Jakarta, IDN Times - Sejumlah mahasiswa mengkritik ketimpangan ekonomi selama dua tahun pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka. Mahasiswa yang tergabung dalam Forum Komite Selamatkan Daulat Rakyat (Sadar) menilai, kesejahteraan yang dijanjikan pemerintah belum dirasakan secara merata, sementara masyarakat kelas menengah masih menghadapi tekanan biaya hidup.
Kritik tersebut disampaikan melalui Maklumat Nasional yang dibacakan bergantian di Tugu Proklamasi, Jakarta, Selasa (20/10/2026).
Dalam maklumatnya, mahasiswa membandingkan kehidupan kelompok berpenghasilan tinggi dengan pedagang kaki lima dan masyarakat yang harus berhati-hati mengatur pengeluaran untuk kebutuhan pokok.
"Kesenjangan terlihat nyata ketika harta 50 orang terkaya di negeri ini setara dengan kekayaan 55 juta rakyat Indonesia. Butuh ratusan tahun bagi warga biasa harus bekerja setiap hari untuk menyamai kekayaan para oligarki," kata mahasiswa membacakan maklumat tersebut.
Mereka menilai, kesejahteraan sosial hanya menjadi janji jika ketimpangan tidak ditangani. Mahasiswa pun mendesak pemerintah memperbaiki tata kelola kebijakan ekonomi untuk mengurangi kesenjangan sosial.
"Jika terus begini, kesejahteraan sosial yang digaung-gaungkan hanya omon-omon belaka. Maka, benahilah tata kelola kebijakan ekonomi untuk memberantas ketimpangan sosial!" kata mereka membacakan maklumat itu.
Setelahnya mereka akan melanjutkan aksi di Tugu Tani yang dijadwalkan berlangsung pada pukul 15.00 WIB. Komite Sadar membawa sejumlah isu, di antaranya persoalan ekonomi, korupsi, kebebasan berpendapat, kerusakan lingkungan, serta mahalnya biaya pendidikan dan kesehatan.
