dia.
3. Perdebatan politik menguat di Italia

Rencana penangguhan Schengen turut memanaskan perdebatan politik di Italia menjelang pemilihan umum tahun depan. Usulan tersebut mendapat dukungan dari sejumlah partai sayap kanan di Eropa, seperti National Rally di Prancis, Alternative for Germany (AfD) di Jerman, dan Reform UK di Britania Raya.




















