Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
M4CR Latih Perempuan Pesisir Kaltara Olah Udang Tambak Jadi Petis
Para ibu di Desa Bebatu Kaltara, menyiapkan bahan untuk pembuatan petis udang. (dok. Mangroves for Coastal Resilience)
  • Program M4CR melatih 11 perempuan pesisir Desa Bebatu mengolah udang tambak menjadi petis, mencakup teknik produksi, pengemasan higienis, dan keamanan pangan untuk meningkatkan daya saing produk.
  • Ketua KWT Bina Baru berharap pelatihan ini berkelanjutan agar produk olahan dapat menembus pasar lebih luas dan mendorong perekonomian perempuan di desa.
  • Pemerintah Desa Bebatu dan M4CR mendukung pengembangan usaha berbasis potensi lokal sebagai upaya memperkuat ekonomi masyarakat sekaligus menjaga kelestarian mangrove secara berkelanjutan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Ada sebelas ibu di desa Bebatu belajar bikin petis dari udang tambak. Mereka diajar cara masak yang bersih, kasih label, dan bungkus yang rapi supaya bisa dijual lebih jauh. Ibu Rukiah bilang mereka senang karena dapat ilmu baru. Pemerintah desa bantu juga supaya usaha ibu-ibu makin maju dan alam mangrove tetap terjaga.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Program Mangroves for Coastal Resilience (M4CR) melatih perempuan pesisir di Desa Bebatu, Kabupaten Tana Tidung, Kalimantan Utara, mengolah hasil udang tambak menjadi petis. 

Pelatihan ini menjadi bagian dari Sekolah Lapang Livelihood M4CR yang menyasar Kelompok Wanita Tani (KWT) Bina Baru. Melalui program tersebut, peserta dibekali keterampilan mengolah hasil tambak, pengemasan produk, hingga keamanan pangan agar produk yang dihasilkan memiliki daya saing lebih baik di pasaran.

1. 11 perempuan belajar olah tambak jadi petis

Anggota KWT Bina Baru mengikuti praktik langsung pembuatan petis udang melalui Sekolah Lapang Livelihood M4CR. (dok. Mangroves for Coastal Resilience)

Sebanyak 11 perempuan yang tergabung dalam KWT Bina Baru mengikuti pelatihan pembuatan petis udang. Materi yang diberikan tidak hanya berfokus pada teknik produksi, tetapi juga mencakup standar kebersihan, proses pengolahan yang tepat, hingga menghasilkan petis dengan kualitas yang lebih baik. 

Peserta juga memperoleh pembelajaran mengenai pengemasan produk yang higienis, pelabelan, serta dasar-dasar keamanan pangan. Pengetahuan tersebut diharapkan membantu peserta menghasilkan produk olahan yang lebih berkualitas dan mampu menjangkau pasar yang lebih luas.

2. Berharap produk tak hanya dipasarkan di desa

ilustrasi petis udang (Wikimedia Commons/Midori)

Ketua KWT Bina Baru, Rukiah, mengatakan pelatihan tersebut memberikan pengalaman baru bagi kelompoknya dalam mengembangkan usaha berbasis potensi desa. 

“Melalui kegiatan ini, kami merasa sangat terbantu karena mendapat ilmu baru, pengalaman, dan wawasan bagi kelompok. Selama ini distribusi produk kami hanya menjangkau wilayah Desa Bebatu dan kabupaten. Ke depan, kami berharap ada keberlanjutan agar dapat semakin mendorong perekonomian ibu-ibu yang tergabung dalam kelompok kami,” kata Rukiah. 

Rukiah menilai, hasil tambak dapat memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi apabila diolah dengan teknik yang tepat dan didukung kemasan yang baik.

3. Pemerintah desa dukung pengembangan berbasis potensi lokal

Hasil panen pertama tambak udang ramah iklim di Desa Lalombi. (Dok. Konservasi Indonesia)

Sementara itu, Pemerintah Desa Bebatu menilai peningkatan kapasitas masyarakat menjadi bagian penting dalam memperkuat ekonomi desa. 

Kepala Seksi Kesejahteraan Desa Bebatu, Sri Kamariah, mengatakan peluang kerja di desa masih terbatas sehingga pengembangan usaha berbasis potensi lokal menjadi salah satu alternatif meningkatkan kesejahteraan masyarakat. 

Sri juga menilai, perempuan memiliki kontribusi besar dalam menopang perekonomian keluarga. Karena itu, pemerintah desa terus mendukung kelompok masyarakat yang ingin mengembangkan usaha, termasuk membantu proses pengajuan proposal dan mendorong keberlanjutan program pemberdayaan. 

4. Pelestarian mangrove dibarengi dengan penguatan ekonomi masyarakat

ilustrasi hutan mangrove (IDN Times/Putra Gema Pamungkas)

PPIU Manager Kalimantan Utara Program M4CR, Akhmad Ashar Sarif, mengatakan Sekolah Lapang Livelihood merupakan bagian dari upaya menghubungkan rehabilitasi mangrove dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir. 

Menurut dia, keberhasilan rehabilitasi mangrove tidak hanya diukur dari aspek ekologi, tetapi juga dari manfaat ekonomi yang dapat dirasakan masyarakat melalui pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan. 

“Pelatihan sekolah lapang ini merupakan komitmen kami bersama dalam melestarikan mangrove dan meningkatkan ekonomi masyarakat pesisir, sekaligus memastikan bahwa pengetahuan dan keterampilan yang diberikan dapat diterapkan secara berkelanjutan,” ujar Akhmad.

Curated For You

Editorial Team

Related Article