Perkuat Pertahanan, AS Sepakati Kontrak Rudal SM-6 Rp436 Triliun

- Angkatan Laut AS meneken kontrak multitahun hingga US$24,4 miliar dengan Raytheon untuk pengadaan rudal SM-6, guna mengamankan pasokan amunisi pertahanan udara.
- Kontrak berlaku lima tahun dengan opsi dua tahun, menyusul menipisnya stok pencegat setelah operasi terhadap Iran dan serangan Houthi di Laut Merah.
- SM-6 terintegrasi sistem Aegis dan berperan ganda: mencegat pesawat, drone, rudal jelajah serta balistik tertentu, sekaligus menyerang kapal permukaan musuh.
Jakarta, IDN Times - Angkatan Laut Amerika Serikat menyepakati kontrak multitahun dengan Raytheon milik RTX untuk pengadaan pencegat rudal Standard Missile 6 atau SM-6. Kesepakatan pengadaan senjata tersebut bernilai hingga 24,4 miliar dolar AS atau setara Rp436,30 triliun (kurs Rp17.881). Pengadaan ini dilakukan guna mengisi kembali persediaan amunisi pertahanan udara yang terkuras setelah operasi militer baru-baru ini.
Dilansir The Times of India, kesepakatan ini diambil di tengah kekhawatiran atas penurunan cadangan inventaris rudal milik militer AS. Kebutuhan amunisi meningkat setelah militer AS menghabiskan banyak pencegat rudal dalam pertempuran terkini.
1. Kontrak lima tahun amankan pasokan rudal Angkatan Laut AS

USS Benfold luncurkan rudal SM-6 dalam latihan Valiant Shield 2022, Juni 2022. (U.S. Navy photo by Mass Communication Specialist 2nd Class Arthur Rosen, Public Domain, via Wikimedia Commons) Menurut laporan Defense News, kesepakatan pengadaan ini berlaku selama lima tahun dengan opsi tambahan selama dua tahun. Kontrak kerja sama tersebut dirancang untuk mengamankan suplai rudal SM-6 secara berkelanjutan bagi armada Angkatan Laut AS.
Rudal SM-6 sendiri merupakan amunisi multimisi yang dikembangkan oleh Raytheon khusus untuk sistem tempur Aegis milik armada laut. Selain dirancang sebagai sistem pertahanan udara jarak jauh, rudal ini juga dapat digunakan untuk menghadapi ancaman rudal balistik serta menyasar kapal permukaan musuh.
2. Stok amunisi terkuras akibat konflik militer di kawasan Timur Tengah

Kapal militer AS di Selat Hormuz (Official U.S. Navy Page from United States, Public Domain, via Wikimedia Commons) Kebutuhan mengisi kembali persediaan SM-6 menjadi kian mendesak menyusul kampanye militer AS terhadap Iran. Dalam pertempuran tersebut, pasukan AS menggunakan sejumlah besar pencegat pertahanan udara untuk menangkal rudal balistik, rudal jelajah, dan pesawat tanpa awak milik Iran.
Berdasarkan data Center for Strategic and International Studies (CSIS), inventaris SM-6 Angkatan Laut AS turut terpengaruh oleh pengeluaran amunisi selama perang Iran dan operasi sebelumnya menghadapi serangan kelompok Houthi di Laut Merah. Pengeluaran persenjataan tersebut membuat persediaan amunisi pertahanan armada laut berkurang secara signifikan.
CSIS memperkirakan proses pembangunan kembali inventaris rudal SM-6 dan SM-3 hingga mencapai tingkat sebelum perang dapat memakan waktu sekitar dua tahun. Selain itu, lembaga riset tersebut mencatat bahwa rudal-rudal tersebut membutuhkan waktu tunggu produksi atau lead time yang tergolong panjang.
3. Peran ganda rudal SM-6 untuk sistem pertahanan dan serangan

ilustrasi rudal (pexels.com/Aseem Borkar) RTX menjelaskan bahwa peran utama SM-6 mencakup perang anti-kapal, pertahanan rudal balistik, dan peperangan anti-udara. Fleksibilitas persenjataan ini memungkinkan armada militer menjalankan misi defensif sekaligus ofensif menggunakan satu jenis rudal yang sama.
Dalam peran defensif, rudal SM-6 mampu mencegat sasaran berupa pesawat terbang, sistem nirawak, rudal jelajah, hingga ancaman rudal balistik tertentu. Sementara pada sisi ofensif, amunisi ini dapat menyerang kapal permukaan musuh sehingga Angkatan Laut AS dapat melindungi armadanya sekaligus menyerang pasukan laut lawan.
RTX menyebut SM-6 memiliki kapabilitas ofensif dan defensif melampaui cakrawala atau over-the-horizon dengan pemandu radar aktif untuk fase akhir penargetan. Terintegrasi penuh dengan radar dan kendali tembak sistem Aegis, rudal ini mampu merespons ancaman yang dideteksi oleh sensor di luar kapal peluncur, sehingga memperluas area perlindungan kapal perang.


![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)


















