Depok, IDN Times — Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti, menegaskan komitmen pemerintah dalam mentransformasi pendidikan sains dan matematika melalui gerakan STEM 5M serta pengembangan sekolah unggul. Langkah ini diambil guna menghapus stigma bahwa sains dan matematika merupakan pelajaran yang sulit dan mahal.
Hal tersebut disampaikannya usai membuka secara resmi gelaran International Mathematics and Science Olympiad (IMSO) ke-23 yang berlangsung pada 2–7 Oktober 2026 di Pusat Pelatihan Sumber Daya Manusia (PPSDM) Kemendikdasmen, Bojongsari, Kota Depok, Sabtu (3/10/2026). Ajang bergengsi tingkat Sekolah Dasar (SD) ini diikuti oleh talenta muda dari 23 negara.
Mendikdasmen Dorong STEM 5M dan Sekolah Unggul di Gelaran IMSO ke-23

1. Gebrakan STEM 5M dan tiga model sekolah unggul Kemendikdasmen
Mendikdasmen, Abdul Mu'ti, mengatakan, penguasaan sains dan matematika sejak dini merupakan prasyarat mutlak untuk menguasai teknologi dan mengolah kekayaan alam nasional. Oleh karena itu, Kemendikdasmen kini gencar memperkenalkan gerakan STEM 5M (mudah, murah, menggembirakan, mindful, dan meaningful).
"Dua bidang yang juga menjadi prioritas Bapak Presiden dan kami di Kementerian juga sekarang mengembangkan namanya STEM 5M yaitu STEM yang mudah, murah, menggembirakan, mindful, dan meaningful karena selama ini ada stigma di kalangan anak-anak matematika dan sains itu dua bidang yang sulit dan mahal. Kami ingin mengubah stigma itu," ujar Abdul Mu'ti saat ditemui di PPSDM Kemendikdasmen, Depok, Sabtu.
Menanggapi keberadaan sekolah khusus sains dan matematika di luar negeri, Mu'ti mengatakan, Indonesia saat ini tengah menyiapkan ekosistem sekolah unggul untuk menampung peserta didik berbakat.
"Kita belum seperti itu, ya, tetapi kan ada beberapa kebijakan Pak Presiden, paling tidak dengan sekolah unggul Garuda, sekolah unggul transformasi, dan sekolah nasional integrasi. Ketiga model sekolah ini kami kembangkan sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan dalam bidang STEM itu dan juga memang sekolah-sekolah ini inputnya adalah anak-anak yang punya kemampuan yang di atas rata-rata," ujar dia.
Mengenai target medali untuk kontingen Indonesia, dia optimistis para talenta Tanah Air mampu memberikan hasil terbaik.
"Kalau saya targetnya, pokoknya insyaallah emas, perak, perunggu itu akan kita dapatkan," kata Mu'ti.
2. Persiapan karantina ketat dan pesaing berat tim Indonesia
Ketua Umum IMSO ke-23 sekaligus Presiden Direktur Klinik Pendidikan MIPA (KPM), Raden Ridwan Hasan Saputra, mengatakan, seluruh peserta Indonesia telah melalui pembekalan matang sebelum memasuki tahap ujian teori, eksplorasi, dan eksperimen.
"Menjelang lomba, enam hari sebelum lomba ini kita adakan karantina di PPSDM dari pagi sampai malam. Terus menginap persiapannya dan tadi yang saya bilang kalau masalah target, ya, kita hanya berharap dapat emas, perak, perunggu. Jumlahnya sih kita gak bisa tentukan, ya, karena persaingannya memang ketat," kata Ridwan.
Ridwan mengatakan, persaingan medali diprediksi berlangsung sengit karena keterlibatan negara-negara yang memiliki pembinaan sains terstruktur.
"Kalau biasanya kita tuh negara ini ya, pertama Singapura, Cina, sama Vietnam itu kategorinya berat. Karena mereka memang sudah fokus, ya, ada sekolahnya yang memang ngurus matematika dan IPA," ujar dia.
3. Strategi peserta Indonesia
Dua wakil Indonesia di kategori SD, Kaindra Nadira Said Tama (SDG Bidang Manusia Jogja) dan Aiden Gracio (SD Witama Nasional Plus Pekanbaru), mengaku siap untuk berlaga di ajang internasional ini. Keduanya merupakan peraih medali emas pada Olimpiade Sains Nasional (OSN).
Aiden menceritakan pendekatannya dalam melatih logika berpikir untuk mengantisipasi soal-soal jebakan.
"Saya sih cuma belajar dan banyak diingatkan soal gitu, agar semakin lama, semakin terbiasa pakai cara-cara yang bermanfaat. Soal yang susah menurut saya, ya seperti soal yang saya memang belum pernah pelajari sama sekali," ujar Aiden.
Sementara Kaindra menyoroti pentingnya pemahaman konsep dasar serta peran vital orangtua selama proses latihan harian.
"Saya banyak latihan soal, drilling, dan juga coba cari-cari materi yang mungkin saya belum memahami asalnya dari mana. Orangtua saya juga bantu sih, kayak kasih support mental gitu," kata Kaindra.
Curated For You
- Penegakan Hukum Keracunan MBG Dipertanyakan, 11 Tokoh Bersuara21 Sep 2026, 07:00 WIB
- Kemendikdasmen Bantah Usul Pasal Agar Mudahkan Gibran Jadi Cawapres02 Oct 2026, 19:59 WIB
- [INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial 09 Sep 2026, 13:52 WIB
- Kemendikdasmen Sebut Pendidikan Menengah Gibran Setara dengan SMK02 Oct 2026, 18:14 WIB