Wakil Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Silmy Karim menjadi tersangka usai operasi tangkap tangan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap sejumlah pejabat Imigrasi (IDN Times/Aryo Damar)
Sementara itu, Ketua IM57+ Institute, Lakso Anindito, menyoroti operasi tangkap tangan (OTT) yang banyak dilakukan KPK, khususnya pada 2026. Sejak Januari hingga 18 Oktober 2026, KPK diketahui telah melakukan 23 kali.
Lakso menyebut OTT yang terus dilakukan KPK merupakan langkah yang tepat. Sebab, OTT menjadi pembeda lembaga antirasuah itu dengan penegak hukum lainnya dan memiliki fungsi penting.
"OTT memiliki fungsi penting karena tidak dapat ditebak siapa yang ditangani. Artinya langkah ini harus terus dilanjutkan oleh KPK," ujar Lakso.
"Bahkan, kami mendorong agar lebih dari tahun lalu target yang dicapai. Ini penting untuk mengembalikan kepercayaan publik terhadap KPK," lanjutnya.
Meski banyak OTT yang dilakukan KPK selama dua tahun ini, Lakso juga menyorot tindak lanjut dari sejumlah tangkap tangan itu. Contohnya adalah kasus OTT anak buah Gubernur Sumatra Utara Bobby Nasution, Topan Ginting, OTT Bupati Kuansing Suhardiman Amby yang menyeret nama Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, hingga OTT Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
"Artinya kemampuan KPK dalam mengembangkan penyidikan sampai pada penerima manfaat (ultimate beneficial owner) yang memiliki kedudukan strategis. Ini adalah ciri khas yang lain dari KPK sehingga KPK menjadi lembaga yang dihormati," ujarnya.