Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Pemanjat Patung HI dari Greenpeace Sempat Diminta Tes Urine di Polda Metro

2 min read
Pemanjat Patung HI dari Greenpeace Sempat Diminta Tes Urine di Polda Metro
Aktivis Greenpeace usai pasang spanduk di Patung Tugu Selamat Datang, Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, (20/10/2026) pagi. (IDN Times/Cantika Lutfiah)

Jakarta, IDN Times - Juru kampanye keadilan iklim dari Greenpeace Indonesia, Jeany Sirait, mengatakan saat ini enam pemanjat patung Selamat Datang di Bunderan Hotel Indonesia (HI) masih berada di Polda Metro Jaya, untuk dimintai keterangan.

Mereka sempat digiring ke klinik di Polda Metro Jaya untuk diperiksa kesehatan dan tes urine. Namun, tim hukum Greenpeace menilai pemeriksaan urine tak perlu dilakukan, karena mereka tak membawa atau mengkonsumsi narkotika.

"Jadi, semula dibawa ke Dokkes untuk diminta tes urine. Sementara, kalau di dalam UU Narkotika, tes urine baru dapat dilakukan bila seseorang pengguna narkotika atau tertangkap tangan menggunakan narkotika," ungkap Jeany kepada IDN Times melalui telepon, Selasa (20/10/2026).

"Sementara, teman-teman kami gak ada yang menggunakan narkotika. Jadi, ngapain dilakukan tes urine. Akhirnya tidak dilakukan (tes urine)," imbuhnya.

Kemudian, para pemanjat Greenpeace Indonesia sempat dibawa ke unit keamanan negara. Lalu, sekarang dipindahkan dan dimintai keterangan di unit kriminal umum.

"Biasanya sih berdasarkan pengalaman saya, kalau didata hanya ditanya dan diperiksa, lalu pada akhirnya dilepas dan kami berharap teman-teman kami segera dilepas," tutur Jeany.

Jeany menjelaskan ada 11 orang yang dibawa kepolisian ke Polda Metro Jaya. Mereka terdiri dari enam pemanjat dan lima tim penyelamat. Empat di antaranya sudah dibolehkan pulang.

"Mereka yang dilepas itu rescuer dan bukan climber," katanya.

Jeany menjelaskan aksi pemanjatan patung Selamat Datang di Bunderan HI dilakukan tim pemanjat secara diam-diam. Total ada enam pemanjat, di mana dua di antaranya perempuan. Jeany menggarisbawahi para pemanjat itu memiliki kemampuan khusus untuk bisa memasang baliho di Bundaran HI.

"Aksi tersebut sudah dimulai sejak subuh. Kami sengaja memilih waktu ketika orang-orang masih tidur, demi keselamatan kawan-kawan juga. Aksi ini merupakan penyampaian aspirasi terkait keresahan dalam berbagai isu yang selama ini dirasakan oleh publik," ujarnya.

Keresahan yang ditulis di baliho besar warna kuning itu berisi soal isu kenaikan biaya hidup, krisis iklim, hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Jeany menjelaskan baliho dibentangkan dengan jelas di Bunderan HI sekitar pukul 06.00 WIB. Namun, hanya bertahan selama 30 menit, lantaran kepolisian meminta segera dicopot.

    Share Article
    Editorial Team

    Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

    Related Articles

    See More