Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kasus Campak Turun, Anggota DPR PDIP Ingatkan Tetap Waspada
ilustrasi campak (freepik.com/freepik)
  • Edy Wuryanto dari PDIP mengingatkan pemerintah agar tetap waspada meski kasus campak turun 93 persen, karena cakupan imunisasi dasar belum mencapai target nasional.
  • Kemenkes memastikan sistem surveilans penyakit tetap aktif selama libur Lebaran melalui NAR dan SKDR untuk menjaga validitas serta akurasi data kasus campak di seluruh daerah.
  • Sepanjang 2026 tercatat 10 kematian akibat campak, termasuk seorang dokter internship di Cianjur; Kemenkes menyiapkan vaksinasi bagi nakes dan menegaskan pentingnya disiplin operasional.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
akhir 2025

Kemenkes mencatat peningkatan kasus campak di sejumlah wilayah pada akhir 2025 yang kemudian berlanjut hingga awal 2026.

awal tahun 2026

Terjadi lonjakan kasus campak mencapai 2.220 kasus di Indonesia sebelum akhirnya menurun signifikan.

8 Maret 2026

Dokter internship AMW diduga terpapar virus campak saat menangani pasien di Kabupaten Cianjur.

18 Maret 2026

AMW mulai mengalami gejala demam namun tetap bertugas di fasilitas kesehatan.

21 Maret 2026

Kondisi AMW memburuk setelah muncul ruam dan penurunan kesadaran akibat komplikasi campak.

26 Maret 2026

AMW meninggal dunia di ICU RS Cimacan setelah terkonfirmasi positif campak melalui pemeriksaan laboratorium Biofarma.

30 Maret 2026

Plt Dirjen P2P Kemenkes Andi Saguni menyampaikan dalam jumpa pers daring bahwa tren penurunan kasus campak terjadi secara konsisten di berbagai wilayah.

6 April 2026

Anggota DPR RI Edy Wuryanto mengingatkan pemerintah agar tetap waspada meski kasus campak turun hingga 93 persen dan menyoroti turunnya cakupan imunisasi dasar.

kini

Kasus campak nasional telah turun drastis, sistem surveilans tetap berjalan selama libur Lebaran, dan Kemenkes memperkuat langkah vaksinasi serta disiplin tenaga kesehatan untuk mencegah penularan baru.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Kasus campak di Indonesia dilaporkan turun 93 persen, namun pemerintah diingatkan untuk tetap waspada karena cakupan imunisasi dasar belum mencapai target dan masih ada kasus kematian akibat penyakit tersebut.
  • Who?
    Anggota Komisi IX DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan Edy Wuryanto, Pelaksana Tugas Dirjen P2 Kemenkes Andi Saguni, serta tenaga kesehatan termasuk dokter internship berinisial AMW yang meninggal akibat komplikasi campak.
  • Where?
    Kejadian dan pernyataan berlangsung di Jakarta, dengan laporan kasus terjadi di berbagai wilayah termasuk Kabupaten Cianjur yang mencatat 10 kasus terkonfirmasi campak sepanjang tahun 2026.
  • When?
    Pernyataan disampaikan pada Senin, 6 April 2026, setelah data penurunan kasus diumumkan oleh Kemenkes pada 30 Maret 2026. Lonjakan kasus sebelumnya terjadi pada awal tahun 2026.
  • Why?
    Edy Wuryanto menilai penurunan kasus tidak berarti kondisi aman karena cakupan imunisasi dasar sempat menurun. Kemenkes juga menyoroti risiko tinggi bagi kelompok dewasa dan tenaga kesehatan dengan paparan intensif.
  • How?
    Kemenkes memantau tren melalui sistem NAR dan SKDR secara real-time, melakukan verifikasi silang dengan dinas kesehatan daerah
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Dulu banyak orang kena campak, tapi sekarang sudah turun banyak sekali. Pak Edy bilang kita tetap harus hati-hati karena suntik imunisasi belum semua dapat. Ada juga dokter muda yang sakit campak dan meninggal, itu sedih. Sekarang orang-orang di rumah sakit dan pemerintah kerja keras supaya semua bisa vaksin dan tidak ada yang sakit lagi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Penurunan kasus campak hingga 93 persen menunjukkan hasil nyata dari upaya pengendalian penyakit yang dilakukan secara konsisten di berbagai wilayah. Kemenkes juga memastikan sistem surveilans tetap optimal bahkan saat libur Lebaran, menandakan kesiapan dan ketelitian dalam menjaga akurasi data. Langkah proaktif seperti vaksinasi bagi tenaga kesehatan memperlihatkan komitmen kuat terhadap keselamatan publik.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Anggota Komisi IX DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan (PDIP), Edy Wuryanto, mengingatkan pemerintah untuk tetap waspada meski kasus campak di Indonesia turun 93 persen. Menurut dia, penurunan kasus campak tidak menjadikannya dalam kondisi aman.

