Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Menko PMK Desak Pengembang AI Pastikan Edukasi Digital Sampai ke Warga

Pratikno
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kemanusiaan (PMK), Pratikno. (Dokumentasi Kemenko PMK)
Intinya sih...
  • Menko PMK desak pengembang teknologi terutama AI pastikan edukasi digital sampai ke masyarakat
  • Kolaborasi multipihak dibutuhkan untuk ciptakan edukasi digital yang berkelanjutan
  • Orang tua sebagai co-user anak dalam ruang digital
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno, meminta para pengembang teknologi termasuk kecerdasan artifisial atau akal imitasi (AI) untuk mengambil tanggung jawab dalam memastikan edukasi digital sampai ke masyarakat.

Ia menilai, keberhasilan edukasi digital tidak diukur dari banyaknya panduan yang beredar, melainkan sejauh mana panduan tersebut benar-benar digunakan masyarakat.

"Targetnya bukan Anda sudah membuat panduan, tetapi sejauh mana orang Indonesia, guru, orang tua, dan anak-anak, menggunakannya. Bukan hanya dibuat, tapi digunakan," tegas Pratikno dalam acara Safer Internet Day 2026 dikutip dalam siaran pers, Selasa (10/2/2026).

Pratikno menambahkan, edukasi digital dan AI tidak lagi hanya dibebankan kepada orang tua dan guru.

1. Kecerdasan tanpa kesehatan mental dan karakter akan kehilangan makna di era AI

Menko PMK Pratikno dalam Rapat Tingkat Menteri yang digelar di Kantor Kemenko PMK, Jumat (2/1/2026). (Dok. Kemenko PMK)
Menko PMK Pratikno dalam Rapat Tingkat Menteri yang digelar di Kantor Kemenko PMK, Jumat (2/1/2026). (Dok. Kemenko PMK)

Lebih lanjut, Pratikno menekankan, mandat pembangunan manusia Indonesia adalah menciptakan sumber daya manusia (SDM) yang unggul dan tangguh secara fisik, mental, moral, sosial, dan spiritual.

Menurutnya, kecerdasan seseorang akan kehilangan makna di era AI apabila hadir tanpa karakter dan kesehatan mental.

“Kecerdasan tanpa kesehatan mental dan karakter yang kuat akan kehilangan makna di era disrupsi digital dan AI,” kata Pratikno.

2. Perlu kolaborasi multipihak untuk ciptakan edukasi digital berkelanjutan

Ilustrasi digital nomad
Ilustrasi digital nomad (pexels.com/Firmbee.com)

Lebih lanjut, Pratikno menyebut, membangun kolaborasi dengan sektor swasta penting dalam mengembangkan teknologi yang memungkinkan edukasi digital berjalan efektif dan berkelanjutan.

"Saya mengajak, ini bukan hanya sekadar bekerja sama, tetapi mengembangkan teknologi yang memungkinkan edukasi secara masif. Kami di pemerintah sangat berkepentingan, karena urusan pembangunan manusia semuanya terdisrupsi teknologi digital dan AI," ujarnya.

Komitmen kolaborasi ini juga ditandai dengan hadirnya perwakilan platform digital YouTube untuk wilayah Asia Tenggara, Danny Ardianto.

Dalam acara tersebut, ia menyatakan YouTube berkomitmen menjaga keamanan anak-anak di ranah digital, tanpa mengisolasi mereka dari perkembangan teknologi.

Danny menyebutkan, YouTube kini telah berubah menjadi platform belajar digital yang diandalkan oleh 96 persen guru di Indonesia. Komitmen ini terus ditingkatkan melalui kerja sama dengan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), salah satunya lewat program AKSI Digital.

3. Orang tua sebagai co-user anak dalam ruang digital

ilustrasi keluarga
ilustrasi keluarga (freepik.com/freepik)

Sementara, pada dialog terpisah, para pakar menyoroti pentingnya pendekatan pendampingan daripada pembatasan dalam pengasuhan digital.

Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Keluarga dan Kependudukan Kemenko PMK Woro Srihastuti menyebut, sekitar 41 persen anak usia dini telah mengakses internet, namun belum didampingi optimal oleh orang tua.

“Kemenko PMK mendorong pengurangan screen time dan peningkatan green time, salah satunya melalui Gerakan Satu Jam Berkualitas Bersama Keluarga yang akan dimulai di bulan Ramadan ini,” ungkapnya.

Tak hanya itu, konten kreator Parentalk.id Ario Pratomo dan psikiater anak Tjhin Wiguna sepakat bahwa orang tua harus menjadi co-user yang hadir menemani anak. Pola asuh digital yang tepat bukan melarang, tetapi mendampingi anak dalam berinteraksi dengan teknologi.

Share
Topics
Editorial Team
Sunariyah Sunariyah
EditorSunariyah Sunariyah
Follow Us

Latest in News

See More

Jalankan Arahan Prabowo, Wali Kota Bekasi Kerja Bakti di Danau Duta

10 Feb 2026, 19:32 WIBNews