Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Houthi Serang Kamp Militer Pemerintah Yaman, 58 Tentara Tewas

4 min read
Houthi Serang Kamp Militer Pemerintah Yaman, 58 Tentara Tewas
pasukan Houthi di Kota Sanaa, Yaman. (Public domain, via Wikimedia Commons)
  • Serangan tiga rudal balistik Houthi ke Kamp al-Alam di Shabwa menewaskan sedikitnya 58 personel, melukai 200 orang, dan membuat 14 lainnya hilang.
  • Rumah sakit Shabwa kewalahan menangani korban, sementara pemerintah Yaman mengecam serangan itu, menjanjikan respons tegas, serta meminta PBB menetapkan Houthi sebagai organisasi teroris asing.
  • Houthi mengklaim kamp tersebut target sah dan meningkatkan serangan di sejumlah wilayah, ketika konflik Yaman kembali eskalatif serta memicu dampak keamanan di Arab Saudi dan kawasan sekitar.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Kelompok pemberontak Houthi meluncurkan serangan rudal balistik ke kamp pelatihan militer pemerintah Yaman di Provinsi Shabwa pada Senin (19/10/2026). Gubernur Shabwa, Awad bin al-Wazir, mengonfirmasi sedikitnya 58 personel tewas, 200 orang terluka, dan 14 lainnya masih hilang akibat serangan tersebut.

Juru bicara angkatan bersenjata Yaman, Majed al-Nuzaili, menyatakan Houthi menembakkan tiga rudal balistik ke Kamp Militer al-Alam di dekat Kota Ataq. Rudal menghantam Pusat Pelatihan Martir Ahmed al-Sulaimani saat para rekrutan baru kepolisian dan pasukan keamanan sedang berbaris mengikuti sesi latihan. Insiden ini menjadi serangan dengan korban jiwa terbesar dalam satu lokasi sejak perang saudara Yaman kembali memanas pada September lalu.

  1. 1. Rumah sakit kewalahan dan pemerintah Yaman kecam serangan

    bendera Yaman
    bendera Yaman (pixabay.com/Chickenonline)

    Wakil Gubernur Shabwa, Fahad al-Khalifi, mengungkapkan rumah sakit di wilayahnya kewalahan menangani lonjakan korban luka yang mayoritas merupakan rekrutan muda. Pihak medis terpaksa merujuk pasien kritis ke fasilitas kesehatan di provinsi tetangga, yakni Hadramout dan Aden, sembari meminta warga mendonorkan darah. Pemerintah Yaman juga berencana menyelidiki penyebab berkumpulnya banyak pasukan di satu titik yang terjangkau rudal Houthi tanpa perlindungan memadai.

    Kepala Dewan Kepemimpinan Presidensial Yaman, Rashad al-Alimi, menyebut serangan tersebut sebagai tindakan kriminal dan menjanjikan balasan tegas. Dia langsung menghubungi Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, pada Senin untuk meminta PBB menetapkan Houthi sebagai organisasi teroris asing.

    "Menargetkan para rekrutan mencerminkan pendekatan milisi Houthi yang mengandalkan serangan teroris pengecut setiap kali menghadapi tekanan atau saat rencana sabotase dukungan Iran mereka gagal," kata al-Alimi.

    Menteri Informasi Yaman, Moammar al-Eryani, turut mengecam serangan rudal tersebut sebagai kejahatan perang karena lokasi itu berjarak jauh dari garis depan pertempuran. Menurutnya, Houthi sengaja merekayasa kemenangan palsu di media guna mendongkrak moral pasukannya yang terdesak di berbagai lini.

  2. 2. Houthi mengklaim bertanggung jawab atas serangan

    Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree
    Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree (Tasnim News Agency, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)

    Kelompok Houthi mengklaim bertanggung jawab atas penembakan rudal ke Kamp Militer al-Alam melalui pernyataan resmi. Mereka berdalih fasilitas tersebut dikelola oleh perwira militer Arab Saudi dan menegaskan seluruh pangkalan pasukan pendukung pemerintah Yaman adalah target sah.

    "Pasukan bersenjata kami menargetkan mobilisasi musuh Saudi di kamp al-Alam, yang dijalankan oleh perwira Saudi di wilayah timur. Serangan ini menyebabkan jatuhnya puluhan korban tewas dan luka dari pihak musuh Saudi, termasuk perwira Saudi," ujar Juru Bicara Militer Houthi, Yahya Saree, dilansir The Guardian.

    Selain di Shabwa, Houthi memutus akses jalan penghubung antara Provinsi Shabwa dan Provinsi Bayda serta menggempur pasukan Brigade Raksasa di area al-Suqya dan Ras al-Ara. Di Provinsi Taiz, kelompok tersebut memperketat pengepungan yang memicu kelangkaan bahan bakar dan lonjakan harga kebutuhan pokok. Rentetan tembakan Houthi ke Desa al-Shaqab di selatan Taiz pada Minggu malam turut melukai kepala seorang bocah perempuan berusia 11 tahun.

    Merespons pergerakan tersebut, pesawat tempur koalisi pimpinan Arab Saudi melancarkan serangan udara ke posisi Houthi di Distrik al-Misrakh dan al-Wazi'iyah pada Minggu malam. Di darat, pasukan pemerintah bersama pejuang lokal terlibat baku tembak sengit untuk menahan laju Houthi yang berusaha merebut puncak Gunung Jabal al-Arus. Sementara itu, media kelolaan Houthi melaporkan serangan udara Arab Saudi di Provinsi Saada pada hari yang sama menewaskan 10 warga dan melukai 23 orang lainnya.

  3. 3. Eskalasi konflik Yaman dan dampaknya ke kawasan sekitar

    Perang saudara Yaman yang pecah sejak pengambilalihan Kota Sanaa oleh Houthi pada 2014 sempat mereda berkat kesepakatan gencatan senjata pada 2022. Namun, ketegangan kembali meletus pada pertengahan tahun ini akibat dampak meluasnya perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran. Pada Juli lalu, Houthi mengumumkan embargo maritim terhadap Arab Saudi dan berhasil merebut wilayah strategis di pesisir Laut Merah dekat Selat Bab al-Mandab pada September.

    Pasukan pemerintah Yaman yang didukung koalisi Arab Saudi membalas melalui operasi militer Fajar Yaman pada awal Oktober untuk merebut kembali wilayah pesisir tersebut hingga Kota Sanaa. Kementerian Kesehatan pemerintah Yaman mencatat sedikitnya 1.282 orang tewas di seluruh negeri sejak 6 Agustus lalu. Di sisi lain, otoritas kesehatan Houthi melaporkan 141 warga tewas akibat serangan udara Arab Saudi selama tujuh pekan terakhir.

    Sebagai balasan atas serangan udara koalisi, Houthi gencar meluncurkan rudal dan pesawat nirawak (drone) ke bandara, pangkalan militer, serta fasilitas minyak Aramco di Arab Saudi. Rentetan serangan lintas batas ini telah menewaskan 19 orang di wilayah Arab Saudi sejak awal Oktober dan memaksa penyelenggara menunda konferensi investasi akbar di Riyadh hingga 2027. Sementara itu, parlemen Mesir menunda pemungutan suara terkait rencana pengiriman pasukan ke Arab Saudi hingga pekan depan karena kekhawatiran militer mereka akan menjadi sasaran rudal Houthi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More