"Penurunan kasus ini tidak serta-merta mencerminkan kondisi aman. Justru kita harus jujur melihat bahwa cakupan imunisasi dasar kita sempat turun dan tidak mencapai target. Ini yang menjadi akar masalah,” ujar Edy dalam keterangannya, dikutip Senin (6/4/2026).

1. Sempat terjadi lonjakan kasus campak pada awal tahun 2026

ilustrasi virus campak (freepik.com/freepik)

Edy mengatakan, sempat terjadi lonjakan kasus campak pada awal tahun 2026. Tercatat, lonjakan mencapai sebanyak 2.220 kasus.

Namun, angka tersebut kini sudah turun 93 persen. Data penurunan kasus campak juga diungkap Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit (P2) Kemenkes, Andi Saguni, dalam jumpa pers daring di Jakarta, Senin (30/3/2026).

Kemenkes mencatat tren penurunan kasus campak terjadi secara konsisten di sejumlah wilayah yang sebelumnya mengalami peningkatan cukup tinggi pada akhir 2025 hingga awal 2026.

"Tren penurunan ini terpantau konsisten di 14 provinsi dan 10 kabupaten/kota dengan riwayat lonjakan kasus pada akhir 2025 dan awal 2026,” ujar Andi.

2. Sistem surveilans tetap berjalan optimal selama libur Lebaran

ilustrasi campak (freepik.com/freepik)

Menanggapi kekhawatiran publik terkait validitas data selama periode libur Lebaran, Kemenkes memastikan bahwa sistem pemantauan tetap berjalan secara optimal dan real-time.

Pengawasan dilakukan melalui metode New All Record (NAR) dan Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) dari fasilitas kesehatan. Data tersebut kemudian diverifikasi silang dengan dinas kesehatan daerah guna memastikan akurasi laporan kasus.

3. Kemenkes siapkan langkah vaksinasi dan ingatkan disiplin nakes

Ilustrasi Orang Dewasa Terkena Campak (Unplash.com/@lishakov).

Meski tren kasus menurun, Kemenkes mencatat terdapat 10 kasus kematian akibat campak sepanjang 2026. Salah satu kasus fatal menimpa seorang dokter internship di Kabupaten Cianjur berinisial AMW (25) yang meninggal dunia pada 26 Maret 2026 akibat komplikasi campak pada jantung dan otak.

AMW diduga terpapar saat menangani pasien campak pada 8 Maret, tetapi tetap bertugas meski telah bergejala demam sejak 18 Maret. Kondisinya memburuk setelah muncul ruam pada 21 Maret hingga akhirnya mengalami penurunan kesadaran dan tidak tertolong usai dirawat di ICU RS Cimacan. Kasus ini telah terkonfirmasi positif campak melalui pemeriksaan laboratorium Biofarma.

Kasus tersebut terjadi saat Kabupaten Cianjur mencatat total 15 suspek dan 10 kasus campak terkonfirmasi dengan puncak kasus terjadi pada minggu ke-10. Secara nasional, sekitar 8 persen kasus campak menginfeksi kelompok dewasa (di atas 18 tahun) dengan faktor komorbid serta tingginya intensitas paparan menjadi pemicu risiko keparahan.

“Menanggapi kasus yang menimpa dokter internship, Kemenkes berkomitmen memberikan vaksinasi campak bagi seluruh peserta program internship. Kami juga mewajibkan wahana penempatan untuk memastikan ketersediaan APD serta mengatur beban kerja dan hak istirahat yang cukup bagi nakes yang menangani penyakit menular,” kata Andi.

Dia juga mengingatkan pentingnya disiplin operasional bagi tenaga kesehatan untuk mencegah penularan lebih lanjut.

“Jika muncul gejala sekecil apa pun, segera melapor, beristirahat penuh, dan tidak memaksakan diri untuk bertugas,” kata dia.

Kemenkes turut mengimbau masyarakat dan tenaga kesehatan yang belum divaksinasi agar segera melengkapi status imunisasi guna memutus rantai penularan campak di Indonesia.

Editorial Team